Oleh : Emi Sri Wahyuni

 

Lensa Media News–Berita menyayat hati ketika mendengar petani meninggal setelah pulang dari sawah miliknya. Dua petani melewati rerimbunan bambu saat mereka pulang dari sawah berboncengan naik motor di sore hari, kala itu cuaca hujan disertai angin kencang tiba-tiba bambu roboh dan menimpa mereka, satu petani meninggal di tempat dan satu lagi dilarikan ke RSUD Sayidiman Magetan dengan kondisi kritis.

 

Seperti dikutip dari Jawa Pos Radar Madiun – Magetan pada Minggu (21/4), petani berjuang menyambung hidup untuk keluarganya dengan pekerjaan mulia ini. Di tengah mahalnya harga bibit, juga sulitnya mendapat pupuk bersubsidi, ditambah hasil panen yang jauh dikata untung karena anjloknya harga hasil panen. Miris!

 

Kondisi petani sekarang sangatlah memprihatinkan. Sumber daya alam yang kaya dan tanah yang subur seharusnya menjadikan petani sejahtera tetapi nasib petani malah sebaliknya. Bahkan diketahui di Magetan sebanyak 14.000 orang termasuk dalam kategori miskin ekstrim dengan pendapatan sekitar Rp11.000/hari. Data ini bisa jadi lebih banyak karena masih banyak diluar sana yang tidak terdata dan bahkan untuk pendapatan yang jauh dibawah nilai 11.000/hari.

 

Petani harus bekerja keras dengan berbagai risiko. Segala upaya dilakukan untuk menekan biaya produksi seperti mendapatkan pupuk murah bersubsidi. Tapi alih-alih negara membantu dan memfasilitasi, yang didapat petani malah kerugian demi kerugian.

 

Benar kata pepatah ” Seperti kelaparan di lumbung padi sendiri” rakyat mati kelaparan padahal sumber daya alam melimpah. Disaat kekayaan alam itu hanya dikuasai oleh para kapital maka kekayaan itu hanya diperuntukkan untuk memperkaya diri sendiri.

 

Produk-produk pertanian yang merupakan kebutuhan pokok seluruh rakyat justru dijadikan alat para kapital untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya.

 

Inilah saatnya kembali kepada sistem Islam. Islam dengan sistem pertanian Islamnya akan menerapkan mekanisme pertanian sesuai aturan Allah. Sabda Rasulullah, “Kaum muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air, dan api.” (HR Abu Dawud dan Ahmad).

 

Jadi kekayaan alam yang menyangkut hajat hidup orang banyak wajib dikelola negara dan hasilnya dikembalikan lagi untuk kesejahteraan rakyat, bukan dikuasai oleh segelintir orang. Rasulullah juga bersabda : “…Imam ( Khalifah ) adalah raain ( pengurus rakyat ) dan dia bertanggung jawab terhadap rakyatnya “( HR. Ahmad, Bukhari ).

 

Pemerintah harus kembali kepada fungsinya yang sahih yaitu sebagai pelayan atau pengurus dan pelindung bagi rakyatnya. Karena itu pelayan negara harus bersih dari aspek bisnis. Negara tidak boleh abai terhadap pengurusan urusan rakyatnya, negara sebagai penanggungjawab seluruh kebutuhan rakyat bukan sebagai regulator yang menyerahkan urusan rakyat kepada swasta.

 

Pentingnya mempelajari ilmu agama agar wawasan luas dan memiliki cara berpikir yang cemerlang.  Bukan hanya persoalan petani, persoalan-persoalan urgent lainnya akan bisa diselesaikan dengan aturan yang bersumber dari Zat yang Maha Kuasa yaitu sistem Islam. Dan sistem ini hanya bisa diwujudkan melalui institusi negara yaitu negara Khilafah.

 

Islam menjamin rakyatnya dapat melakukan usaha termasuk petani, apalagi petani memiliki posisi strategis dalam menjamin ketersediaan bahan pangan dalam negeri dan merupakan kewajiban negara menjamin pemenuhan kebutuhan pangan seluruh rakyatnya. Sehingga tidak ada lagi kata petani sengsara atau kategori petani miskin ekstrim lagi, semua petani dan rakyat sejahtera dibawah kepemimpinan Islam.Wallahu’alam bishawab. [LM/ry].

Please follow and like us:

Tentang Penulis