Ironi Pengentasan Kemiskinan Massal ala Kapitalisme

Isu kemiskinan terus menjadi hal menarik yang ramai dibicarakan hingga saat ini. Bank Dunia merilis laporan bertajuk “Aspiring Indonesia, Expanding the Middle Class”. Dalam riset itu, tingkat kemiskinan di Indonesia saat ini di bawah 10% dari total penduduk. Rerata pertumbuhan ekonomi pun diprediksi 5,6% per tahun selama 50 tahun ke depan. Namun, 115 juta orang atau 45% penduduk Indonesia belum mencapai pendapatan yang aman. Alhasil, mereka rentan kembali miskin.

 

Padahal pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai cara guna mengentaskan problem kemiskinan yang membelengu negeri ini, mulai dari pemberian bantuan sosial, hingga bantuan modal kerja. Namun, apalah daya semua usaha tersebut hanya mampu menurunkan presentase kemiskinan semata. Sebab, upaya penurunan angka kemiskinan yang dilakukan negara ini lebih banyak mengotak-atik angka melalui pembuatan standarisasi/ukuran, bukan menghilangkan kondisi kemiskinan secara nyata, yakni memastikan seluruh rakyat dapat memenuhi seluruh kebutuhan pokoknya, (sandang, pangan, dan papan).

 

Inilah ironi sistem kapitalisme, yang mana dia telah menjauhkan peran utama negara dalam memenuhi hajat hidup rakyatnya. Negara hanya akan berorientasi kepada penurunan angka kemiskinan semata, tanpa menyentuh akar permasalahannya. Memberikan solusi semu terhadap sebuah permasalahan, bahkan tak jarang solusi tersebut semakin menimbulkan permasalahan baru. Misalnya pencabutan subsidi, yang mana pencabutan subsidi tersebut bisa berimbas pada kembalinya rakyat kelas menengah pada jurang kemiskinan, dan bertambahnya penderitaan rakyat.

 

Berbeda dengan Islam. Islam memandang masalah kemiskinan merupakan problem sistemik yang membutuhkan penyelesaian secara sistemik pula. Islam tak hanya berorientasi terhadap penurunan angka kemiskinan semata, tetapi penghapusan kemiskinan secara nyata.

 

Sejarah mencatat bahwa saat Islam berkuasa, tidak ada rakyat yang mengalami kemiskinan seperti saat ini. Seperti pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Al-Khattab dan Umar bin Abdul Aziz. Di mana pada masa itu, khalifah sangat memperhatikan kondisi rakyatnya. Pada masa itu pula saat khalifah ingin membagikan zakat kepada rakyat miskin, namun di setiap sudut kota tidak ditemukan rakyat miskin yang berhak menerima zakat. Seluruh rakyatnya telah mampu memenuhi hajat hidup mereka. Sungguh gemilang masa kejayaan Islam dalam mengentaskan kemiskinan.

 

Sehingga jika pemerintah benar-benar ingin mengentaskan masalah kemiskinan dari negeri ini, maka negara harus berorintasi terhadap pemenuhan hajat hidup rakyatnya. Bukan mengotak-atik angka semata. Pun juga melakukan pengelolaan SDA dengan baik agar dapat menunjang pemenuhan kebutuhan rakyatnya. [LM] 

 

Siti Komariah,
Konda, Sulawesi Tenggara

Please follow and like us:

Tentang Penulis