Khilafah dan Jihad, Sejarah yang Berulang

Oleh : Silvi Ummu Azyan

(Member Pena Muslimah Bogor)

 

LensaMediaNews— Umat Islam senantiasa terus diuji, keistiqomahan sejauh mana dalam mempertahankan eksistensinya. Ibarat tubuh manusia, organ tubuhnya berusaha untuk dipatahkan satu persatu. Belum usai membuat keputusan yang sangat menyinggung hati dan perasaan umat Islam. Tentang wacana pendataan majlis taklim, pelarangan cadar dan celana cingkrang. Ternyata tidak cukup puas sampai di situ saja, kali ini mereka berencana menghapus materi jihad dan Khilafah yang selama ini masuk dalam mata pelajaran di madrasah.

Meski dalam tataran praktiknya sendiri, pemerintah masih tarik ulur dalam merealisasikanya. Pro dan kontra pasti akan menjadi warna dalam setiap kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah. Menurut Wakil Ketua Komisi VIII DPR dari Fraksi Golkar Ace Hasan Syadzily mengimbau tak perlu menghapus konten ajaran tentang khilafah dan jihad dalam pelajaran agama Islam di madrasah. Hanya memasukkan materi khilafah dan jihad termasuk khazanah pemikiran politik yang pernah diterapkan dalam sejarah. “Secara fiqh siyasi, khilafah itu merupakan bagian dari khazanah pemikiran politik Islam yang pernah diterapkan dalam sejarah Islam. Kita tak boleh menghapus fakta sejarah itu,” kata Ace (CNNIndonesia.com 09/12/2019).

Sama seperti salat, zakat, puasa, haji yang merupakan bagian dari ajaran Islam. Khilafah dan jihad juga merupakan ajaran Islam yang selayaknya kita upayakan agar segera terlaksana. Demi tertegaknya seluruh aturan Allah SWT. Lepasnya ikatan keimanan pada seorang muslim dari perintah-perintah Allah akan memberikan pola pikir yang kian menjauh. Sehingga berupaya keras untuk mempermasalahkan apa yang telah Allah syariatkan untuk manusia, kemudian dicoba untuk disingkirkan. Padahal sejatinya manusialah yang harus menyesuaikan diri dengan syari’at Allah SWT.

Upaya barat dengan berbagai agennya tidak akan pernah mampu bagaimana menghalangi kebangkitan kaum muslimin. Termasuk salah satunya adalah memasukkan materi khilafah dan jihad ke dalam mapel sejarah saja, agar hanya cukup diketahui saja ceritanya. Maka, umat Islam harus bangkit dengan pemikiran yang cerdas. Kerusakan negeri dengan berbagai problematikanya adalah buah dari mencampakkan aturan Islam dalam penerapannya. Dengan sponsor barat para penguasa sukses mematahkan bagian-bagian ajaran Islam, termasuk khilafah dan Jihad.

Sudah menjadi pemahaman bersama, bahwa sebagai umat Islam kita wajib menjadikan tauladan kita Rasulullah. Termasuk tegaknya khilafah jelas dalam merangka menjemput kabar gembira Rosulullah Saw. Kepemimpinan yang mampu menebarkan cahaya bagi kehidupan dan menjadi menebarkan kebaikan ke seluruh penjuru alam. Hal ini yang seharusnya menjadi metode dalam penerapan Islam. Seperti halnya yang dicontohkan oleh Rosulullah Muhammad Saw tatkala hijrah di Madinah hingga berakhirnya kekhilafahan Utsmani di Turki. Terpenting, tegaknya khilafah untuk yang kedua kali adalah janji Allah. Rasulullah telah mengabarkan di dalam hadisnya:
…Kemudian akan datang masa kekhilafahan yang mengikuti metode kenabian. Kemudian Rasulullah diam.” (HR.Ahmad)

Begitu juga Risalah Jihad yang menjadi metode dalam penyebaran Islam kelak. Jauh dari apa yang diopinikan barat dalam benak kaum muslimin. Jihad adalah qital (perang) dalam rangka dakwah Islam. Dakwah Islam menuju kepada ketaatan kaffah kepada Sang Pemilik Kehidupan. Dengan berbagai tahapan yang sesuai dengan tauladan Rasulullah dan adab-adab peperangan yang sangat manusiawi. Jika seluruh kaum muslimin menyadari betul bagaimana keutuhan paradigma dalam berfikir tentang Islam kaffah ini, maka atas izin Allah sejarah Islam khilafah dan jihad akan berulang kembali. Wallahu’alam.

Please follow and like us:

Tentang Penulis