Jalan bagi Penuntut Ilmu

Oleh : L. Nur Salamah, S.Pd

(Kontributor LenSa Media News)

 

Lensa Media News – Saat ini, banyak kita jumpai para penuntut ilmu, baik di lingkungan pendidikan formal maupun non formal, bahkan yang berbasis Islam sekalipun, telah bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, namun tidak mendapatkan dari apa yang dipelajarinya. Kadangkala, ada yang bersikap dan bertingkah laku tidak berdasarkan pada ilmu yang telah dikajinya bahkan malah bertentangan.

Jika dicermati, betapa banyak fenomena di lingkungan sekitar kita, bahwa banyaknya ilmu yang dipelajari tidak membawa manfaat apa-apa bagi pelakunya. Seperti contoh, masalah ibadah yang paling dasar yakni mengenai perihal bersuci, sejak duduk di bangku sekolah dasar, bahkan di setiap Taman Pendidikan Alquran (TPA) selalu diajarkan tentang fiqih bersuci, namun dalam praktiknya ternyata masih banyak orang yang belum memahami tentang fiqh bersuci, sehingga mereka beramal tidak sesuai dengan ilmu yang telah dipelajarinya.

Contoh lain, tidak sedikit orang yang telah mengkaji dan mengetahui bahwa riba itu diharamkan, mereka juga tahu dan hafal dalil-dalil yang berkaitan dengan riba, bahkan sampai menyebarkannya, namun ironisnya, justru menjadi pelaku riba itu sendiri. Tidak hanya itu, banyak juga kita saksikan orang yang mengaku beriman dan beragama Islam, namun sikap dan perilakunya sangat getol menghalangi dan memusuhi Islam.

Mengapa fenomena di atas terjadi? Imam Az-Zurnuji Rahimahullah, dalam kitabnya Ta’lim Al Muta’alim Thariq At-Ta’alum, masih di bab muqadimah menyebutkan bahwa, “Maka ketika saya melihat kebanyakan dari penuntut ilmu pada zamannya, bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, akan tetapi tidak mendapatkan hasil dan tidak mendapat manfaat atau buahnya ilmu, yaitu berupa pengamalan dari ilmu yang dipelajari dan menyebarkannya.”

Berdasarkan penjelasan di atas, ternyata bersungguh-sungguh atau semangat saja tidak cukup mengantarkan pada ilmu yang bermanfaat. Sehingga, hasilnya antara ilmu dan perbuatan tidak sinkron atau tidak sesuai. Kembali Al Imam menyebutkan bahwa, “Tidak bermanfaatnya ilmu dikarenakan para penuntut ilmu menempuh jalan yang keliru dan meninggalkan syarat-syaratnya. Dan setiap orang yang salah jalan maka akan tersesat, dan dia tidak akan mendapatkan apa-apa yang dia maksud atau tidak dapat mencapai suatu tujuan.”

Oleh karena itu, untuk para penuntut ilmu seyogyanya mempelajari kitab Ta’lim Muta’alim Thariq At-Ta’alum, yang di dalamnya berisi tentang jalan atau cara dalam menuntut ilmu dan adab-adab dalam majlis ilmu. Adapun kitab ini terbagi atas tiga belas bab.

Pertama, menjelaskan tentang hakikat ilmu fiqh, hukum mencari ilmu dan keutamaannya. Kedua, menjelaskan tentang niat dalam mencari ilmu. Ketiga, cara memilih ilmu, ustadz, teman dan ketekunan. Keempat, cara menghormati ilmu dan guru (ahli ilmu). Kelima, bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu, istiqamah dan cita-cita yang luhur. Keenam, bagaimana memulai perjalanan dalam menuntut ilmu, ukuran dan susunan (urutannya). Ketujuh, tawakal. Kedelapan, waktu dalam belajar. Kesembilan, saling mengasihi dan saling menasihati. Kesepuluh, tentang mengambil manfaat ilmu, mengutip, dan mempelajari adab. Kesebelas, bersikap wara’ (berhati-hati) ketika menuntut ilmu. Kedua belas, tentang hal-hal yang dapat menguatkan hafalan dan hal-hal yang dapat melemahkannya. Ketiga belas, tentang hal-hal yang mempermudah datangnya rezeki dan hal-hal yang mencegahnya, hal-hal yang dapat menambah umur dan yang menguranginya.

Waallahu a’lam Bishowwab.

Sumber : Kitab taklimul muta’alim

 

[ra/LM]

Please follow and like us:

Tentang Penulis