Islam Ajarkan Peduli Terhadap Tetangga

Oleh : Hanif Eka Meiana, SE

 

Lensa Media News – Jasad seorang ibu berinisial GAH (68) serta anak laki-lakinya berinisial DAW (38) ditemukan telah membusuk di kediaman mereka, Perumahan Bukit Cinere, Depok, Kamis (7/9/2023). Penemuan jasad GAH dan DAW bermula saat warga hendak mengajak acara jalan santai yang digelar perangkat RT setempat. Ratna Ningsih Trinyoto, tetangga korban, mengaku curiga saat melihat pagar rumah korban digembok. Ia lalu melaporkan ke petugas keamanan setempat untuk mengecek kondisi di dalam kediaman GAH. Petugas keamanan lantas melapor ke polisi setempat. Polisi mendatangi rumah itu dan menemukan jasad Grace dan David di kamar mandi dalam keadaan sisa tulang belulang. Kepolisian menduga GAH dan DAW sudah meninggal selama satu bulan. Hingga kini, kepolisian belum mengetahui apa penyebab kematian ibu-anak tersebut. (megapolitan.kompas.com)

Peristiwa naas itu bukan kali pertama yang pernah terjadi dan muncul di pemberitaan. Kasus serupa pernah terjadi pula di Kalideres, yakni telah ditemukan kematian satu keluarga di perumahan mewah pada bulan November 2022 lalu dalam kondisi jenasah yang telah rusak. Begitu pula halnya pada kasus-kasus serupa lainnya yang tidak tayang di media massa. Herannya mengapa hal itu baru diketahui setelah muncul bau busuk dalam rumah korban.

Hal ini menjadi kekhawatiran yang dirasakan di tengah-tengah masyarakat disaat sebagian besar keluarga saat ini tengah hidup secara tertutup dari lingkungan sekitar, individualis/menyendiri dan apatis. Nampak dari bagaimana interaksi diantara penghuni rumah yang tidak saling peduli, atau jika pedulipun hanya yang dapat memberikan manfaat saja.

Hal ini tidak lepas dari peran sistem yang sedang berjalan saat ini. Kapitalisme sekuler mengukur kebahagiaan dari banyaknya materi yang didapatkan menjadikan manusia berlomba mencari secuil kebahagiaan. Akibatnya, siapa yang memperoleh banyak materi ia akan berkuasa dan hidup dengan bergelimang kemewahan. Kontras dengan mereka yang kalah dalam pertarungan memperebutkan harta dunia. Sikap tamak dan rakus terbentuk secara tidak langsung dalam lingkungan yang serba menuntut untuk hidup enak. Demi menggapai tujuan materinya, sebagian orang memilih untuk apatis, individualis, dan pragmatis. Tak heran dalam sistem sekuler ini melahirkan masyarakat yang kurang peka dan peduli pada sesamanya. Jikapun ada yang peduli dianggap sebagai campur tangan urusan orang lain.

Belum lagi negara memberikan kebebasan sepenuhnya bagi warganya untuk bersikap dan berinteraksi dengan masyarakat. Negara tidak akan mempermasalahkan individu atau keluarga yang seperti ini. Fungsi negara menjadi mandul dalam membentuk masyarakat yang ideal, yakni masyarakat yang saling berinteraksi dan peduli pada sesamanya serta melakukan amar makruf nahi mungkar.

Khatimah

Islam menaruh perhatian yang besar dalam hal menjalin hubungan yang baik dengan tetangga. Dalam Islam, kita diajarkan untuk bersikap baik terhadap tetangga dan memuliakannya. Rasulullah saw. bersabda yang artinya, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia muliakan tetangganya.” (H.R. Bukhari 5589: Muslim 70).

Islam memiliki mekanisme untuk mewujudkan kepedulian dalam kehidupan masyarakat secara riil. Mengutip dari tayangan youtube muslimah media center, aturan Islam akan mengembalikan manusia pada tata aturan kehidupan dari Dzat yang menciptakan manusia sebagai makhluk sosial yaitu Allah SWT. Hal ini akan diwujudkan oleh negara Islam, khilafah sebagai pelaksana dan penegak hukum syariat. Islam memiliki pandangan khusus lagi shahih tentang bagaimana seharusnya keluarga, masyarakat dan negara terbentuk.

Islam memandang masyarakat adalah sekumpulan orang yang memiliki perasaan, pemikiran dan peraturan yang sama dan didalamnya terjadi interaksi sosial berdasarkan aturan Islam. Dalam Islam interaksi ini tidak hanya terbatas pada muslim saja tetapi juga pada tetangga yang non muslim. Sistem Islam yang diterapkan dalam negara Khilafah baik pada ranah keluarga, masyarakat maupun negara harus dibangun dan ditegakkan dengan landasan aqidah Islam bukan manfaat yang bersifat materi.

Kemuliaan manusia tidak diukur dari banyaknya kekayaan dan capaian-capaian duniawi yang diraih tetapi dari ketakwaannya kepada Allah. Standar kebahagiaan inilah yang akan membentuk masyarakat menjadi masyarakat yang gemar beramar ma’ruf nahi mungkar. Semua berlomba-lomba dalam beramal Sholih dan membangun kemaslahatan di tengah kehidupan.

Masyarakat yang bertakwa akan selalu mengontrol agar individu tidak melakukan pelanggaran syariat. Dalam rangka kontrol sosial ini, negara juga mengangkat hakim yang bertugas mengawasi ketertiban umum.

Demikianlah bila sistem Islam diterapkan. Akan mampu mewujudkan masyarakat yang ideal, jauh dari kasus-kasus seperti diatas. Dan kita berharap penerapan Islam akan segera terwujud dengan kita ikut mengambil peran dalam perjuangan mengembalikan kehidupan Islam yakni dengan mendakwahkan Islam kaffah.

Waullahualam

 

[LM/nr]

Please follow and like us:

Tentang Penulis