Mengajari Anak Hidup Hemat

Oleh: Sri Purwanti, Amd.KL
(Founder RumBa Cahaya Ilmu) 

 

Parenting – Sebagai keluarga muslim, sebaiknya segala aktivitas yang dilakukan selalu berdasarkan pada syariat Islam. Termasuk dalam mengatur keuangan. Seorang muslim tidak boleh bersikap boros, meski juga tidak boleh kikir. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Isra [17]: 26-27, yang artinya, ”Janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu)secara boros. Sesungguhnya pemboros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan sangar ingkar kepada Rabbnya.”

Hemat dalam KBBI artinya berhati-hati dalam membelanjakan uang, tidak boros, cermat. Sebagai orang tua tentu kita berharap anak-anak kita bisa tumbuh menjadi anak yang menerapkan gaya hidup hemat. Hal ini akan mempengaruhi cara mereka mengelola keuangan bahkan ketika nanti mereka dewasa. Pola hidup hemat harus diajarkan sedini mungkin, supaya menjadi habits.

Mengajarkan hal baru termasuk perilaku hidup hemat kepada anak memang bukan perkara yang mudah, namun kita bisa mencobanya mulai dari hal yang sederhana.

Pertama, memahamkan kepada anak bahwa rezki adalah titipan dari Allah. Dan Allah tidak menyukai perilaku boros. Hidup hemat adalah salah satu bentuk rasa syukur atas rezeki yang telah Allah berikan kepada kita.

Kedua, mengajak anak membuat skala prioritas. Ini dapat di sesuaikan dengan usia mereka. Untuk anak usia balita, orang tua bisa mengajak anak membuat list barang yang mereka inginkan serta menjelaskan fungsi dan manfaatnya. Kemudian memberi opsi untuk memilih salah satu dari semua yang tercatat di list, mendahulukan mana yang lebih penting.

Ketiga, orang tua memberikan contoh secara langsung, dengan menghindari pola hidup konsumtif. Anak adalah peniru ulung yang akan meniru apapun yang dilihat dari orang tuanya. Orang tua perlu menghindari membeli yang mereka sukai tetapi sebenarnya kurang diperlukan. Harus bisa membedakan mana need dan mana wish.

Keempat, memberikan pemahaman kepada anak tentang fungsi uang, konsep belanja, menabung dan berbagi dengan sesama. Sehingga anak akan memiliki gambaran yang tepat tentang cara menggunakan uang yang dimiliki.

Kelima, mengajak anak untuk suka berbagi. Kita bisa memberikan informasi mengapa harus berbagi, menjelaskan bahwa kondisi orang berbeda-beda. Ada yang hidup berkecukupan, namun ada pula yang hidup kekurangan. Anak juga perlu dipahamkan bahwa sedekah bisa menyucikan harta, karena sesungguhnya dalam rezeki kita ada hak orang lain. Hal ini selain untuk mengajari hidup hemat, sekaligus menanamkan rasa empati terhadap sesama.

Keenam, mengajarkan anak hidup sederhana. Seperti roda yang berputar begitulah kehidupan kita. Tidak selamanya kita akan berada pada posisi yang nyaman. Adakalanya Allah uji dengan kekurangan. Jika anak terbiasa hidup mewah ketika kondisi keuangan kita tercukupi, maka mereka akan syok ketika kita sedang terpuruk. Namun anak yang dibiasakan hidup sederhana sejak awal dampak itu tidak akan begitu terlihat.

Ketujuh, mengajak anak untuk belajar menabung. Kita bisa menyediakan celengan untuk tempat mereka menyimpan sebagian uang sakunya. Memberikan penjelasan tentang manfaat menabung, salah satunya adalah untuk kebaikan masa depan. Sebagaimana sabda Rasulullah yang artinya; “Simpanlah sebagian dari harta kamu untuk kebaikan masa depan kamu, karena itu jauh lebih baik bagimu.” (H.R Bukhari).

Anak yang diajari hidup hemat sejak dini akan tumbuh menjadi pribadi yang teguh pendirian, matang pemikiran. Ketika konsep ini sudah tertanam kuat dalam benak anak, maka mereka akan menjadi generasi yang tangguh, dan tidak mudah tergoda dengan gemerlapnya dunia.

Wallahu a’lam

 

[LM]