Asimetris Pendidikan, Salah Siapa?

Oleh: Kurniapeni Rahayu, S.Pd.

(Ibu Muda dan Penggerak Remaja)

 

LensaMediaNews – Sedih. Melihat generasi hari ini sungguh sedih. Ada yang masih berseragam putih merah sudah menyebut papah-mamah pada pacarnya. Ada yang masih SMP sudah menyandang gelar sebagai ibu di luar nikah. Giliran yang lulus SMA disuruh menikah, bilangnya belum siap, masih mau having fun dulu.

Jati diri pelajar hari ini tidak terkejar. Tak jelas ke mana arahnya. Yang penting hanya nilai. Belajar kelompok ke sana ke mari. Matahari terbenam bukan istirahat di rumah, melainkan masih sibuk mengerjakan tugas sekolah yang bertubi.

Itu dari segi pelajarnya, beda lagi dari aspek sistem. Zonasi siswa yang beberapa waktu lalu jadi ramai perbincangan, masih belum seberapa. Banyak wacana di luar nalar yang mencuat di khalayak ramai. Mulai dari zonasi guru, impor rektor, gonta-ganti kurikulum, bantuan dana Bank Dunia untuk madrasah, dan sebagainya. Bertubi-tubi sistem pendidikan Indonesia mengalami luka. Jangankan berharap sembuh, obatnya saja tambal sulam.

Di kalangan mahasiswa, tak kalah pelik. Belum hilang dari ingatan kita soal disertasi mahasiswa doktor, yang menuliskan bolehnya berhubungan suami-istri di luar pernikahan. Parahnya, disertasi tersebut lolos uji dan menghantarkan penulisnya lulus dari sebuah Universitas Islam Negeri terkemuka.

Lain gagasan, lain pula perlakuan. Seorang mahasiswa cerdas dan berprestasi, hanya karena dia kritis dan memperjuangkan Islam mengakibatkan karirnya berhenti. Drop Out! Sebuah hadiah yang dilayangkan rektor Universitas Islam Negeri (juga) yang lain untuk mahasiswanya.

Sungguh unik bentuk siswa sampai mahasiswa di negeri ini. Yang buruk tak dikutuk, yang baik dianggap burik. Standar buruk dan baik sangat fluktuatif. Tidak ada kejelasan yang jelas. Hanya bermodalkan subjektifitas.

 

Siapa yang Salah?

Tidak bisa kita pungkiri, semua problema di atas ibarat gunung es yang hanya menampakkan es di atas permukaan laut. Sedangkan, di dalamnya jauh lebih banyak lagi. Menjamurnya berbagai masalah dalam dunia pendidikan, bukan karena bodohnya siswa dalam memahami materi pelajarannya. Kebanyakan mereka cerdas mengisi soal ujian namun bodoh dalam budi pekerti. Berita soal rendahnya moral pelajar, sudah jadi makanan sehari-hari.

Apa karena jam belajar yang kurang sehingga waktu belajarnya kurang? Tidak. Di Finlandia sehari belajar hanya sekitar 4-5 jam (relatif sebentar) di sekolah, tapi berhasil meraih gelar pendidikan terbaik di dunia (CNN Indonesia, 09/06/2017).

Apa karena sumber daya manusia di Indonesia begitu rendah, sehingga pembelajaran model apa pun tidak akan membuat pandai? Tidak. Banyak pelajar Indonesia yang mampu menciptakan penemuan luar biasa, hanya saja tak mendapat fasilitias negara. Pergilah ia ke luar negeri demi meraih pundi-pundi apresiasi. Sebut saja pak BJ. Habibie (alm.) salah satunya.

Lalu apa? Peserta didik atau pendidikannya yang salah? Satu di antara keduanya pasti ada yang salah, karena banyak lahir masalah. Tidak mungkin jika keduanya benar dapat melahirkan sebuah bahkan beribu kesalahan, sebagaimana kondisi pendidikan di Indonesia hari ini.

Mari kita gali substansi pendidikan yang ada di Indonesia. Semakin ke sini, arah pendidikan Indonesia semakin tidak mencerminkan budaya ketimuran. Alih-alih nilai Islam, lebih jauh lagi. Ketidakjelasan visi-misi pendidikan Indonesia menggambarkan kebebasan arah pendidikan di negeri ini. Liberalisasi pendidikan dan liberalisme semakin kentara mengakar di dalamnya. Maka, jelas jika arah pendidikannya tidak terarah. Toh, bebas. Suka-suka yang berkuasa.

Sekularisme menjadi asas kuat dalam pendidikan kita hari ini. Agama dijauhkan, bahkan dipersempit maknanya. Deradikalisasi nilai-nilai Islam menyebabkan jauhnya umat Islam dengan Islam itu sendiri. Sadar atau tidak, itulah penyebab moral pelajar tergerus tersegradasi.

Dari sini, sudahkah tergambar bagaimana pelajar Indonesia semakin belajar semakin tak terpelajar? Semakin mereka belajar, semakin tak pintar. Dengan kondisi waktu belajar mereka yang sangat lama di sekolah, ternyata tidak menjamin kepandaiannya terwujud nyata.

Semua materi dijejal dengan target waktu, mampu tidak mampu materi harus sudah tersampaikan semua. Wajar jika pelajar semakin bebal. Dari segi kejiwaannya tidak diperhitungkan, dari segi manusianya tidak berprikemanusiaan. Ide liberal bukan memanusiakan manusia. Sebaliknya, malah menghancurkan.

Bukankah Allah SWT telah berfirman dalam QS. Ar Rum ayat 41, “Telah nampak kerusakan di muka bumi, disebabkan oleh tangan manusia..”

Sombongnya manusia mengacuhkan hukum-hukum Allah. Menganggap hukum buatannya lebih hebat daripada hukum buatan Allah. Begitulah gambaran pendidikan di negeri ini. Syariat-Nya tidak dijadikan pedoman, tuntunan, bahkan pondasi yang merealisasikan pendidikan yang berpendidikan. Sehingga lahirlah berbagai kerusakan yang nyata di sekeliling kita. Na’udzubillahi mindzalik.

Wallahu a’lam bishshowab.

 

[LS/Ah] 

Please follow and like us:

Tentang Penulis