Nasib Petani, Negara Tak Boleh Diam Diri

 

Isu impor beras di tengah panen raya petani dalam negeri bukanlah hal baru lagi. Penolakan dari para petani pun sudah pula berulang kali, karena impor beras akan membuat rendah harga jual gabah petani. Sementara dari pihak Bulog menyebutkan bahwa impor beras bukan penyebab rendahnya harga jual gabah petani, namun karena kualitas gabah yang terlalu basah sehingga tidak memenuhi standar Bulog.

Dalam kasus ini, petani pun tidak mampu berbuat banyak. Mereka bertani hanya dengan peralatan seadanya yang jauh dari canggihnya teknologi. Maka bukan hal yang aneh bila hasil panen mereka kurang baik dari segi kualitas. Sedangkan di luar negeri, semua aktifitas pertanian sudah hampir semuanya dilakukan oleh mesin. Sungguh ironis, pemerintah menginginkan hasil panen maksimal namun upayanya minimal.

Produksi pangan dalam negeri adalah salah satu hal yang harus menjadi prioritas pemerintah. Karena bukan hanya menyangkut ketersediaan dan ketahanan pangan nasional, pertanian yang kuat akan membuat bangsa menjadi kuat pula. Oleh karena itu, pemerintah yang merupakan pelayan ummat (rakyat) sudah sepantasnya mulai melakukan langkah serius untuk masalah pertanian ini. Mulai dari menjamin ketersediaan bibit unggul, pupuk, pestisida, alat-alat pertanian yang menunjang, juga menjaga kelestarian lahan pertanian dari gerusan lahan properti, serta edukasi untuk para petani agar ilmunya terperbaharui.

Bukan semata untuk memajukan pertanian dalam negeri, namun lebih untuk dalam rangka pelaksanaan kewajibannya di hadapan Sang Pencipta yaitu Allah SWT. Bukan semata karena takut pangan nasional lemah, namun lebih untuk dalam rangka ketakutannya kepada pertanggungjawaban kelak di akhirat. Wallahu a’lam bishawaab

Mika Sawayaka
Bantul, Yogyakarta

Please follow and like us: