Politik Pelik di Tengah Larangan Mudik

Oleh: Yuke Octavianty, SP.

 

Lensa Media News – Urbanisasi sudah berlangsung sangat lama di negeri kita. Perpindahan orang dari desa ke kota dalam jumlah besar memicu tradisi mudik pada waktu serentak, misalnya saat hari raya tiba. Tak jarang, tradisi ini melahirkan beribu masalah. Kemacetan, kerusuhan, ketidakstabilan harga bahan pangan hingga masalah kesenjangan sosial.

Sejak pandemi menyapa negeri, ada kebijakan pemerintah mengenai larangan mudik. Tahun ini, 2021, pemerintah resmi melarang mudik per tanggal 6-17 Mei 2021 (detiknews.com, 7/5/2021). Pemerintah mengimbau masyarakat untuk bersilaturahmi melalui telepon maupun video call  (mudik online/mudik virtual).

Namun sangat disayangkan, usaha pemerintah, gagal total dalam melarang aktivitas mudik di era pandemi. Lalu-lalang masyarakat begitu masif dalam menyambut hari raya. Meskipun razia mudik dilakukan di banyak titik, seperti di gerbang tol Cikarang dan Cikupa, masih banyak juga kendaraan yang melintas. Sekitar 725 kendaraan diputar balik dan tiga kendaraan lainnya diamankan oleh polisi di dua titik penyekatan, yakni Gerbang Tol Cikarang Barat dan Gerbang Tol Cikupa. Padahal larangan mudik sudah sejak lama disosialisasikan pemerintah melalui sederet aturan yang tercantum dalam Surat Edaran Satgas Penanganan Covid-19 Nomor 13 Tahun 2021 tentang Peniadaan Mudik Hari Raya Idul Fitri Tahun 1442 H (detiknews.com, 6/5/2021).

Di tengah larangan mudik, puluhan warga Cina membanjiri Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng pada Selasa sore (4/5/2021) sekitar pukul15.30 WIB (geloranews.com, 6/5/2021). Tak berapa lama, gerombolan orang Cina tersebut dijemput oleh sebuah bis besar. Terang saja, peristiwa ini mengundang tanda tanya bagi masyarakat. Tak hanya dari Cina, WNA pun berdatangan dari negara yang tengah mengalami tsunami covid, India pada 11-22 April 2021 (kompas.com, 23/4/2021). Sebetulnya kebijakan seperti apa yang diinginkan para penguasa? Di satu sisi melarang keras rakyatnya mudik, namun di sisi lain, WNA dengan mudahnya masuk ke negeri kita.

Wajar saja jumlah penyebaran covid-19 terus bertambah dari hari ke hari. Pemerintah rupanya tak serius dalam menangani pandemi. Sistem kapitalisme yang bersandar pada sistem kufur Barat, mengutamakan materi di atas segala-galanya. Sistem kufur yang fasad sudah pasti melahirkan kebijakan-kebijakan yang merusak tatanan kehidupan. Nyawa rakyat tak pernah dipandang berharga di hadapan para pemilik kebijakan. Jutaan nyawa melayang karena tak adanya perlindungan dari negara, padahal negara yang seharusnya menjadi pemelihara umat. Hanya materi yang terus dicari oleh negara. Hal ini jelas sangat tampak pada kebijakan pemerintah yang melarang mudik, sementara kedatangan warga negara asing tak dicegah. Selain itu, pemerintah pun memutuskan pelonggaran keran wisata, saat larangan mudik diberlakukan (kompas.com, 6/5/2021). Sungguh kebijakan zalim!

Sistem kapitalisme sangat berbeda jauh dengan sistem Islam. Islam sangat menghargai setiap nyawa rakyat. Dari al-Barra’ bin Azib radhiyallahu‘anhu, Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda:
لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِغَيْرِ حَقٍّ
Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibanding terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasa’i 3987, Tirmidzi 1455, dan disahihkan al-Albani).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ
_“Jangan sekali-kali kamu mengira, Allah akan melupakan tindakan yang dilakukan orang zalim. Sesungguhnya Allah menunda hukuman mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak (karena melihat azab).” (QS. Ibrahim: 42).

Setiap kezaliman pasti akan ada balasannya. Kebijakan pemerintah yang penuh kezaliman pasti sudah disiapkan balasannya oleh Allah SWT., Sang Pemilik Kekuasaan di langit dan di bumi. Saat pemerintah hanya mengutamakan kekuasaan dan jabatannya semata-mata demi materi tanpa mengindahkan nasib umat, sungguh inilah kezaliman yang nyata. Nyawa rakyat tak dinilai berharga. Inilah hasil penerapan sistem kapitalisme yang bersandar pada sekularisme. Nyata-nyata memisahkan kehidupan agama dalam kehidupan. Bahkan, saat pandemi corona menerpa, nyawa sudah begitu banyak bergelimpangan, ekonomi dan materi tetap menjadi tujuan utama.

Islam lah satu-satunya sistem sahih yang diwajibkan Allah untuk diterapkan oleh seluruh umat. Islam menjamin perlindungan dan keselamatan seluruh umat. Dengan menerapkan Islam, niscaya rakyat meraup berkah karena ketaatan kepada Allah. Sistem Islam adalah sistem yang dicontohkan Baginda Rasulullah SAW. Akankah kita terus mengingkarinya?

Wallahua’lambishawwab.

 

[lnr/LM]

Please follow and like us:

Tentang Penulis