Oleh : Henyk Nur Widaryanti

 

LensaMediaNews- Tanah Papua menderita. Bergejolak, keributan di mana-mana. Pulau paling timur itu kini mendapat sorotan dunia. Aksi yang belum selesai, reaksi dari peristiwa pengepungan mahasiswa Papua di Malang dan Surabaya. Masalah ini tak kunjung usai.

Dilansir oleh Cnnindonesia.com (2/9) Kepala Staff Kepresidenan Moeldoko menyampaikan, Pemerintah Indonesia ingin memperoleh dukungan dari Amerika Serikat (AS) dalam penyelesaian masalah Papua.

Beliau menambahkan bahwa AS dengan pemerintah sama-sama memiliki kegiatan di Papua. Oleh karena itu Asisten Menteri Luar Negeri Amerika (David R. Stilwell) mendukung tentang kedaulatan negeri ini.

Sangat disayangkan, negeri yang baru saja merayakan hari kemerdekaannya justru meminta pertolongan asing untuk mempertahankan kedaulatannya. Hanya karena AS memiliki bisnis Freeport di Papua. Hal ini memperlihatkan kelemahan suatu bangsa dalam menyelesaikan masalah Papua.

Kedaulatan sebuah negara menunjukkan bahwa tidak boleh ada negara manapun ikut campur tangan menyelesaikan masalah dalam negeri. Suatu negara akan dihormati, disegani manakala memiliki prinsip yang jelas dan tegas.

Negeri ini telah memperlihatkan ketidakmandiriannya sebagai bangsa dalam menyelesaikan problem Papua. Meskipun dasar berdirinya negeri ini atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa, ketakutan akan bayang-bayang negara adidaya masih menyelimuti.

Pasalnya, sejak merdeka aturan yang diadopsi adalah kapitalis sekular. Dimana aturan bernegara dipisahkan dengan agama. Penerapan aturan disesuaikan dengan kebutuhan menurut pandangan pemimpinnya. Alhasil, setiap kepala atau pemimpin memiliki pemikiran sendiri-sendiri. Apalagi saat ini kebijakan diambil jika mendatangkan keuntungan.

Kini negara pemilik Freeport ini telah berhasil dengan hegemoninya menanamkan ketakutan pada dunia. Termasuk Indonesia. Dengan dalih memelihara perdamaian dunia, ia memanfaatkan keluguan suatu bangsa. Dengan ideologi kapitalisnya ia menjerat negara-negara berkembang dengan hutang. Rayuan manisnya membuat negara-negara bertekuk lutut dan menyerahkan kekayaannya.

Suatu ideologi hanya bisa dilawan dengan ideologi. Negara pun dilawan dengan negara. Ideologi adalah sebuah pandangan hidup yang melahirkan aturan. Ia akan cenderung menguasai dengan menyebarkan pemahamannya. Sebagaimana yang dilakukan oleh Amerika saat ini dengan kapitalisme sebagai ideologinya.

Ideologi yang benar adalah ideologi yang memiliki pandangan hidup yang benar. Kapitalisme dengan pandangan hidup sekular, hanya berbasis kompromi dan buatan manusia. Ideologi seperti ini tentu lemah.

Sedangkan Islam adalah pandangan hidup yang langsung bersumber dari pencipta manusia. Yaitu, Allah SWT. Tentulah ideologi ini kuat. Karena berasal dari Sang Pemberi Kehidupan. Yang menguasai dan mengetahui seluruh kebutuhan manusia.

Islam memiliki solusi atas masalah manusia. Mulai dari mengurus rumah hingga mengurus negara. Ada aturan Islam yang mengatur masalah pribadi seperti ibadah, akhlak, makanan dan pakaian. Dan ada juga yang perlu diterapkan oleh negara, seperti sistem pemerintahan, sistem ekonomi, pergaulan, pendidikan, kesehatan bahkan sistem sanksi.

Maka, selayaknya kita mengambil ideologi yang benar untuk menyelesaikan masalah disintegrasi bangsa. Islamlah yang mampu menandingi kapitalisme dan menyelamatkan Papua dari cengkeraman asing. Sehingga, kita tidak perlu lagi memohon-mohon pada raja kapitalisme untuk membantu masalah Papua. Kita hanya butuh Islam yang dibawa oleh suatu negara yang tidak hanya mempertahankan Papua, tapi juga menyatukan dunia.

Wallahu’alam bishowab.

 

[LS/Ry]

Please follow and like us:

Tentang Penulis