Identitas Muslimah Terikat Dengan Syariat Allah

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih

Institut Literasi dan Peradaban

 

 

Lensa Media News–Melintas berita di beranda media sosial jika ada seorang gadis bernama Camillia Laetitia Azzahra, yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri, kemudian di laman instagramnya mengatakan memutuskan Bulan Ramadan tahun ini akan membuka hijabnya ( serambi.news,5/4/2024).

 

Gadis usia 19 tahun itu mengaku sudah melewati banyak pertimbangan dan diskusi panjang dengan pihak keluarga hingga akhirnya membuat keputusan melepaskan hijabnya. Ia ingin melakukan syariat ajaran agama dari hati yang bersih, dan bukan soal penampilan.

 

Jika saja Az-Zahra bukan anak dari Ridwan Kamil orang nomor satu Jawa Barat, tentulah tidak menjadi soal. Viral karena followernya lebih dari 70 ribu. Yang pasti sebaya dan mengaguminya. Dengan enteng Zahra mengatakan jika tidak suka silahkan unfollow, begitu mudahnya? Padahal sebagai anak tokoh, selebgram dengan follower yang banyak tentulah perkataan dan perbuatannya akan menjadi panutan.

 

Bisa dibayangkan dosa jariyah yang ia terima jika kemudian banyak yang membenarkan apa yang ia lakukan bahkan mengikuti melepas penutup aurat yang menjadi identitas muslim. Upayanya mencari jati diri sungguh patut dipertanyakan. Jika jilbab dan kerudung adalah jati diri seorang muslimah yang taat lantas jati diri mana lagi yang ia cari? Kemudian mengapa harus kerudungnya yang ia lepas, mengapa bukan yang lain?

 

Liberalisme Akut Menjangkiti Pemuda Hari Ini

 

Fenomena Zahra ini sebetulnya bukan yang pertama, sebelumnya telah banyak kejadian selebritas di negeri ini tak sungkan mengumbar auratnya dengan cara membuka kerudungnya. Bahkan sepulang  umrah, beberapa hari setelah tiba di tanah air sudah kembali membuka aurat, menerima job yang mengharuskan mereka terbuka, padahal saat berumrah tubuhnya tertutup rapat, yang nampak hanya wajah dan telapak tangan.

 

Jauhnya kaum muslim dari Islam, berikut negara yang menerapkan sistem kapitalisme sekuler telah menjerumuskan kaum muslim dalam kubangan dosa yang tak receh. Kewajiban syariat bagi perempuan yaitu menutup aurat dianggap membatasi gerak mereka baik fisik maupun sosial. Pandangan orang terutama di luar negeri tak jarang sinis ketika melihat perempuan muslim. Mereka tak paham makna menutup aurat di hadapan mereka yang bukan mahram. Bisa jadi inilah yang melemahkan mental.

 

Pemahaman kaum muslim terhadap agamanya kian mengalami kemunduran, negara penerap sistem kapitalisme sekuler tak akan pernah hadir melindungi dan menjamin syariat atas perempuan ini berjalan dengan benar.

 

Allah berfirman yang artinya,“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (TQS Al Ahzab:59).

 

Kalimat “mudah dikenali dan tidak diganggu” bermakna perlindungan. Jelas syariat ditegakkan dalam rangka menjaga setiap individu terutama perempuan aman dan terjaga. Sebab, perempuan istimewa, ialah pendidik pertama bagi anak-anaknya. Maka, sangat penting seorang perempuan menuntut ilmu, bukan hanya akademik semata namun juga agama. Pemahamannya terhadap agama inilah yang kelak menjadi batu sandaran.

 

Menutup aurat sempurna tak hanya butuh keimanan, namun juga lingkungan yang kondusif, masyarakat yang saling mengingatkan dan negara yang menjamin. Pencarian jati diri akan mudah dilalui jika sejak awal, pendidikan berdasar akidah diterapkan di setiap jenjang pendidikan. Pun keluarga menjadi sistem support terbaik bagi tumbuh kembang anak agar semakin hari semakin dekat dengan Allah.

 

Islam Menjaga Generasi Bertakwa

 

Pemuda adalah jumlah terbanyak hari ini. Merekalah yang kelak akan mengemban peradaban karena kita yang tua ini akan meninggal. Islam adalah musuh, negara pengemban kapitalisme sadar akan potensi besar ini sehingga membuat program keji untuk merusak, di antaranya jelas gaya hidup mereka yang mencerminkan cara pandang mereka terhadap kehidupan. Yaitu kebebasan.

 

Mereka yang menempuh pendidikan di luar negeri bukan saja harus siap dengan kemajuan ilmu dan teknologinya, tapi juga paparan ide sekuler yang diusung barat. Disinilah pentingnya pemahaman Islam Kaffah diberikan sebagai kurikulum dalam setiap jenjangnya.

 

Sehingga anak paham apa visi dan misinya di dunia. Yaitu menjadi hamba Allah yang bertakwa, menjadi ironis bukan jika pelanggaran syariat justru terjadi di bulan Ramadan, bulan pembentukan ketakwaan.

 

Syariat bukan pilihan, oleh karena itu negara akan menjaga seoptimal mungkin agar setiap muslim mudah menjalankan syariat, dengan menegakkan sanksi dan hukum ketika ada pelanggaran. Dengan penjaminan seluruh kebutuhan pokok sehingga tak ada alasan untuk tidak taat syariat.

 

Demokrasi sebagai sistem politik hari ini justru kian menyuburkan perilaku sekuler, bagaimana mungkin hukum manusia dianggap lebih unggul dari hukum Allah? Maka, sama dengan kapitaliseme, demokrasi juga harus kita cabut. Agar kita tak lagi meninggalkan generasi yang bodoh dan sakit. Wallahualam bissawab. [LM/ry].

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Please follow and like us:

Tentang Penulis