Krisis Pangan Dunia: Bagaimana Mengatasi?

Oleh: Wiji Lestari

 

Lensa Media News – Berbagai variasi menu makanan sehari-hari terkadang membuat kita lupa bersyukur. Banyak di berbagai daerah bahkan di belahan dunia, kelaparan masih melanda mereka. Ibarat kata mereka bersyukur dapat makan minimal 1 kali sehari pada kesulitan yang mereka hadapi. Tak sampai hati bila harus melihat dan mendengar bagaimana susahnya mereka untuk makan. Memenuhi kebutuhan untuk bertahan hidup dilalui penuh dengan perjuangan. Beberapa contoh kasus krisis pangan di berbagai belahan dunia pun, sejenak mari kita lihat dan dengarkan keluh kesah mereka.

Krisis pangan saat ini telah dialami oleh saudara muslim kita di Suriah. Suriah mengalami krisis pangan yang belum terselesaikan hingga kini. Seorang pria dari Kota Zabadani mengatakan, keluarganya yang beranggotakan empat orang telah berhenti makan keju dan daging pada awal 2020. Kenaikan harga roti dan adanya batasan pemerintah, mereka terpaksa hanya memakan secuil roti tiap harinya dan mencelupkannya ke dalam teh agar tampak lebih besar, kata orang tersebut, dalam keterangan pers Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang diterima, Ahad (Republika.co.id, 30/05/2021).

Selain kasus di atas, Program Pangan Dunia (WFP) mendengungkan bahwa jutaan warga di Myanmar kini menghadapi ancaman krisis pangan dan kelaparan ekstrem. WFP memperkirakan dalam 6 bulan ke depan, sebanyak 3,4 juta lebih orang akan kelaparan di Myanmar (Lenterasultra.com, 29/05/2021).

Contoh kasus di atas terjadi di belahan dunia, kasus ini pasti ada penyebabnya. Penyebabnya adalah diterapkan sistem kapitalisme-sekularisme, dimana sistem ini membuat kerusakan dan mampu menjajah berbagai negara di dunia, mengeksploitasi secara besar-besaran SDA dari negara yang mereka bidik. Kerusakan yang ditimbulkan sangat parah dan lingkungan seakan murka dengan apa yang terjadi. Air, tanah, api, bahkan angin pun ikut andil dalam kemarahan.

Kesenjangan jelas terlihat makin nyata, hampir semilyar penduduk dunia terancam kurang pangan. Negara-negara adidaya akan semakin kuat karena berlimpah SDA hasil jarahan mereka dari negara berkembang dan akibatnya segelintir negara kapitalis berlebihan pangan. Beberapa hari yang lalu aksi brutal tentara zionis Israel melakukan penyerangan terhadap masjid Al Aqsa dan membuat semua terisolasi. Anak-anak yang kehilangan orang tuanya harus bertahan hidup di tengah peperangan yang terjadi. Tak heran mereka harus menahan lapar karena memang tak ada makanan yang dimakan. Terpaksa untuk mengganjal perut mereka dari rasa perih yang melanda, mereka rela makan rumput.

Sungguh pilu hati dan tersayat-sayat pedih melihat mereka dalam masa tumbuh kembangnya harus menelan kepahitan. Orang tua mana yang tega melihat anaknya harus makan rumput demi berlangsung hidup. Sistem kapitalisme-sekularisme harus dihentikan dengan sistem Islam. Khilafah ‘ala manhaj nubuwwah mampu menghentikan sistem yang ada saat ini. Peran sentral pengaturan seluruh aspek kehidupan termasuk tata kelola pangan yang berada di tangan negara (Khilafah). Sebab, negara adalah penanggung jawab utama dalam mengurusi hajat rakyat yaitu sebagai raa’in (pelayan/pengurus) dan junnah (pelindung).

Dengan kedua fungsi politik itu, maka seluruh rantai pasok pangan akan dikuasai negara. Meskipun swasta boleh memiliki usaha pertanian, namun penguasaan tetap di tangan negara dan tidak boleh dialihkan kepada korporasi. Negara lah yang menguasai produksi sebagai cadangan pangan negara, sehingga krisis pangan tidak akan terjadi.

Wallahu a’lam bishshawab.

 

[ah/LM]

Please follow and like us: