Jago Kandang atau Melanglang?

Oleh: Hasni Tagili

 

Rabu Bersama Cikgu 10 – Secara etimologi, kata “media” berasal dari bahasa Latin, yaitu “medius” yang artinya tengah, perantara atau pengantar. Istilah “media” pada umumnya merujuk pada sesuatu yang dijadikan sebagai wadah, alat, atau sarana untuk melakukan komunikasi.

Sedangkan secara istilah, media diartikan sebagai segala bentuk saluran yang dapat digunakan untuk menyampaikan informasi atau pesan.

Berangkat dari definisi ini, media dibedakan menjadi beberapa jenis.

Berdasarkan bentuk:
🔖 Media cetak: sarana media massa yang dicetak dan diterbitkan secara berkala. Contohnya surat kabar, majalah, buku, pamflet, brosur, poster dan spanduk.

🔖 Media elektronik: media yang menampilkan bentuk komunikasi melalui tulisan, gambar, dan suara. Contohnya televisi, Internet, dan radio.

Berdasarkan geografi:
🔖 Media nasional: media yang tidak terikat dengan wilayah teritorial tertentu di Indonesia, baik cetak maupun elektronik. Contoh: Media Indonesia, Republika, Radarindonesianews.com, Lensamedianews.com, Linimasanews.com, Nusantaranews.net, dll.

🔖 Media lokal: media yang terikat dengan wilayah teritorial tertentu di Indonesia, baik cetak maupun elektronik. Contoh: Radar Bogor, Kendari Pos, Tegas.co, Mediasulsel.com, Harianaceh.com, Minangkabaunews.com, Bonepos.com, dll.

Berdasarkan ideologi:
🔖 Media mabda’i: media yang memuat tulisan opini beserta dengan solusi Islam.

🔖 Media nonmabda’i: media yang memuat tulisan opini hanya sampai analisis. Solusi Islam cenderung dianulir.

Nah, lantas setelah menulis, idealnya tulisan dikirim ke media mana? Sebelum menekuni tulisan opini secara serius, saya biasa ngirim opini ke media luar Sulawesi Tenggara. Pikiran pendek saya saat itu, enak kali ya kalau tulisan jalan-jalan keliling Indonesia 😅 Pun, sebaran media bisa lebih variatif. Mata yang membaca tulisan saya juga akan lebih banyak.

Namun, pikiran saya berubah setelah seiring berjalannya waktu. Mengapa harus fokus ke media lokal di daerah kita sendiri? Karena kekuatan sebagai opini umum akan terlihat kalau media dan penulis daerah juga menunjang.

Sehingga, seorang penulis yang bermukim di wilayah tertentu seyogianya memaksimalkan media lokal di daerahnya. Tidak menikung wilayah orang. Sebab jika menyeberang, urgensi arusnya akan dipertanyakan. Kenapa penulis di wilayah A mengirim tulisan ke media di wilayah B (duh maafkeun yang pernah saya kasih saran nyebrang – nyebrang media lokal di daerah orang lain 🙈🙏)

Padahal, idealnya, penulis di wilayah A mengirim tulisan ke media A. Begitu seterusnya. Karena tujuan menyuarakan Islam seyogianya didukung oleh penerapan nyata di masing-masing daerah.

Kalau misalnya opini tidak ter-cover di media lokal wilayah kita, maka silakan dialihkan ke media nasional nonmabda’i. Paling akhir, baru ke media nasional mabda’i.

Saya dan teman-teman penulis asal Sulawesi Tenggara juga sementara berbenah. Alhamdulillah, sampai hari ini sudah ada 6 orang yang berhasil tembus media cetak lokal nonmabda’i. Senangnya luar biasa setelah berbulan-bulan mencoba 😁

Saya berharap, teman-teman di provinsi lain juga bisa melakukan hal yang sama ❤️✊

 

[LM] 

Please follow and like us: