Jelang Ramadan Harga Bahan Pokok Makanan Naik, Ada Apa?

Oleh: Umi Diwanti

 

LensaMediaNews – Sebagaimana biasa setiap momen hari tertentu harga barang akan mengalami kenaikan. Sebagaimana saat ini, jelang Ramadan kali ini pun kembali dihiasi berita dan fakta kenaikan sebagian besar harga sembako. Menurut detik.com (11/4) bawang merah, cabe rawit hijau, cabe merah keriting dan daging sapi murni mengalami kenaikan paling tinggi. 

Fakta yang terjadi, di wilayah tempat tinggal saya (Martapura Kalsel) beras dan gula pun mengalami kenaikan harga. Hal ini pun sudah menjadi realitas pahit yang harus ditelan umat setiap tahun jelang bulan Ramadan setiap tahun.

Banyak hal yang biasanya dijadikan alasan kenaikan. Mulai dari stok, efek musim, hingga kendala distribusi. Jika sudah begitu seolah semua kenaikan adalah kewajaran. Padahal ini efek ada sesuatu yang terjadi di negeri ini.

Harga barang naik itu biasa. Jika persediaan terbatas permintaan banyak harga otomatis akan naik. Ini sunatullah alias sudah merupakan hukum alam penetapan harga. Masalahnya adalah mengapa kejadian ini terus berulang padahal bisa dipelajari dan diantisipasi. Tetu saja oleh pemegang kebijakan. Bukan individual rakyat.

Kejadian di tahun lalu sudah semestinya dievalusi dan diperbaiki agar tak terjadi lagi tahun ini. Jika penyebabnya karena permintaan jelang Ramadan meningkat, sudah seharusnya stok diperbanyak. Pertama, negara bisa mengarahkan para petani atau produsen untuk mengelola tanahnya maksimal di bulan-bulan jelang Ramadan. Kedua memastikan tidak ada penimbunan oleh para spekulan. Lakukan sidak (pemeriksaan mendadak) dan beri sanksi tegas pada setiap pelaku. Ketiga, menyiapkan fasilitas distribusi yang mumpuni.

Dengan upaya maksimal penguasa, niscaya tidak akan terjadi kenaikan harga yang terus berulang. Jadi jika ditanya ada apa di balik kenaikan sembako setiap jelang Ramadan. Jawabannya adalah, ada penguasa yang lalai dalam riayah suunil ummah. Alias lalai dalam mengurusi urusan rakyatnya.

Hal ini bukanlah kebetulan melainkan karakter asli sebuah sistem pemerintahan kapitalis sekuler. Sistem yang berasas pada pandangan hidup kebebasan. Termasuk kebebasan berkepemilikan. Siapa punya uang boleh beli apa saja dan yang tidak punya silakan hanya menonton saja.

Demikianlah hasil tata aturan hasil buah pikir manusia yang meniadakan peran Allah swt. Jauh berbeda dengan sistem Islam yang menjadikan penguasa sebagaimana penggembala. Wajib mengurus urusan rakyatnya terlebih dalam hal pemenuhan kebutuhan pokok rakyat.

Jangankan sebagian besar rakyat yang terkendala, bahkan setiap perut rakyat akan sangat diperhatikan oleh seorang khalifah. Bahkan tak hanya sampai apakah perut rakyatnya bisa terisi hari ini, tapi juga apakah yang mengisi rakyatnya adalah benda halal atau bukan.

Kebutuhan rakyat sangat terpelihara dalam sistem pemerintahan Islam tak lain karena para pemimpinnya terikat dan taat pada syariat. Salah satunya dari sabda Rasulullah yang berbunyi, “Tidak beriman seseorang yang dirinya kenyang, sementara tetangganya kelaparan.” (HR. Muslim)

Agar amanah sebagai pelindung dan penjamin kehidupan rakyat bisa terpenuhi para pemimpin kaum muslimin tidak pernah kecuali menjalankan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Hasilnya, selama kurang lebih 14 abad kaum muslimin hidup dalam kecukupan dan keberkahan. Jikapun sesekali mengalami paceklik, itu tidak pernah terjadi berulang kali seperti yang terjadi hari ini.

Wallahu’alam. 

 

[ln/LM] 

Please follow and like us:

Tentang Penulis