Tren Flexing Di Kalangan Istri Pejabat, Lupa Nasib Rakyat?

 

Tren Flexing Di Kalangan Istri Pejabat, Lupa Nasib Rakyat?

 

Oleh : Rizki Rahmayani, S.E

 

LenSaMediaNews.com – Penggunaan media sosial kini tidak sekadar untuk mencari informasi dan hiburan. Namun juga menjadi ajang pencitraan dan pamer gaya hidup mewah atau biasa dikenal dengan istilah flexing. Tas branded, pakaian mahal dan liburan ke luar negeri jadi pembuktian bahwa seseorang kaya dan berkelas. Pamer gaya hidup seakan menjadi perlombaan di media sosial demi sebuah pengakuan akan status sosial dan popularitas.

 

Tidak hanya artis, tren flexing bahkan menjangkit kepada istri pejabat. Hal ini ramai menjadi perbincangan, seperti yang terjadi pada istri dari Kepala Sub Bagian Administrasi Kendaraan Biro Umum yang membeli mobil Morris Garage seharga 407 juta dan logam mulia seberat 500 gram. Ada pula istri kepala Badan Pertanahan Nasional (VP) yang kerap membagikan momen liburannya ke luar negeri hingga tas Hermes-nya yang ditaksir berharga sekitar 600 juta.

 

Mereka tanpa malu-malu memamerkan harta benda dan kenikmatan hidupnya kepada khalayak ramai. Hingga lupa bahwa banyak rakyat yang kesulitan hanya untuk mendapatkan sesuap nasi. Potret flexing di kalangan istri pejabat menjadi bukti minimnya empati kepada rakyat, padahal, mereka adalah keluarga pejabat yang harusnya menjadi pelayan rakyat dan teladan bagi masyarakat.

 

Fenomena flexing yang merebak saat ini merupakan buah dari penerapan sistem sekulerisme yang menjadikan materi sebagai tolak ukur kebahagiaan dan kesuksesan. Tak heran, jika setiap orang berlomba-lomba mencari cuan demi sebuah eksistensi dan popularitas. Gaya hidup hedonis atau berfoya-foya menjadi budaya yang mengakar hinga lupa akan nasib saudara, tetangga dan rakyat yang serba kekurangan.

Sejatinya, standar kebahagiaan dan kesuksesan manusia bukanlah materi. Bukankah banyak selebritis yang kaya dan terkenal kemudian bunuh diri hanya karena merasa tak bahagia? Begitulah dunia, kebahagiaan yang disandarkan pada materi nyatanya fana dan sementara hingga menghadirkan rasa hampa pada diri manusia. Dengan demikian, kita butuh pandangan yang berbeda dan cemerlang yang bersumber dari Allah, pencipta alam semesta dan manusia, yakni Islam.

 

Islam memandang bahwa hakikatnya seluruh manusia adalah sama, ketaqwaan-lah yang membedakan derajat mereka di sisi Allah Swt, sehingga perlombaan yang sebenarnya adalah berlomba-lomba dalam kebaikan dan keimanan untuk menjadi hamba yang bertaqwa, bukan beradu gaya dan kemewahan. Adapun kebahagiaan tertinggi yang hendak diraih seorang muslim adalah keridhoan Allah, maka mereka akan senantiasa terikat dengan syariat sebagai pedoman dan panduan hidupnya. Melaksanakan apa yang Allah perintahkan dan menjauhi apa-apa yang dilarang-Nya. Keyakinan ini membuat hati manusia tenang, sebab mereka tak lagi membandingkan kehidupan dunianya dengan oranglain dan mengharapkan pengakuan pihak lain untuk dianggap sukses dan bahagia. Cukuplah keridhoan Allah menjadi tujuannya dan amal salih menjadi modalnya. 

 

Selain itu, islam juga menganjurkan untuk bersikap qana’ah yakni merasa cukup dengan rezeki yang Allah karuniakan kepadanya dan melarang dari perbuatan israf atau membelanjakan harta secara berlebihan. Kelebihan harta yang Allah titipkan adalah amanah yang harus dikelola dan dipertanggungjawabkan, maka seorang mukmin akan senantiasa taat membayar zakat dan gemar bersedekah, hingga kemiskinan tak lagi merajarela.

Alangkah indahnya kehidupan islam yang didalamnya terbangun atmosfir iman dan budaya ta’awun (tolong-menolong). Semoga kita mampu menerapkan Islam bukan hanya dalam kehidupan individu melainkan juga dalam aturan bermasyarakat dan bernegara. 

Wallahu a’lam bisshowab.

 

Please follow and like us:

Tentang Penulis