Corona Menghantui, Islam Punya Solusi

Oleh: Erwina

(Komunitas Penulis Jombang)

 

 

LensaMediaNews— Bertambah lagi. Demikianlah jumlah penderita virus corona melonjak jadi 40.171 di seluruh China, dari semula 37.198 kasus pada Minggu kemarin. Kasus meninggal dunia bertambah 97 jiwa sehingga pada Senin (10/2) pagi total korban menjadi 908 orang. Angka kematian itu membuat kasus virus corona lebih mematikan dibanding Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS) yang pernah menyerang secara global pada 2002-2003, yakni 774 orang. Kasus kematian terbanyak terjadi di Provinsi Hubei yang menjadi tempat awal penyebaran wabah, yaitu 91 kematian (m.cnnindonesia.com/10/2/2020).

 

Virus corona diyakini mulai muncul tahun lalu di pasar yang menjual hewan liar di ibu kota Provinsi Hubei, Wuhan, sebelum kemudian menyebar ke penjuru negeri dan bahkan lintas negara (https://m.cnnindonesia.com/9/2/2020). WHO (Badan Kesehatan Dunia) sendiri telah mendeklarasikan wabah virus corona novel berstatus gawat darurat pada tanggal 31 januari yang lalu. Keputusan itu diambil dalam rapat yang digelar di Jenewa, Swiss. Kondisi ini membutuhkan tanggap dan koordinasi dari seluruh dunia. Status serupa pernah ditetapkan ketika merebaknya wabah Ebola, Zika, dan H1N1 (https://m.cnnindonesia.com/3/2/2020).

 

Sayangnya Indonesia lamban bersikap menghadapi wabah corona. Baik terkait kebijakan, antisipasinya, maupun informasi dan sosialisasi tentang corona. Tak heran 54 berita hoax seputar corona muncul dan meresahkan masyarakat. Lambannya sikap pemerintah ini dikritik oleh para anggota dewan.

 

Sikap yang diambil yaitu dengan menyiapkan alat sensor suhu tubuh pada 135 pintu masuk-keluar Indonesia tanpa ada aturan pelarangan masuk warga China yang notabene sebagai negara asal wabah ke Indonesia. Sikap lain baru dilakukan Indonesia setelah WHO memberlakukan status gawat darurat. Seperti evakuasi warga negaranya yang terjebak di Wuhan, China. Kini, 238 WNI tersebut masih dalam tahap observasi di Pangkalan Udara Militer Lanud Raden Sadjad Natuna, Kepulauan Riau, sejak 2 Februari 2020 lalu.

 

Adapun Indonesia sendiri berstatus Zero Corona. Hal ini berdasarkan sampel dugaan virus corona dari total 50 sampel kasus yang masuk di 18 provinsi di Indonesia, 49 sampel dinyatakan negatif dan satu sampel masih dalam observasi lebih lanjut. Sedangkan seorang WNI dipastikan positif menderita corona di Singapura. Disebutkan bahwa TKI (Tenaga Kerja Indonesia) tersebut tertular virus corona dari majikannya (suara.com/9/2/2020).

 

Selanjutnya sikap yang diambil Pemerintah Indonesia berupa penutupan sementara penerbangan dari dan ke China. Juga menghentikan sementara pemberian bebas visa kunjungan dan visa on arrival untuk warga negara China. Ditambah pemerintah juga melarang seluruh impor hewan hidup dari negeri tirai bambu.

 

Alhasil kebijakan yang diambil menuai protes dari China. Keputusan tersebut dianggap overreaktif. Duta Besar Cina, Xiao Qian menyayangkan pelarangan impor dari China. Menurutnya virus corona tidak menular lewat barang. Juga keputusan yang lain. Namun Indonesia tetap kukuh pada kebijakannya dan menyatakan kepentingan nasional merupakan nomor satu. China beranggapan larangan dalam kebijakan Indonesia akan berpotensi mengganggu kerjasama dengan China dan akhirnya Indonesia berpotensi merugi secara ekonomi maupun pariwisata apabila melanjutkan pembatasan yang ada (https://nasional.tempo.com/5/2/2020).

 

Demikianlah, ketika ideologi kapitalisme mencengkeram, tugas utama pemerintah sebagai pelindung dan pelayan rakyat terabaikan hanya dijalankan alakadarnya. Ketika negara lain bersegera mengevakuasi warganegaranya yang berada di Wuhan, Indonesia belum menentukan sikap apapun. Termasuk sosialisasi yang minim pada masyarakat Natuna ketika diputuskan karantina di sana. Demo meminta pengalihan tempat juga kompensasi hanya disebutkan kompensasi dengan doa. Sungguh tidak ada jaminan kesehatan sedikitpun.

 

Semestinya penguasa harus menjadi yang terdepan dalam melindungi rakyatnya termasuk saat menghadapi wabah penyakit. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah saw “Imam (Khalifah) yang menjadi pemimpin manusia, adalah (laksana) penggembala. Dan hanya dialah yang bertanggungjawab terhadap (urusan) rakyatnya.” (HR Al- Bukhari).

 

Juga antisipasi maupun upaya menghadapi wabah penyakit telah diajarkan Rasulullah saw seperti yang tertuang dalam hadis yang diriwayatkan dari Abdurrahman bin Auf dalam kitab Shahih Muslim dengan nomor kodifikasi 4115. “Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, maka janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, janganlah kamu keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri darinya.”

 

Maka karantina dan berupaya menemukan obatnya melalui penelitian menjadi suatu keniscayaan. Demikian pula berbagai upaya pencegahan agar tidak tertular juga harus dilakukan. Termasuk peningkatan daya tahan tubuh rakyat haruslah dijamin dengan pemenuhan gizi yang optimal. Selain itu, fasilitas sarana dan prasarana kesehatan yang lengkap wajib tersedia untuk memberikan pelayanan kesehatan yang prima. Sudahkah Indonesia melakukan itu semua? Jawabnya tidak, maka saatnya melirik solusi dari yang lain, yaitu solusi Islam. Wallahua’lam bishshowab. [RA/LM] 

Please follow and like us:

Tentang Penulis