Welcome Back Hagia Sophia

Oleh: Ria Asmara

 

Lensa Media News – Jumat, 10 Juli 2020 dunia terhentak. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengumumkan Hagia Sophia dibuka kembali menjadi masjid. Keputusan Erdogan ini disampaikan setelah pengadilan tinggi memutuskan konversi bangunan menjadi museum pada 1934 adalah ilegal. 

Keputusan ini dikecam oleh banyak pihak. Uni Eropa, termasuk Yunani, Perancis dan Amerika Serikat (AS) telah melayangkan kritik serius terhadap keputusan Turki. Karena menimbulkan kekhawatiran akan masa depan Hagia Sophia yang pernah menjadi tempat ibadah umat Kristiani dan sudah menjadi salah satu situs warisan dunia UNESCO.

Bahkan, Sri Paus Fransiskus pada Minggu (12/7/2020) mengatakan bahwa dia ‘sangat sedih’ atas keputusan Turki yang mengubah monumen era Bizantium, Hagia Sophia kembali menjadi masjid. (kompas.com, 12/7/2020)

Sesungguhnya, kecaman dan kesedihan itu tidak perlu terjadi. Karena apa yang dilakukan Erdogan dengan kekuasaannya hanyalah mengembalikan setatus Hagia Sophia pada yang seharusnya. Mulanya, Hagia Sophia memang dibangun sebagai gereja Church of Holy Spirit atas perintah Kaisar Bizantium Justinian I pada abad ke-6.

Namun pada 1453, saat Sultan Ottoman Mehmed II (Muhammad Al Fatih) membebaskan Konstantinopel (Istanbul) dari kekuasaan Kekaisaran Bizantium, kemudian mengubah bangunan itu menjadi masjid. Beliau juga menambah sejumlah fasilitas untuk mendukung ibadah, seperti mimbar, mihrab, air untuk wudu, menara dan sebagainya. 

Pengalihan Hagia Sophia menjadi masjid, bukan dirampas begitu saja oleh Muhammad Al Fatih.  Meskipun saat itu beliau sebagai seorang penakluk yang bisa saja merampas semua kepemilikan orang-orang Kristen, baik atas nama ghanimah, fai’ maupun anfal. Tetapi, Muhammad Al Fatih tidak melakukannya. 

Ketika beliau memasuki Konstantinopel, dan masuk ke Hagia Sophia, justru beliau mengumumkan jaminan keamanan kepada para penduduknya. Begitu mulianya sosok Muhammad Al Fatih. Hagia Sophia tidak dirampas semena-mena, tetapi dibeli dengan uang pribadinya. Kemudian dijadikan masjid dan diwakafkan untuk umat hingga hari kiamat.

Pengamat internasional Hasmi Bakhtiar di akun twitternya, Ahad (12/7/2020), menunjukkan bukti bahwa Hagia Shopia itu sudah dibeli oleh Sultan Muhammad al Fatih saat membebaskan Konstantinopel. “Ketika Muhammad Al Fatih menaklukkan Konstantinopel, sebelum melaksanakan salat Jumat pertama di Hagia Sophia, Al Fatih membeli Hagia Sophia kepada petinggi gereja ketika itu dengan uang pribadinya. Ini dokumennya sampai sekarang masih disimpan rapi di pusat arsip Turki di Ankara.” (portal-islam.id, 12/7/2020)

Akan tetapi, pada 1943 di bawah Republik Turki di masa kepemimpinan Presiden Mustafa Kemal Attaturk yang beraliran nasionalis sekuler. Status masjid ini kembali diubah,  Hagia Sophia yang merupakan wakaf ditetapkan sebagai museum. Ini dosa besar Attaturk berikutnya setelah revolusi kufurnya meruntuhkan khilafah dan mengganti dengan Republik.

Jika saat ini setelah 86 tahun, azan kembali berkumandang di Hagia Sophia, maka tidak ada satu pihak pun yang berhak untuk mengecam. Karena Hagia Sophia hanya kembali kepada status aslinya yaitu sebagai masjid wakaf. Apa yang diputuskan oleh pengadilan Turki sudah tepat secara hukum. Hagia Sophia memang milik umat Islam. Karena sudah dibeli oleh Muhammad Al Fatih.

Kembalinya status Hagia Sophia menjadi berita gembira bagi kaum muslim di seluruh penjuru negeri. Mata dunia terpaku. Sejarah kejayaan Islam kembali terkuak. Sejarah kegemilangan khilafah Islamiyah kembali diperbincangkan. Kehebatan Muhammad Al Fatih sebagai pemimpin terbaik dari pasukan terbaik penakluk konstantinopel kembali diimpikan. Welcome back Hagia Sophia, kembalimu memompa semangat menjemput bisyarah kedua, menaklukkan Kota Roma.

Wallahu a’lam.

 

[ln/LM] 

Please follow and like us:

Tentang Penulis