Tarif Dasar Listrik Naik, Beban Rakyat Makin Sulit

Oleh : Dwi Utami

Komunitas Setajam Pena

 

Lensa Media News–Di tengah mahalnya harga beras hingga membuat warga harus antre panjang ketika ada pasar murah sembako, kini tarif listrik dikabarkan akan mengalami kenaikan.

 

PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) telah menetapkan tarif listrik untuk Maret 2024 bersamaan dengan pengumuman tarif listrik triwulan I pada Januari-Maret 2024.

 

Kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) tentunya akan semakin membuat rakyat sengsara dengan menanggung beban hidup mereka yang sudah sulit jadi semakin sulit.

 

Listrik sebagai sumber energi seharusnya diberikan dengan harga murah atau gratis. Negaralah yang seharusnya mengelola sendiri kebutuhan energi rakyat ini. Sayangnya hari ini pasokan listrik PLN juga tergantung pada pasokan swasta yang tentu orientasinya adalah keuntungan.

 

Semua ini semata-mata hanya karena penerapan sistem kapitalisme, segala sesuatu orientasinya hanya berdasarkan untung rugi. Tidak memandang dampak apa yang dirasakan oleh masyarakat. Maka dari itu seharusnya masyarakat juga segera sadar bahwa dasar kesulitan ini bersumber dari kapitalisme, dan sudah selayaknya kita meninggalkan kapitalisme.

 

Di dalam sistem kapitalisme ini, berharap bahwa Tarif Dasar Listrik (TDL) murah bahkan gratis tersebut hanya mimpi belaka. Selama ini ketika TDL telah dinaikkan maka belum pernah ada cerita akan ada penurunan.

 

Penyesuaian TDL memang dilakukan setiap tiga bulan. Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan dalam penetapan tarif listrik, seperti nilai tukar mata uang dolar AS terhadap mata uang rupiah (kurs), Indonesian Crude Price, inflasi, dan/atau harga batu bara acuan.

 

Naiknya tarif listrik di saat harga pangan naik jelas akan menambah beban rakyat, apalagi saat ini sedang marak adanya PHK. Kehidupan rakyat pun makin sulit. Memang dalam sistem kapitalisme, negara tidak berperan sebagai raa’in sehingga rakyat dibiarkan berjuang sendirian.

 

Kalaupun ada subsidi, sejatinya hanya sekedar tambal sulam, tidak akan menjamin terpenuhinya kebutuhan rakyat. Selain hanya sekedar tambal sulam, sejauh ini subsidi juga tidak tepat sasaran.

 

Dalam sistem kapitalisme negara yang notabene dalam keberlimpahan Sumber Daya Alam (SDA) termasuk batu bara, akan tetapi masyarakat tampak makin merana ketimbang bahagia. Terlihat punya sumber energi listrik tetapi dikuasai swasta dan negara harus berusaha beli dari swasta, karena dalam sistem kapitalisme SDA dapat dimiliki individu asalkan memiliki modal.

 

Sedangkan dalam Islam, negara berperan sebagai raa’in yang akan menjamin kesejahteraan rakyat dengan berbagai mekanisme sesuai dengan sistem ekonomi Islam.

 

Negara juga akan menjamin terpenuhinya energi melalui pengelolaan sumber daya alam secara mandiri, dan hasilnya dikembalikan kepada rakyat dengan harga murah bahkan gratis.

 

Rasulullah Saw bersabda, “Kaum muslim berserikat dalam tiga hal, yakni padang rumput, air, dan api.” (HR Abu Dawud dan Ahmad).

 

Listrik adalah termasuk kategori “api” dalam hadis tersebut, sehingga yang mampu menghasilkan listrik merupakan kepemilikan umum.

 

Batu bara merupakan sumber pembangkit listrik dan termasuk barang tambang yang jumlahnya sangat besar di negara ini. Maka seharusnya PLN berada di tangan negara dan tidak boleh dikuasai individu atau swasta dengan alasan apapun.

 

Dengan pengelolaan SDA di tangan negara, maka kebutuhan listrik masyarakat akan terpenuhi secara merata dengan sangat murah bahkan gratis.

 

Semua itu tidak akan bisa terwujud selama masih dalam cengkeraman sistem kapitalisme, maka dari itu saatnya umat sadar bahwa umat butuh kepemimpinan selainnya yaitu sistem Islam yang di pimpin oleh seorang Khalifah. Dalam sistem Islam, listrik murah bahkan gratis bukanlah hal yang mustahil di dapat oleh masyarakat. Wallahualam bissawab. [LM/ry].

Please follow and like us:

Tentang Penulis