Berebut Potensi Indo-Pasifik, di Mana Peran Islam?

Presiden AS terpilih Joe Biden mengadakan pertemuan empat arah pertama dengan para pemimpin Australia, India, dan Jepang. Pertemuan ini untuk meningkatkan upaya memperkuat aliansi karena kekuwatiran atas kebangkitan Cina (Liputan6.com 12/03/2021).

Negara-negara Quad yang terdiri dari Australia, India, Jepang, dan Amerika Serikat akan menjadi “jangkar bagi perdamaian dan stabilitas di Indo-Pasifik” sembari memimpin perjuangan melawan pandemi virus korona, demikian yang ditegaskan kembali oleh para pemimpin keempat negara demokrasi itu selama KTT perdana mereka.

Indo-Pasifik yang dimaksud di sini adalah negara-negara yang terletak secara geografis di belahan kawasan Samudera Hindia dan bentangan kawasan laut Samudra Pasifik. Parameter fisik Samudera Hindia areanya mencakup luas 68,6 juta kilometer persegi. Samudera Pasifik areanya mencakup 155,6 juta kilometer persegi. Garis pantai Samudera Hindia mencapai 66.526 km dan Samudera Pasifik mencapai panjang 135.663 km.

Kondisi geografis di antara dua samudra itu, tentulah amat strategis dari sisi politik, militer, ataupun ekonomi. Potensi inilah yang diperebutkan banyak negara besar di kawasan, terutama Cina, India, dan Jepang yang tengah berkontestasi dalam memperebutkan sumber-sumber investasi baru.

Seyogianya sebagai sebuah negeri Islam yang secara geografis berada pada titik tengah antara Samudera Hindia dan juga Samudra Pasifik. Indonesia mampu melihat sebuah celah untuk memainkan peranan yang lebih di dalam konsep kawasan baru ini. Namun, selama masih berada di bawah kendali sistem kapitalisme, maka, negeri Islam yang kaya seperti Indonesia hanya menjadi objek kepentingan negara kapitalis Barat dan Timur. Selalu terombang-ambing di antara dua kekuatan besar AS dan Cina. Sungguh, benar apa yang pernah digambarkan Rasulullah bahwa umat Islam bagaikan sepiring makanan yang diserbu serigala lapar. Wallahu a’lam bisshowwab.

Teti Ummu Alif
Kendari, Sulawesi Tenggara

[LM]

Please follow and like us: