Mencari Kerja di Negara Tetangga, Apakah Solusi?

Lensa Media News, Suara Pembaca-Kemiskinan dan tak adannya lapangan pekerjaan menjadi alasan utama untuk mencari penghasilan dari luar negeri. Sayang, hal ini menjadi jebakan yang dilakukan oleh sebagian oknum atau kelompok untuk menjadikannya pintu perdagangan manusia. Seperti yang sedang terjadi pada 20 WNI yang disekap di daerah konflik bersenjata Myanmar. Niat hati hendak melamar kerja, rupanya hanya termakan modus semata. Mereka diduga telah disekap, disiksa, diperbudak, dan diperjualbelikan di Myanmar (Kompas, 4-5-23).

Pihak Indonesia telah melakukan berbagai cara untuk menyelamatkan warganya. Kemenlu melalui KBRI Yangon dan KBRI Banngkok mendesak otoritas Myanmar menyelamatkan 20 WNI tersebut. Namun memang diakui bahwa tantangan di lapangan dalam upaya penyelamatan cukup tinggi.

Risiko tinggi dalam menerima pekerjaan di luar negeri rupanya masih saja terjadi di tahun ini, tak jauh berbeda dengan bertahun-tahun silam. Selain belum dapat menyediakan lapangan kerja untuk seluruh warga, rupanya negara juga belum dapat menyediakan perlindungan dan keamanan bagi seluruh rakyatnya di luar negeri. Menjadi ironi jika dibandingkan dengan apa yang dijanjikan oleh Islam.

Islam menjadikan terwujudnya kesejahteraan setiap individu rakyat sebagai kewajiban negara. Karenanya, Islam memiliki berbagai mekanisme meliputi penyediaan lapangan kerja yang mencukupi seluruh warga serta menjaga keamanan rakyatnya di negara tetangga. Islam pun memiliki mekanisme untuk mengatur nafkah bagi orang yang tidak mampu bekerja. Bukan dipaksa harus mencukupi kebutuhan sendiri karena sulitnya ekonomi ditanggung masing-masing orang.

Kenyataan hari ini semestinya membuat kita kian rindu terhadap Islam. Bukan yang kaya semakin kaya atau yang miskin semakin terpuruk dan dibodoh-bodohi, namun bagaimana Islam menjamin kesejahteraan rakyatnya yang semestinya dirindu setiap individu. Harta didudukkan pada tempatnya serta dikeluarkan sebagaimana mestinya. Orang-orang dijamin kebutuhan serta keamanannya. Semoga fakta ini menjadi pengingat untuk setiap individu muslim untuk memperjuangkan kembali pengaturan umat dengan Islam.

Najma Nabila

[LM, Hw]

 

Please follow and like us:

Tentang Penulis