Tenggelam Dalam Kepengurusan Kelam

Oleh: Ummu Sansan
(Komunitas Pena Cendekia)

 

Lensa Media News – Status “Eternal Patrol” tersemat pada KRI Nanggala 402. Suasana duka menyelimuti seluruh negeri. Para ksatria telah pergi. Berpatroli mengamankan negeri dengan abadi. Syahid bersama kapal selam tempatnya mengabdi.

Tak semua rakyat mengerti bahwa negeri ini memiliki kapal selam dan ksatria yang gagah berani. Lebih tak mengerti lagi ketika ternyata usia kapal selam yang dimiliki sudah 40 tahun lebih. Ironis. Negeri maritim dengan segudang prestasi para marinirnya ternyata tertinggal jauh dari sisi teknologi. Lantas mampukah mempertahankan negeri bahari dengan alutsista (alat utama sistem pertahanan) yang mengenaskan ini?

Selama ini, alutsista untuk matra laut lebih didominasi kapal permukaan, dengan rincian: 24 unit korvet, 7 unit frigate, 179 kapal patroli, dan 10 kapal penyapu ranjau. Indonesia pernah memiliki 12 kapal selam kelas Whiskey buatan Rusia (Uni Sovyet) pada masa Soekarno. Namun karena krisis suku cadang maka tahun 1970 kedua belas kapal selam dipensiunkan.

Indonesia baru memiliki kapal selam lagi pada tahun 1980. Hingga saat ini total kapal selam yang dimiliki Indonesia sebanyak 5 buah. Lima kapal selam tersebut jika dibagi dengan luas wilayah perairan Indonesia yang harus dijaga ialah 1 banding 650.000 km2. Suatu skala perbandingan wilayah yang masih terlalu luas untuk keberadaan kapal selam yang masih minim (news.detik.com, 23/3/2021).

Tak hanya jumlah kapal selam yang tak sebanding dengan luas lautan, tapi alutsista yang ada juga jauh dari modernisasi dan kecanggihan teknologi. Biaya alutsista standar yang harus dipenuhi seperti itu jelas tidak sedikit. Terlebih ketika memang tidak dianggarkan secara khusus. Selain itu, perawatan, ketersediaan, hingga modernisasi alutsista bukan prioritas dibandingkan pembangunan kesejahteraan dan infrastruktur. Belum lagi tidak mendatangkan keuntungan secara materi. Maka alokasi dana bagi alutsista akan menjadi nomor kesekian.

Inilah cara pandang dalam sistem kapitalisme. Jelas bahwa keuntungan materi menjadi nomor satu dan utama. Selain itu anggaran dana yang dimiliki negara lebih banyak bersumber pada pajak dan utang sehingga sangat berpeluang tawar menawar keuntungan dengan pihak yang memberikan utang. Jika itu terkait dengan sistem pertahanan sebuah negara tentu sangat riskan bukan?

Padahal negeri ini sangat butuh sistem pertahanan yang kuat. Apalagi sebagai negara bahari yang dikelilingi oleh lautan yang luas maka kekuatan militer harus memiliki pasukan yang gagah berani serta dukungan sarana prasarana yang memadai. Jika tidak, ancaman atas kedaulatan negeri menjadi masalah besar.

Adapun dalam pandangan Islam justru sistem pertahanan dan sarana prasarana harus dicukupi untuk menggentarkan musuh. Sebagaimana Allah perintahkan dalam QS. al-Anfal ayat 60 yang artinya

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kalian menggentarkan musuh Allah, musuh kalian, dan orang-orang selain mereka yang kalian tidak mengetahuinya; sedangkan Allah mengetahuinya. Apa saja yang kalian nafkahkan pada jalan Allah, niscaya akan dibalasi dengan cukup kepada kalian dan kalian tidak akan dianiaya”.

Maka, bagi umat Islam dan negeri dengan mayoritas Islam mestinya memenuhi seruan ini, seraya mengalokasikan dana yang cukup untuk melengkapi kekuatan militer saat menghadapi musuh.

Karenanya, tragedi Nanggala sebenarnya menjadi pembuka tabir atas sistem pertahanan negeri yang rapuh. Saatnya umat menyadari ancaman bahaya atas negeri ini dengan kelemahan sistem tersebut. Ditambah dengan sistem yang mendasarinya yaitu kapitalisme sekularisme yang lebih mengutamakan keuntungan materi.

Sungguh tidak layak lagi bergantung pada sistem yang hanya berpihak pada keuntungan materi saja, saatnya mencampakkannya dan menggantinya dengan sistem yang mampu menjaga negeri ini tetap aman dan berdaulat. Yaitu sistem yang menerapkan aturan Islam dengan sempurna dan menyeluruh. Ketahanan negeri dan kedaulatan niscaya akan utuh. Wallahua’lam bisshowab. [LM/Mi]

Please follow and like us:

Tentang Penulis