Adab Komunikasi dengan Media

Oleh: Hasni Tagili

 

#Rabu Bersama Cikgu 09

1. Media dan Penulis

Secara etimologi, kata “media” berasal dari bahasa Latin, yaitu “medius” yang artinya tengah, perantara atau pengantar. Istilah “media” pada umumnya merujuk pada sesuatu yang dijadikan sebagai wadah, alat, atau sarana untuk melakukan komunikasi.

Sedangkan secara istilah, media diartikan sebagai segala bentuk saluran yang dapat digunakan untuk menyampaikan informasi atau pesan.

Penulis adalah orang yang menulis (dalam hal ini freelance writer atau penulis lepas).

Pada perkembangannya, media dan penulis saling mendukung satu sama lain. Media memberikan bahan berita untuk ditulis oleh penulis, sedangkan penulis menulis sesuatu untuk dikirimkan dan ditayangkan oleh media.

Tentunya, untuk bisa saling terhubung dan saling mendukung, media dan penulis membutuhkan komunikasi sebagai jembatan.

Pun, komunikasi yang dimaksud tak boleh kering dari adab. Mengapa? Sebab, dari adab lah akan terlihat gambaran karakteristik media atau penulis (meskipun ini bukan patokan mutlak).

2. Urgensi Adab

Berkata Adz-Dzahabi rahimahullahu,

كان يجتمع في مجلس أحمد زهاء خمسة آلاف – أو يزيدون نحو خمس مائة – يكتبون، والباقون يتعلمون منه حسن الأدب والسمت

Yang menghadiri majelis Imam Ahmad ada sekitar 5000 orang atau lebih. 500 orang menulis (pelajaran) sedangkan sisanya hanya mengambil contoh keluhuran adab dan kepribadiannya.” (Siyaru A’lamin Nubala’ 21/373, Mu’assasah Risalah, Asy-syamilah).

Masyaallah, dari 5000-an orang yang hadir, 500 orang mempelajari ilmu dan 4500 orang mempelajari adab.

Poinnya apa? Dalam hal apapun, saya percaya, adab harus lebih diutamakan. Supaya apa? Supaya muamalahnya berkah.

Demikianlah dicontohkan oleh para ulama kita. Adab dulu, baru ilmu. Begitupun dalam dunia tulis-menulis. Dalam dunia jurnalistik. Orang akan lebih tertarik mendalami apa yang kita tulis tatkala kita menyampaikan tulisan secara beradab.

Hal ini termasuk adab-adab yang kita terapkan ketika mengirimkan tulisan ke pihak media.

3. Do and Do Not

Menjalin komunikasi dengan media, lakukan hal berikut:

🔖 Pelajari karakter media sebelum mengirim tulisan. Hal ini erat kaitannya dengan jalur pengiriman tulisan (apakah lewat email atau WA), syarat tayang tulisan, rubrik apa saja yang tersedia, penerimaan mereka terhadap konten Islam, dan apakah kalau tulisan kita tayang akan dikabari redaksi atau harus memantau sendiri.

Intinya, jangan malas cari informasi di beranda media yang kita tuju.

🔖 Idealnya, 1 tulisan dikirim ke 1 media. Kalaupun mau diperuntukkan untuk beberapa media dengan tema yang sama, sebaiknya ganti judul dan ubah sudut pandang tulisan. Biar nggak sama persis dengan tulisan sebelumnya.

🔖Tulisan berupa opini, cerpen, atau puisi sebaiknya dikirim dalam bentuk lampiran (Ms. Word). Mengingat, tulisan-tulisan tadi sekitar 2000 karakter ke atas.

Pun, di badan email atau badan WA, awali dengan kata pengantar. Ibarat mau bertamu ke rumah orang, masa’ kita main nyelonong masuk 😅

Catatan:
Kecuali kalau kirim SP, tidak perlu kata pengantar.

🔖Jika tulisan tadi direncanakan akan dialihkan ke Media A kalau misalnya tidak tayang di Media B, maka perhatikan baik-baik nama redaksi medianya. Jangan sampai kita hanya kopas nama media sebelumnya tanpa mengubah terlebih dahulu. Alamat bisa dicap aneh nanti 🤭

Pun, sebelum mengalihkan tulisan, kirimkan email penarikan ke media yang bersangkutan.

Menjalin komunikasi dengan media, jangan lakukan hal berikut:

🔖Jangan langsung panik mau menarik tulisan karena belum tayang, padahal baru sehari lalu dikirim.

Dalam konstelasi media dengan editing ketat, pertama, tulisan akan di-forward dari sekred (sekretaris redaksi) ke redpel (redaksi pelaksana). Di tahap ini, redpel melakukan verifikasi (apakah layak tayang atau tidak). Selanjutnya, masuk ke editor dan desgraf (desain grafis). Terakhir, masuk ke blogger untuk di-posting ke website. Jadi, 1 tulisan itu membutuhkan waktu 3-5 hari untuk bisa tayang.

Kecuali sampai seminggu tidak ada kabar, maka silakan ditanyakan. Sebab, bisa jadi tulisan tadi terselip. Ketimpa dengan banyaknya email atau chat yang masuk 😊

🔖Jangan mengirim email atau WA tengah malam (sesuaikan dengan jam kerja). Terlebih, akan sangat tidak nyaman jika adminnya adalah lawan jenis dan masih on tatkala kita mengirim tulisan. Jangan sampai mengundang percakapan terlarang 🙏

🔖Jangan mengirim 1 tulisan untuk ditembuskan ke banyak media. Nggak sopan. Idealnya, 1 tulisan untuk 1 media.

🔖Jangan ‘maksa’ tulisan ditayangkan, baik kenal maupun tidak dengan salah satu kru media. Bersabar ikuti prosedur. Nggak apa dicap protokoler. Toh protokoler itu beradab kok 😁

Saya pribadi, dari dulu sampai sekarang, paling anti kalau disuruh SKSD atau cari-cari muka sama media. Prinsip saya, saya ingin dikenal dunia karena karya. Bukan karena backing, orang dalam, atau hasil ‘menjilat’. Naudzubillah, tsumma naudzubillah.

Makanya pencapaian saya hari ini bisa dibilang dimulai dari nol besar. Dikumpulkan puing demi puing. Ditempa dari ujian yang tidak sedikit. Itu semua pada akhirnya mampu mengantar saya untuk bisa berdikari, berdiri di atas kaki sendiri. Harapan saya, teman-teman juga mencapai hal yang demikian 😊.

 

[LM]