Menjaga Anak dari Dampak Negatif Media

Oleh: Sri purwanti, Amd.KL

(Pegiat Literasi , Founder RumBa Cahaya Ilmu) 

 

Parenting – Dewasa ini perkembangan teknologi semakin pesat. Media sudah menjadi konsumsi semua kalangan mulai dewasa hingga anak-anak. Akses internet yang cepat dan mudah tentu saja membawa dampak yang serius, baik positif maupun negatif. Terlebih selama pandemi anak-anak melakukan proses belajar jarak jauh (dalam jaringan).

Media sosial memiliki pengaruh yang sangat cepat dan kuat, sehingga jika tidak terkontrol maka anak-anak akan rentan terkena dampak negatif. Terpapar konten yang tidak sesuai norma atau bahkan kecanduan gadget karena terlalu sering mengakses media sosial dalam jangka waktu yang lama.

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk menjaga anak dari paparan negatif media.

Pertama, adalah membekali anak dengan keimanan yang kuat. Dengan hadirnya rasa takut karena merasa diawasi oleh Sang Pencipta maka anak akan berhati-hati dalam mengakses berbagai informasi, terutama yang memiliki konten negatif. Mereka akan memiliki kontrol diri yang kuat, sehingga bisa menjadi rem dalam mengakses media sosial.

Kedua, senantiasa mendampingi anak selama proses belajar daring (dalam jaringan), dengan begitu orang tua akan bisa mengontrol aktivitas anak di media. Proses ini juga bisa meningkatkan bonding antara orang tua dengan anak. orang tua juga bisa menjelaskan mana konten yang boleh di akses dan mana yang tidak.

Ketiga, memberikan edukasi tambahan ketika anak memiliki minat yang tinggi tehadap teknologi. Orang tua bisa mengarahkan potensi anak supaya bisa berkontribusi untuk syiar Islam, bisa melalui konten video maupun tulisan.

Keempat, orang tua melakukan kontrol terhadap pemakaian gadget maupun media lainnya (televisi). Orang tua harus memastikan konten yang diakses anak-anak bebas dari konten yang bermuatan negatif. Tidak hanya fokus pada kemudahan yang diberikan oleh teknologi tetapi juga tanggap dan sigap dalam membentengi anak-anak dari pengaruh negatif yang muncul.

Kelima orang tua harus mampu menjadi panutan yang baik dalam memanfaatkan teknologi. Anak adalah peniru ulung, mereka akan meniru apa yang mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari. Ketika orang tua menghendaki anak-anak bijak dalam menggunakan teknologi, maka orang tua harus memberikan contoh. Misalnya orang tua menetapkan jadwal kapan harus memegang gadget dan kapan tidak. Seharusnya orang tua juga patuh pada aturan tersebut. Bukan hanya mengedukasi anak-anak tetapi memberikan contoh nyata.

Keenam, membangun komunikasi yang hangat dengan anak. Tidak bisa dipungkiri kadang anak-anak lebih mahir mengakses smartphone dibandingkan dengan orang tua. Jika hal ini terjadi maka orang tua harus menjelaskan norma yang berlaku di dunia maya. Menjaga interaksi mereka supaya tidak membuka celah tejadinya kejahatan melalui dunia maya.

Ketujuh, membuat kesepakatan bersama terkait penggunaan gadget. Orang tua bisa membuat perjanjian dengan anak, kapan mereka boleh memegang/pinjam gadget. Orang tua juga harus tetap memantau proses pembelajaran daring, terutama ketika mereka harus mengakses portal-portal online. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi munculnya konten-konten yang kurang layak untuk anak selama proses pembelajaran berlangsung. Akhir-akhir ini banyak konten kurang layak yang sering singgah di beranda yang sedang kita akses. Jika anak dibiarkan tanpa pendampingan maka bisa berakibat fatal.

Hidup dalam sistem kapitalis sekuler yang memisahkan agama dengan kehidupan memang memang memerlukan perjuangan ekstra. Sebagai orang tua kita memiliki PR besar untuk menjaga anak-anak agar bisa tetap tumbuh menjadi pribadi generasi yang salih, terjaga dari fitnah dunia. Semoga Allah memudahkan kita untuk menjaga generasi muda calon pewaris tongkat estafet perjuangan.

Wallahu a’lam

 

[LM] 

Please follow and like us:

Tentang Penulis