Ramadan Penuh Kesan Bersama Ananda

Oleh: Sri Purwanti, A.Md. K.L
(Pegiat Literasi, Founder Rumah Baca Cahaya Ilmu)

 

Parenting- Ramadan bulan yang penuh berkah dan ampunan. Momen Ramadan merupakan salah satu momen yang tepat untuk mengenalkan berbagai macam syariat Allah kepada anak-anak, terutama kewajiban puasa.

Anak-anak yang belum mencapai akil balig memang tidak di wajibkan untuk berpuasa. Namun ayah dan bunda bisa memanfaatkan momen Ramadan ini untuk mengenalkan dan mengajarkan salah satu rukun Islam kepada Ananda, sehingga mereka bisa memahami ajaran Islam sejak dini.

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan supaya bulan Ramadan ini menjadi bulan yang penuh kesan. Terutama bagi Ananda yang baru belajar berpuasa.

Pertama, ayah dan bunda bisa melakukan sounding tentang apa makna puasa dan mengapa umat Islam harus berpuasa. Hal ini penting supaya anak tidak sekedar ikut-ikutan berpuasa tetapi mereka memahami hikmah apa yang bisa diambil dari perintah Allah untuk menjalankan puasa. Informasi ini akan menjadi maklumat tsabiqah yang akan melekat dalam memori anak, sehingga ayah dan bunda perlu menggunakan pemilihan kata yang tepat ketika memberikan penjelasan terkait ibadah puasa. Dalam tahap ini orang tua bisa menggunakan media buku atau lagu.

Seminggu sebelumnya bunda bisa mulai menyusun menu yang bergizi seimbang, melatih pola makan ananda yang biasanya tiga kali sehari diselingi camilan menjadi dua kali sehari. Anak-anak juga mulai diajak bangun dini hari supaya pada hari pertama puasa mereka tidak kesulitan bangun untuk makan sahur.

Kedua, tidak perlu memberikan target yang terlalu tinggi, terutama untuk anak yang baru pertama kali ikut berpuasa. Melatih anak berpuasa Ramadan berbeda dengan mewajibkan mereka berpuasa, maka orang tua harus memperhatikan kondisi dan kemampuan anak. Anak bisa latihan puasa dengan patokan jam berapa boleh berbuka, dan berapa kali berbuka selama satu hari berpuasa. Ini bisa ditingkatan perlahan setiap hari secara bertahap. Trik ini juga bisa menghilangkan kesan bahwa puasa itu tidak enak, menyiksa dan kesan negatif yang lain.

Hari pertama puasa merupakan masa penyesuaian tubuh terhadap rasa lapar dan haus, jadi kemungkinan anak akan merasa ngantuk, terlihat lemas. Orang tua bisa menawarkan tidur siang atau memberikan kegiatan alternatif yang mereka sukai misalnya mewarnai, membaca buku bersama, lomba menghapal ayat dan kegiatan yang bersifat positif lainnya.

Ketiga, melibatkan anak dalam setiap aktivitas. Orang tua bisa mengajak anak untuk menyiapkan buka puasa. Bunda juga bisa menyiapkan menu spesial kesukaan anak untuk sahur dan berbuka sehingga anak akan lebih bersemangat melaksanakan puasa Ramadan.

Keempat, ajak anak melaksanakan salat tarawih dan tadarus bersama sehingga anak bisa merasakan perbedaan suasana Ramadan dengan hari biasanya. Aktivitas ini bisa dilaksanakan di rumah mengingat pandemi belum usai. Ayah dan bunda bisa memanfaatkan mushala yang ada di rumah, jika tidak ada maka bisa memanfaatkan ruang keluarga untuk melaksanakan ibadah bersama.

Kelima, ayah dan bunda bisa memberikan reward apabila anak berhasil menjalankan ibadah puasa. Bisa berupa bintang prestasi yang dikumpulkan selama satu bulan, bisa juga reward yang lain. Tidak perlu mewah, yang penting anak semakin termotivasi untuk melaksanakan puasa pada hari berikutnya.

Keenam, memahamkan konsep berbagi. Bulan Ramadan merupakan momen yang tepat untuk mengajarkan anak bagaimana dia harus berbagi. Meskipun dalam kondisi pandemi tidak berarti kita tidak bisa berbagi. Ajak Ananda untuk membagikan menu takjil dan menu buka puasa kepada tetangga di sekitar rumah.

Momen Ramadan juga bisa menjadi momen untuk mengenalkan konsep kesabaran kepada anak, bagaimana mereka harus bersabar ketika haus dan lapar, dengan begitu anak juga akan terbiasa untuk bersabar ketika menginginkan sesuatu, mereka akan belajar memahami bahwa semua perlu proses, tidak semua yang di inginkan harus ada saat itu juga. Wallahu A’lam. [LM]

Please follow and like us: