Ustazah Menjawab

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum wr. wb.
Ustazah, saya ingin bertanya soal maaf-memaafkan. Saya memiliki mantan ipar yang bercerai dengan adik saya. Dia salah paham pada saya, dan hingga saat ini tidak saling sapa. Saya ingin menyampaikan selamat Idul Fitri ke dia. Tapi, masih susah memaafkan dan bingung memulai dari mana. Apakah saya harus menjelaskan kejadian yang dulu? Saya harus bagaimana Ustazah?

Jawaban:

Momen Idul Fitri adalah momen tepat untuk menyambung persaudaraan yang terputus ataupun yang kurang erat. Terlebih, Syawal adalah awal dari berakhirnya Ramadhan. Dimana sejatinya kita telah meraih takwa dan menjadi pribadi yang lebih baik di mata Allah. Di antara ciri ketakwaan adalah memaafkan dan berbuat baik. Allah SWT berfirman,

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَـــافِينَ عَنِ النَّــاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُـحْسِنِــينَ

“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) pada saat sarrâ’ (senang) dan pada saat dlarrâ’ (susah), dan orang-orang yang menahan amarahnya, dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS Ali Imran: 134).

Maafkanlah kesalahan mantan ipar ukhti, karena itu merupakan ciri orang yang bertakwa. Terlebih jika ada ponakan, maka ukhti memiliki kewajiban untuk menyambung silaturrahim. Ucapkan selamat Idul Fitri, jika perlu berkunjunglah. Soal apakah perlu menjelaskan kejadian yang dulu, jika memang semua sudah legowo. Apabila membuka luka lama dan justru berimbas negatif pada silaturrahim, maka tak perlu dilakukan. Namun jika menimbulkan fitnah dan berefek baik pada silaturahim, jelaskan saja. Rasulullah Saw pernah menjelaskan pada sahabat bahwa wanita yang berjalan di dekatnya adalah istrinya. Hal ini dilakukan demi menghindari fitnah.

Semoga Allah memudahkan urusan ukhti.
Wallahu a’lam bishshawab

 

[LS]