Ide: Kejar Daku, Kau Kutangkap

 

#Rabu Bersama Cikgu 06

Oleh Hasni Tagili

 

LenSaMediaNews– “Ide itu ada di mana-mana dan bisa ditangkap jika kita pandai menemukannya. Ide itu harus diburu, ditangkap, lalu dipenjara dalam halaman-halaman kertas dengan menuliskannya.”
Joni L. Effendi (Writing Donuts, hlm. 91)

Setelah menentukan tujuan mengapa teman-teman harus menulis, selanjutnya adalah mengumpulkan ide. Adakah yang sering frustrasi karena tulisan mandek, tidak ada ide, blank, atau tulisan dirasa membosankan? Hihi sepertinya ini masalah klasik setiap kuli pena ya 🤭

Bedanya, ada penulis yang ketika menghadapi kondisi tadi langsung kabur. Nggak balik-balik lagi nengok tulisannya. Mangkrak, mangkrak deh. Berpindah ke tulisan lain. Ada juga penulis yang memilih melawan. Menuntaskan apa yang sudah berani dia mulai. Meski terseok, tetap mencari jalan untuk kembali. Mencari jalan untuk mahir. Sebab, bukankah tulisan yang bagus adalah tulisan yang sampai di garis akhir? Teman-teman termasuk jenis penulis yang mana?

Bicara tentang ide, hakikatnya ia beterbangan di sekitar kita. Sisa kitanya saja yang mensensitifkan rasa. Lantas, ide bisa didapatkan dari mana saja?

 

🔥 Dari aktivitas membaca

Stephen King pernah berkata, “Mereka yang tidak mau meluangkan waktu untuk membaca tidak akan punya sarana dan kemampuan untuk menulis.” Yup, aktivitas membaca menjadi penting sekali bagi seorang penulis. Wajib, bahkan. Ini sebagai nutrisi bagi pemikiran.

Dalam kondisi blank ide ini, coba teman-teman baca koran atau majalah. Insyaallah di sana banyak sumber ide untuk menulis.

 

🔥 Dari rangkaian pengalaman

Ini cara paling sederhana dalam menghadirkan ide. Gali kembali di lorong-lorong waktu pengalaman pribadi yang kiranya bisa di-publish ke khalayak untuk diambil ibrahnya. Teman-teman juga bisa mendapatkan inspirasi dari pengalaman orang lain.

 

🔥Dari travelling

Yeay, travelling alias jalan-jalan cenderung mampu membuka dan meluaskan pandangan. Bertemu orang dan tempat baru akan menghasilkan pengalaman baru. Me-refresh otak secara otomatis. Meski begitu, tidak disarankan jalan-jalan yang sekadar belanja pakaian ya. Lebih afdal jika memilih berwisata alam, sejarah, atau budaya. Bakal kayak ada manis-manisnya gitu 😁

 

🔥 Dari trending topic atau current issue

Rajin memantau berita. Perhatikan apa yang lagi happening di lini masa. Biasanya itu bisa jadi sumber bergandengan tangan dengan aksara.

 

🔥 Dari hobi

Sebagian penulis besar memiliki hobi yang tidak relevan dengan menulis. Tetapi, dari hobinya itu, terkadang mereka mendapatkan inspirasi untuk menulis. Sebut saja Emily Dickinson yang ternyata suka sekali membuat kue; Ernest Hemingway adalah seorang pemburu dan suka memancing. Jago banget malah. Vladimir Nabokov suka mengumpulkan spesimen serangga; Ayn Rand kolektor prangko: Haruki Murakami suka banget lari pagi dan musik jazz. Teman-teman hobinya apa? 😅

 

 🔥Kontemplasi

Kondisi nggak punya ide pun ternyata bisa dijadikan sumber ide. Kok bisa? Ya, dengan cara menuliskan kegalauan sedang nggak punya ide itu. Kontemplasi cerdas untuk menuju sebuah perubahan. Bukan sekadar galau tak berkesudahan.

Tak kalah penting, begitu mendapatkan ide, cara terbaik menangkapnya adalah dengan menuliskannya.

Dengan menuliskan ide di buku catatan atau note gadget, teman-teman tidak perlu khawatir akan lupa dengan ide yang sudah didapatkan. Keuntungan lain dari rajin mencatat ide adalah teman-teman bisa membuka kembali catatan ide ini kelak saat lagi nggak punya ide.

Ntozake Shange, salah seorang penyair Jepang, pernah mengatakan, “Saya selalu membawa catatan  hampir setiap saat. Jika saya mendapat ilham untuk sebuah puisi, saya menulisnya di sana.” So, tuliskanlah ide teman-teman!

Jika setelah membaca tulisan ini tapi teman-teman masih ngeluh nggak punya ide, terlalu itu mah. Mintalah dikejar ide melalui tulisan, selanjutnya ide sendiri yang akan menangkap teman-teman. Nggak percaya? Yuk buktikan 🥰

 

[Fa]

Please follow and like us: