Herd Stupidity, bikin Pandemi Makin Menjadi

Oleh: Yuke Octavianty
(Pegiat Literasi Dakwah)

 

Lensa Media News – Pandemi kian hari, kian menjadi. Ledakannya tak bisa dihindari. Hampir di setiap daerah memberitakan tingginya penderita Covid-19 dan meningkatnya angka kematian akibat serangan virus ini.

Dilansir dari merdeka.com (21/6/2021), Semarang mengalami peningkatan jumlah pasien Covid-19. Walikota Semarang, Hendrar Prihadi mengungkapkan hampir seluruh rumah sakit rujukan Covid-19 di Semarang penuh. Dua puluh rumah sakit rujukan hampir terisi penuh. Hanya Rumah Sakit Daerah Jiwa dr. Amino Gondohutomo yang memiliki keterisian di bawah 80%. Pemerintah Daerah akan segera menambah 400 tempat tidur isolasi.

Tak berbeda dengan Kota Semarang, kota lain pun darurat corona. Bogor, salah satunya. Banyak ASN (Aparatur Sipil Negara) Pemerintah Kota Bogor Terpapar Covid-19. Hingga akhirnya, Rabu (23/06/2021), Balaikota Bogor harus di-lockdown (Pakuanraya.com, 22/06/2021).

Pun demikian dengan ibu kota, sama saja keadaannya. Parah. Berdasarkan data Dinas Kesehatan DKI Jakarta, kasus aktif di Jakarta mencapai 19.096 kasus. Naik sekitar 9000-an kasus (Mediaindonesia.com, 15/06/2021). PPKM mikro pun diberlakukan kembali selama 14 hari, terhitung sejak 22 Juni – 5 Juli 2021.

Virus corona mengamuk di hampir setiap wilayah negeri. Semuanya membara. Ditambah lagi buruknya dampak yang dilahirkan beberapa varian corona yang kian memperburuk gejala. Pemerintah pun kelabakan, kebakaran jenggot.

Pakar epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia (FKM UI), Pandu Riono, menilai Indonesia sudah mencapai “herd stupidity“. Menurutnya, pemerintah dan masyarakat sudah sama-sama abai dalam menghadapi pandemi Covid-19 (Detik.com, 22/06/2021).

Herd stupidity” alias kebodohan bersama yang dilakukan berjamaah dalam menghadapi Covid-19. Pandu juga mengungkapkan, “herd stupidity” muncul karena banyaknya jumlah masyarakat yang meremehkan status Covid 19. Bahkan ada yang tak percaya dengan adanya virus Covid-19. Akibatnya masyarakat lalai terhadap protokol kesehatan yang seharusnya ketat dilakukan. Selain itu, pengabaian ini juga mendorong virus untuk bereplikasi hingga berubah menjadi lebih menular. Wajar lonjakan cepat terjadi.

Negara pun memiliki andil besar dalam lonjakan pandemi ini. Sejak awal, pemerintah tak bisa tegas melakukan lockdown total. Karena tak ada anggaran besar untuk lakukan lockdown. Padahal utang negara membumbung tinggi. Terus saja korupsi terjadi. Dana bantuan untuk umat pun terus digerogoti. Pemimpin tak amanah. Umat tak dijadikan prioritas dalam penanganan masalah. Inilah watak sekularisme dalam menangani masalah. Tak mau menjadikan agama sebagai landasan solusi.

Dalam Islam, syariat pun sangat tegas saat menangani pandemi. Serius. Tak anggap enteng wabah yang terjadi.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الطَّاعُونُ آيَةُ الرِّجْزِ ابْتَلَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ نَاسًا مِنْ عِبَادِهِ فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ فَلَا تَدْخُلُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَفِرُّوا مِنْهُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Tha’un (wabah penyakit menular) adalah suatu peringatan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia. Maka apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari daripadanya” (HR. Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid).

Syariat ini sungguh jelas. Dan negara sangat berperan penting. Karena negara adalah pengatur, pengontrol, dan pembuat keputusan. Saat negara abai. Wajar saja, semua keadaan pun menjadi kacau.

Sistem Islam dan pengaturan negara tak bisa dipisahkan. Karena syariat Islam adalah landasan pengaturan umat. Dan syariat Islam adalah satu-satunya sistem shahih yang Allah wajibkan atas seluruh kaum. Saat syariat ditinggalkan, tunggulah kebinasaan.

Wallahu a’lam bishshawab.

 

[ah/LM]

Please follow and like us:

Tentang Penulis