Persekusi Demi Deradikalisasi

Oleh: Ashaima Va

 

LensaMediaNews— Lagi-lagi persekusi. Beginilah saat nilai kebenaran bukan lagi dikembalikan pada dalil-dalil yang sahih. Yang benar adalah apa yang dikatakan benar oleh penguasa. Sedang yang salah adalah apa yang dikatakan salah oleh penguasa. Kalau sudah begini tentu saja yang dikorbankan adalah ajaran Islam yang mulia.

 

Seperti diketahui persekusi terjadi pada ulama yang senantiasa menyuarakan yang haq. Acara pengajian mereka dibatalkan sepihak karena ditentang oleh segelintir kelompok. Padahal para ulama tersebut adalah orang-orang yang ikhlas berdakwah di tengah umat. Saat ada kelakuan pemimpin yang tidak amanah tentu saja wajib di muhasabahi. Tetapi jika muhasabah disalah arti lalu dipersekusi mau dibawa kemana perahu negeri.

 

Persekusi juga terjadi terhadap simbol-simbol Islam. Panji tauhid yang dahulu diemban oleh Rasulullah Saw. dan para sahabatnya telah membuat sebagian kelompok alergi. Raya‘ dan Al-Liwa adalah panji yang dimiliki oleh umat Islam. Maka salah besar jika panji tauhid diidentikkan dengan gerakan radikalisme.

 

Ya, radikalisme kini menjadi isu yang sensitif. Terminologi negatif yang kini diidentikkan dengan Islam. Syariah Islam sebagai tuntunan dari Rasulullah yang mulia dituduh sebagai biang radikalisme. Oknum yang melakukan kekerasan dan kejahatan atas nama Islam dijadikan bukti bahwa Islam membawa keonaran. Padahal perbuatan oknum tersebut sama sekali tidak mewakili Islam dan bukan berdasar pada syari’at Islam. Namun selalu syariah Islam yang dijadikan kambing hitam.

 

Sudah jelas arah segala persekusi adalah upaya deradikalisasi yang kini digembar-gemborkan. Saat syariah Islam yang dituduh radikal maka upaya deradikalisasi adalah usaha untuk menjauhkan kaum muslimin dari syari’ah Islam. Sehingga tak heran jika saat ini kita temui adanya restrukturisasi kurikulum pendidikan. Tiap istilah yang identik dengan Islam Kaafah seperti jihad dan khilafah dihilangkan dari pengajaran agama baik di sekolah mau pun pesantren-pesantren. Padahal jihad dan khilafah adalah ajaran Islam yang didakwahkan oleh Rasulullah Saw.

 

Tak hanya itu, deradikalisasi juga sampai pada ranah berpakaian. Jilbab dan Niqab yang merupakan ajaran Islam begitu getol dipersekusi oleh para penyeru deradikalisasi. Juga upaya dakwah di media terhadap perilaku menyimpang LGBT dipersulit, sedangkan perilaku LGBT sendiri dibiarkan dan semakin menyebar luas ke tengah-tengah generasi.

 

Umat semestinya menyadari bahwa segala upaya deradikalisasi sesungguhnya adalah upaya deislamisasi, yaitu upaya menjauhkan ajaran dan syariah Islam dari umat. Jangan mau dipecah-belah dengan tuduhan radikal. Dan pada para penentang syariah Allah ketahuilah bahwa makar apa pun tidak akan bisa menjatuhkan Islam. Ajaran dan syari’ah Islam adalah mulia. Betapa pun fitnah keji diarahkan padanya, selamanya Islam akan Allah menangkan.

 

Akhir kata marilah sama-sama kita renungkan peringatan dari Allah Swt:

يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللهُ إِلا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, sementara Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukainya. Dialah Yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (al-Quran) dan agama yang benar untuk Dia menangkan atas segala agama walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (QS at-Taubah: 32-33).
Wallahua’lam bish-shawâb.

Please follow and like us:

Tentang Penulis