Aktivis Kehilangan Jati Diri?

Oleh: Aisyah Rahma.Nst

 

LenSaMediaNews– Aktivis, seringkali diikuti kata mahasiswa karena kedua hal ini seperti dua sisi mata uang yang saling terkait satu sama lain, tidak dapat dipisahkan. Mahasiswa memiliki kedudukan istimewa dalam masyarakat terutama perannya sebagai agent of change (agen perubahan). Yang dituju oleh seorang mahasiswa bukan sekedar nilai akademik, namun mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Begitulah peran mahasiswa sesungguhnya, terlebih kepada mahasiswa yang aktif di organisasi kampus, atau biasa disebut aktivis.

Jati diri seorang aktivis adalah sikap idealis, peduli dengan keadaan sekitar dan hasrat ingin melakukan suatu perubahan, kemudian hal inilah yang menyebabkan mereka bergerak melakukan berbagai kegiatan sebagai wujud rasa peduli dan keinginan untuk melakukan perubahan.

Para aktivis adalah mahasiswa yang tanggap terhadap permasalahan yang ada, baik itu permasalahan sosial, ekonomi, budaya maupun perpolitikan. Aktivis adalah yang pertama bersuara saat suatu hal tidak sesuai dengan kaidah dan norma yang seharusnya.

Ironisnya saat ini aktivis bak kehilangan jati diri. Mata para aktivis seolah tertutup dari kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat. Pun begitu, aktivitas dari para aktivis tidak aktif cenderung pasif. Tidak bergerak ke arah perubahan hakiki.

Bercermin dari 20 tahun yang lalu saat rezim orde baru berkuasa hingga 32 tahun berhasil ditumbangkan karena keberanian dan pantang menyerah serta keyakinan yang dimiliki para aktivis kala itu. Hingga terjadilah reformasi.

Jika ditelisik asas pergerakan aktivis kala itu, tetap tidak dapat dibenarkan karena perjuangannya tidak menjadikan perubahan hakiki hingga mencapai revolusi. Namun dari hal itu kita dapat belajar bahwa begitu luas cakupan yang dapat dilakukan oleh seorang aktivis yang notabenya adalah seorang pemuda.

Begitu besar potensi yang Allah berikan pada seorang pemuda untuk dapat bergerak dan oleh karenanya, kelak Allah akan pertanyakan di yaumil akhir. Untuk apa masa mudanya dihabiskan.

Lantas saat ini yang jadi pertanyaan besar adalah mengapa seolah aktivs sekarang telah kehilangan jati dirinya?

Pergerakan yang dilakukan seolah redam dan tak terlihat lagi. Itu disebabkan fokus para aktivis mulai berubah. Bukan lagi mengenai perubahan secara keseluruhan menuju sesuatu yang lebih baik namun terkesan hanya mementingkan golongannya saja.

Jika aktivis dahulu melakukan konsolidasi dengan organisasi-organisasi lainnya, namun saat ini cenderung mulai bergerak sendiri-sendiri. Dahulu menjunjung idealisme dan mengedepankan kepentingan masyarakat namun saat ini berbeda.

Memang, aktivitas yang mereka lakukan dapat memberi manfaat, hanya saja manfaat ini hanya dapat dirasakan oleh sebagian orang saja. Tidak mencakup hajat hidup orang banyak.

Itulah mengapa aktivis saat ini seolah kehilangan jati diri mereka sebenarnya. Aktivis tidak lagi menjadi pembawa perubahan bagi masyarakat secara menyeluruh, melainkan lebih mementingkan hal-hal yang dapat menguntungkan diri dan golongannya saja.

Tentu, masyarakat rindu dengan pergerakan aktivis yang mengarahkan pada perubahan hakiki. Aktivis yang tidak hanya mementingkan diri dan golongannya saja, tetapi menjadi kelompok yang berada pada garda terdepan memperjuangkan kebenaran dan menumpas kebatilan. Bukan melulu tentang eksistensi, tapi mampu memberi kontribusi demi kehidupan yang lebih baik lagi.

Wallahua’lam.

 

[Fa]

Please follow and like us:

Tentang Penulis