Berhias Kejujuran Menjadi Teladan  

 Oleh. Netty al Kayyisa

 

Lensa Media News–Seseorang yang paling dipercaya anak adalah ibunya. Ibu tidak akan suka melihat anaknya berbohong. Tetapi kadang tanpa sengaja maupun sengaja dia telah mengajari anak-anaknya untuk menjadi pembohong.

 

Misalnya ketika memberikan jawaban atas pertanyaan ananda, “Bu, mengapa kita tidak boleh main di luar rumah?”. Ibu akan memberikan jawaban yang membuat anak takut semisal, “Jangan main di luar nanti banyak setan. Nanti di culik orang”, dan jawaban-jawaban semisal.

 

Atau ketika memberi makan anak, “Ayo makan yang banyak kalo tidak makan digigit setan”, dan semisalnya ketika mengajak anak tidur, mengajak anak belajar, saat mengajak anak pulang dari rumah teman, dan berbagai kondisi lainnya. Kadang tidak sengaja ingin berbohong, tetapi karena telah menjadi kebiasaan maka terjadi secara spontan perkataan-perkataan yang penuh kebohongan.

 

Padahal Rasulullah bersabda,” Barangsiapa berkata kepada anak kecil ‘Kemarilah aku akan memberimu sesuatu’ namun dia tidak memberikan apa-apa maka perbuatannya itu termasuk dusta.” (HR. Ahmad)

 

Dampak ketidakjujuran ini menjadikan anak kehilangan kepercayaan pada orang tua terutama ibunya. Anak secara tidak langsung juga akan belajar menjadi orang yang suka berbohong, tidak jujur, tidak mau terbuka pada orang lain, bahkan cenderung menghindari dan menutupi masalah dengan kebohongan-kebohongan yang diciptakannya.

 

Demikian besar dampak ketidakjujuran bagi pribadi anak-anak. Maka wahai para ummahat, mari berhias dengan kejujuran. Karena kejujuran akan membawa kebaikan sebagaimana sabda Rasulullah Saw ., “Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim no. 2607)

 

Kejujuran sendiri bermakna bentuk kesesuaian antara ucapan dan perbuatan atau antara informasi dan kenyataan. Jujur adalah salah satu akhlak muslim. Seorang ibu jika menginginkan anak-anak yang jujur maka harus memberikan keteladanan pada anak-anaknya. Menghiasai diri dengan kejujuran maka akan menjadi teladan yang baik buat anak-anak kita ke depan.

 

Maka ummahat, berazamlah untuk menjadi orang yang jujur. Seorang ibu harus menanamkan dalam dirinya sikap muraqabatullah (merasa di awasi oleh Allah). Menyadari bahwa malaikat senantiasa mencatat amalnya. Senantiasa bersabar, belajar dan berpikir dalam menjawab ataupun bersikap terhadap anak-anak. Tidak terburu-buru menjawab, teliti dalam setiap pertanyaan ananda, dan memiliki ilmu agar mampu menghasilkan jawaban yang memuaskan pada ananda sekaligus jauh dari ketidakjujuran dalam setiap perkataan.

 

Untuk itu menanamkan akidah yang kuat dalam diri sangat diperlukan. Senantiasa mengkaji ilmu-ilmu Islam dan berkumpul dengan orang-orang salih yang bisa saling mengingatkan akan mempermudah ibu utuk selalu berhias dengan kejujuran.

 

Dengan berhias kejujuran sekaligus dapat mengalirkannya pada ananda, akan menjadi teladan yang terbaik dan membentuk mereka menjadi generasi yang jujur, taat kepada Rabbnya. [LM/ry].

Please follow and like us:

Tentang Penulis