Tetap Ideologis di Tengah Pemberitaan Hoaks

Oleh : DR. Suryani Syahrir, ST., MT.
(Dosen dan Pemerhati Generasi)

 

1stEvenLensaMedia – Tiba-tiba tubuhku terkulai lemas, bulir hangat di sudut netra akhirnya luruh tak tertahan setelah membaca pesan singkat di whatsapp grup (WAG) sehabis sarapan pagi. Telah meninggal dunia nak Galang tadi pagi pukul 07.15 wita. Kucoba meyakinkan diri ini dengan membuka pesan singkat yang masuk beruntun. Ya benar… anak shalih itu telah berpulang ke Sang Pencipta. Innalillahi wa innailaihi rojiun, sambil bersandar di tembok, aku mencoba mengingat kejadian kemarin pagi ketika umminya membonceng anak shalih itu ke rumah sakit.

Belum hilang rasa sedih itu, keesokan harinya beredar di WAG suami tentang pemberitaan di koran online terkait Pasien Dalam Pengawasan (PDP) yang meninggal dunia di sebuah Rumah Sakit rujukan covid-19. Salah satu pasien yang diberitakan tersebut adalah nak Galang. Kejengkelanku bertambah ketika membaca berita tersebut. Bagaimana tidak, berita yang ditulis hampir semuanya bohong.

Kok, media sekarang senang sekali membuat berita bohong ya?, apa gak takut dosa? ujarku mengomentari berita dalam bentuk screenshoot yang muncul di menu chat whatsapp kiriman salah seorang teman suami. Berita yang mana?, kata suami mencoba menenangkan aku yang lagi uring-uringan. Itu Bah, berita tentang pasien PDP yang meninggal dunia kemarin, lanjutku sambil sesekali mengusap airmata yang masih kadang jatuh jika ada chat teman yang masuk di aplikasi berwarna hijau tersebut.

Rasanya para jurnalis sudah kehilangan idealisme bahkan empati demi mengeruk sedikit rupiah. Keluarga yang ditinggal masih berduka, kini beban psikologi bertambah dengan berita bohong tersebut. Standar Operasional Prosedur (SOP) penanganan jenazah covid-19 yang membuat energi terkuras karena tidak sebagaimana lazimnya jenazah diperlakukan, kini mereka harus dihadapkan pula pada penolakan warga di beberapa tempat terkait penguburannya.

Pun berita-berita hoaks seputar wabah ini terus beredar tanpa batas di dunia maya dan dunia nyata, menambah kepanikan masyarakat di tengah terpuruknya kondisi ekonomi negeri ini. Terlebih di era digitalisasi saat ini, media online melesat dengan hanya satu kali klik. Jika kita sebagai pengguna, tidak dibekali ilmu dan iman, maka kebohongan akan terus merajalela tanpa bisa dikendalikan.

Alhamdulillah dipertemukan dalam suatu kelas menulis online yang digawangi oleh seorang ustadzah ideologis, membuat aku merasa terpanggil untuk ikut menyuarakan kebenaran via dunia literasi. Tidak hanya mentransfer ilmu bahkan dibuatkan suatu wadah untuk mensupport para penulis ideologis agar terus menyuarakan kebenaran Dien ini. Wadah tersebut yakni http://lensamedianews.com dengan visi mencerahkan pemahaman umat dengan Islam paripurna sebagai obat.

Ketika pertama kali mengirim tulisan ke lensamedianews.com, sempat deg-degan karena takut tidak termuat. Alhamdulillah mendapat balasan e-mail agar merevisi tulisan yang melebihi karakter yang sudah ditentukan. Setelah merevisi, akhirnya tulisan opini perdanaku tayang dengan judul Pragmatisme, Solusi atau Ilusi?. Alhamdulillah senangnya.

Semoga ke depan founder dan seluruh kru serta para member diberi kesehatan dan tetap istikamah menebar kebaikan di tengah-tengah umat dengan konten tulisan yang mencerdaskan umat. Karena niatnya semata-mata karena Allah, sehingga insyaallah para penulis ideologis akan jauh dari pemberitaan hoaks.

Wallahualam.

 

[LM] 

Please follow and like us: