Menggugat Peran Pers di Era Digitalisasi

Oleh : Khaulah Binti Suri

 

1stEvenLensaMedia – Aku terperangah melihat senja sore ini, entah mengapa ada gejolak rasa yang menuntut ku untuk kembali pada masa putih abu-abu, dimana aku menemukan duniaku dengan membaca karya fiksi lalu menulis setiap ide yang bermunculan untuk dijadikan tulisan.

Namun, karena saking senangnya dengan dunia literasi, sampai-sampai aku melakukan banyak pelanggaran, aku menjadi tak ingat waktu, ketika waktu belajar dimulai, aku mulai beraksi, mengeluarkan buku pelajaran untuk dijadikan tameng persembunyian novel.
Hingga suatu waktu pak guru menegurku, aku diberi hukuman dengan meresum tugas biologi dengan deadline satu hari.

Mengingat semua itu, aku tersenyum malu, aku beranjak dari pelataran rumah, meninggalkan senja untuk kembali mengerjakan tugas dari cikgu Susi, dua Minggu yang lalu cikgu Wida memasukkanku dalam grup WhatsApp, grup yang kembali menarik ku dalam dunia literasi, banyak tantangan tugas disana, yang memaksaku untuk kembali berseteru dengan waktu, mengejar deadline yang ditentukan.

Hingga suatu hari, Tuing Tuing.. muncullah notifikasi, tanda ada pesan masuk, aku beranjak meraih ponselku, kulihat ada pesan pengumuman akan adanya kompetisi menulis di lensa media news, dalam rangka mengenang setahun perjalanan media ini di jagad literasi, para kompetitor diminta menyajikan sebuah tulisan dengan syarat yang ditentukan.

Tiba-tiba, ( tet tet tet… )
Suara klakson motor tukang sayur berbunyi sangat nyaring, aku bergegas keluar untuk membeli beberapa bahan pangan, ibu-ibu tampak sudah berkumpul ramai di sana, kebiasaan yang mudah ditebak, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, sekali kumpul di tukang sayur, dua tiga isu terbaru dibabat habis jadi bahan omongan.

Aku menyenggol pelan bahu Bu Risma, seorang pegawai negeri sipil yang melek berita, kutanyakan kebenaran berita THR ASN yang akan dipotong, dan Bu Risma pun hanya tersenyum simpul, dan berkata simpel “saya masih belum menemukan berita yang terpercaya mbak,” aku hanya mengangguk pelan sebagai balasan.

Aku bergegas pulang dengan menenteng kresek berisi sayuran, aku masuk kamar lalu mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja belajar, aku harus gerak cepat, peran pers di era digitalisasi memang kudu digugat, sebab banyak berita yang justru membuat pemahaman umat tersesat.

Media online memang sedang digandrungi oleh masyarakat jaman sekarang, karena mudah di akses dimana pun dan kapanpun. Peran pers disini sebagai jembatan penghubung antara penulis dan pembaca, ketika penulis mengirim naskah, redaktur harus super teliti mengoreksi tulisan, mencari tahu kebenaran berita yang disajikan, jika fakta yang dimuat kurang meyakinkan, jangan ditayangkan.

Semua kudu melalui proses penyaringan yang optimal, agar ketika sampai di tangan pembaca, pembaca bisa terpaham kan dengan pemahaman yang benar, jadi media ini bisa berfungsi seutuhnya.

Selesai, akhirnya aku bisa menuangkan segala keresahan yang mengganggu, semoga esok peran pers bisa menjadi pijakan umat untuk memperdalam pemahaman.

Aku tersenyum lega, aku beranjak meninggalkan kamar, untuk kembali mengeksekusi bahan belanjaan, karena peran ku disini adalah menyajikan makanan untuk memenuhi hajatul udwiyah.

Sebab, semua harus berusaha mengoptimalkan masing-masing peran sesuai kapasitas Nya.

 

[LM] 

Please follow and like us: