Premanisme Tumbuh Subur di Alam Kapitalisme

Oleh: Sholihah, S.Pd
(Institut Kajian Politik dan Perempuan)

 

Lensa Media News – Fenomena premanisme di Indonesia bukan hal asing lagi. Mulai kelas bawah hingga kelas atas pernah kita temukan aksi premanisme. Eksistensi dan keberanian mereka makin terakui dengan berulangkali keluar-masuk jeruji. Hukuman penjara tampaknya tidak memberikan efek jera, malah semakin merajela. Bukan tanpa sebab, semua itu terjadi pasti ada biangnya.

John Kei kembali berulah bersama kelompoknya. Padahal, John Kei baru 6 bulan dibebaskan dari Lapas Nusa Kambangan. John Kei pun kembali berurusan dengan polisi. Pria berusia 50 tahun itu diduga terlibat penyerangan disertai aksi koboi di Grand Lake City, Tangerang, Banten, dan pembacokan di Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat, Minggu siang 21 Juni 2020 (m.liputan6.com, Rabu, 24 Juni 2020).

 

Alam Kapitalisme Biangnya

Kapitalisme sebagai sistem kehidupan, kini tengah diadopsi oleh negara-negara di dunia, termasuk Indonesia. Wajar, karena Indonesia masih berada dalam kendali negara adidaya pengemban sistem kapitalisme, yakni Amerika Serikat.

Sistem kehidupan ini menjadikan standar kebahagiaan manusia adalah materi, baik berupa harta, kedudukan dan pujian. Meski sebagian orang tidak paham bahwa yang mereka ikuti adalah sistem kapitalisme, tetapi sistem ini sudah merasuk dalam diri setiap orang. Tanpa disadari telah mengatur setiap sendi kehidupan mereka. Secara otomatis, sistem ini pun mempengaruhi cara penyelesaian seseorang dalam setiap masalah yang dihadapinya.

Akidah kapitalisme adalah sekulerisme. Sekulerisme menjadikan manusia menyelesaikan setiap problem kehidupannya tanpa dipengaruhi oleh agama. Sehingga tidak lagi mempedulikan halal-haram. Hukuman dalam sistem kapitalisme juga tidak memberikan efek jera kepada setiap narapidana, termasuk narapidana premanisme. Banyak celah yang menjadikan hukum menjadi tumpul untuk menyelesaikan masalah premanisme. Mulai dari hukuman yang terlalu ringan, adanya salam tempel kepada pihak dalam, maupun program-program yang meringankan hukuman seperti asimilasi, dan sebagainya.

 

Menumpas Premanisme

Jika sistem kapitalisme-sekulerisme adalah biang dari tumbuh suburnya premanisme, maka solusi jitu untuk menyelesaikannya adalah dengan mencampakkan sistem ini. Tidak layak manusia hidup di alam kapitalisme. Meski dalam kapitalisme sekulerisme, agama tidak dilarang, namun agama dipisahkan dari kehidupan. Ini tidak fair bagi manusia sebagai seorang makhluk, yang harus menjadikan tuntunan yang ada di dalam agamanya sebagai pedoman hidup.

Seorang muslim yang menjadikan agama Islam sebagai pedoman hidup dan standar perbuatannya, akan mencari nafkah dari jalan yang halal sebab itu kewajiban. Dia pun tidak akan melakukan tindakan kekerasan dan kriminal, sebab dilarang. Hukuman yang ada dalam Islam berlaku konstan. Tidak ada tawar-menawar dan tidak ada banding, terlebih hukuman dalam Islam ada efek jera dan penebus dosa.

Hukum Islam membawa rahmat, tidak hanya untuk muslim tapi juga non muslim. Jika kapitalisme sekulerisme dicampakkan, aturan dan hukum Islam diterapkan maka premanisme akan bisa diselesaikan hingga ke akarnya. Melalui 3 pilar utama, yakni individu yang taat aturan islam, masyarakat yang memiliki standar control social yang sama, dan negara sebagai penjaga dengan memberlakukan aturan Islam dan memberikan sanksi yang tegas bagi setiap jiwa yang melanggar.

Wallahu’alambishowab.

 

[lnr/LM]