Prostitusi Online, Wabah Tersembunyi Masyarakat Kapitalis

Oleh: Zhiya Kelana, S.Kom

(Kontributor Lensamedia) 

 

 

LenSaMediaNews.com__Ramadan harusnya menjadi momen pertaubatan bagi kita. Namun hal ini tidak berlaku bagi sebagian orang yang memang gemar maksiat. Apalagi menjadikan kemaksiatan itu sebagai lahan bisnis yang bisa menghasilkan pundi-pundi uang, demi mendapatkan hidup mewah ala kapitalis. Sehingga harga diri dan muruah wanita pun tak lagi ada. Kasus-kasus seperti ini semakin merebak setiap waktunya seperti bola salju yang mengelinding membesar.

 

Germo Dimas Tri Putra (27) menghasilkan uang hingga Rp300 juta dari menjalankan bisnis prostitusi online di Kota Bogor, Jawa Barat. Dia menjual 20 perempuan dengan tarif hingga Rp30 juta kepada pria hidung belang di berbagai wilayah di Indonesia. Dimas si muncikari menggeluti bisnis haram tersebut sejak 2019.

 

“Sementara semuanya mereka sudah dewasa. Mereka dikirimnya ke Jakarta, Jawa Tengah, Kalimantan, Bandung. Semuanya bersumber dari mucikari ini,” ujar Kasatreskrim Polresta Bogor Kota, Kompol Luthfi Olot Gigantara. Beliau menambahkan bahwa Dimas dan puluhan wanita tersebut awalnya sebatas teman nongkrong di Tempat Hiburan Malam (THM). (Tribunnews.co.id, 14-3-2024).

 

Kasus yang serupa terjadi di Parepare. Sebanyak 32 orang terjaring razia yang dilakukan Satpol PP, Polisi, dan TNI di hotel dan wisma di Kota Parepare, Sulawesi Selatan (Sulsel). Mereka diamankan usai diduga terlibat prostitusi online.

“Kami melakukan penertiban berdasarkan laporan masyarakat terkait maraknya prostitusi online,” ungkap Kasatpol PP Ulfa Lanto kepada media, Minggu (17/3). Razia gabungan menyasar hotel, penginapan, indekos dan wisma yang dicurigai digunakan untuk prostitusi online pada Sabtu (16/3). Petugas menggeledah kamar satu persatu dan menjaring pasangan yang dicurigai bukan suami istri. (Detik.com, 17-3-2024).

 

Fenomena Gunung Es

Kasus semacam ini terus terulang, bahkan merupakan fenomena gunung es. Maraknya kasus serupa salah satunya karena sistem sanksi yang tidak menjerakan juga sistem pendidikan yang gagal mencetak generasi berkepribadian Islam. Generasi yang sangat jauh dari nilai Islam, sehingga membuat mereka tak lagi mengetahui apa tujuan dari hidup, selain kesenangan semata.

 

Selain itu, kasus ini terkait dengan penyebab sistemik, yaitu penerapan sistem sekuler-kapitalis hari ini, yang berbuah kemiskinan dan buruknya perilaku. Sistem ini mendorong untuk mendapatkan uang dengan cepat dan banyak, tanpa peduli halal atau haram. Masyarakat terdesak untuk menghidupi dirinya dan keluarga karena kurangnya perhatian dari pemerintah. Sebagian dari mereka memilih menjual dirinya, meski kadang bukan sebuah keterpaksaan melainkan sukarela karena gaya hidup hedonisme.

 

Pandangan Islam Terkait Prostitusi

Islam menjadikan setiap perbuatan ada pertanggungjawabannya. Islam memiliki sistem sanksi yang tegas dan menjerakan. Sehingga masyarakat akan sangat berhati-hati dalam melakukan sesuatu. Karena mereka sadar bahwa perbuatan yang salah seperti berzina, akan mendapatkan sanksi di dunia berupa cambuk. Sanksi tersebut akan membersihkan dosa dan akan menyelamatkannya di akhirat.

 

Namun untuk itu butuh sebuah negara untuk menerapkannya, karena tanpa negara hukum cambuk serasa tak setimpal dan tidak membuat masyarakatnya takut. Allah berfirman:

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina maka deralah pada tiap-tiap dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada mereka mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhir, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman.” (TQS. An-Nur: 2)

 

Negara dalam sistem Islam juga akan menyediakan jaminan kesejahteraan. Hal tersebut akan menjaga masyarakat untuk tetap dalam koridor syara’, yang akan menjadi penghalang untuk melakukan kemaksiatan. Seperti memudahkan untuk mencari kerja bagi para suami dan istri tetap bisa mendidik anaknya di rumah tanpa perlu memikirkan hal lainnya.

Wallahu a’lam. [LM/Ss]

Please follow and like us:

Tentang Penulis