Ada Apa Dengan Sistem Pendidikan Kita?

Ada Apa Dengan Sistem Pendidikan Kita?

Oleh : Arsanti Rachmayanti

(Pegiat Literasi)

 

LenSaMediaNews.com – Mahasiswa Universitas Indonesia (UI) Depok, berinisial MNZ (19 tahun) ditemukan tewas dalam keadaan terbungkus plastik di kamar kostnya di Kawasan Kukusan, Beji, Kota Depok, Jumat (4/8/2023). Polisi kemudian mengungkap bahwa korban dibunuh oleh seniornya sendiri.

 

Wakasat Reskrim Polres Metro Depok, AKP Nirwan Pohan mengungkap, korban dibunuh oleh AAB (23 tahun), senior dan kenalan korban di kampus. Terduga pelaku membunuh MNZ karena iri dengan korban dan ingin mengambil barang berharganya. “Pelaku iri dengan kesuksesan korban dan terlilit bayar kosan serta Pinjol (pinjam online). Kemudian mengambil laptop dan HP korban,” jelas AKP Nirwan Pohan, Jumat (4/8/2023).

 

Beda lagi dengan ARR (15), siswa sekolah menengah atas di Banjarmasin, Kalimantan Selatan diamankan polisi karena menikam teman satu sekolah, MRN (15) saat pelajaran berlangsung. Penusukan dilakukan di dalam kelas pada Senin (31/7/2023) sekitar pukul 07.15 Wita. Akibat penusukan tersebut, korban harus mendapatkan perawatan intensif di RSUD Ulin, Banjarmasin. Sementara pelaku mengaku melakukan hal tersebut karena korban kerap mem-bully-nya.

 

Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mencatat adanya empat kasus perundungan di lingkungan sekolah dari total 16 kasus selama Januari–Juli 2023. Empat kasus perundungan tersebut terjadi pada Juli 2023 di saat tahun ajaran 2023/2024 belum berlangsung satu bulan. “Dari 16 kasus tersebut, empat di antaranya terjadi pada Juli 2023,” kata Sekjen FSGI, Heru Purnomo.

 

FSGI menerangkan 16 kasus perundungan terjadi di beberapa satuan pendidikan. Mayoritas terjadi di jenjang pendidikan SD 25 persen, SMP 25 persen, SMA 18,75 persen dan SMK 18,75 persen. Sedangkan di MTs 6,25 persen dan Pondok Pesantren 6,25 persen.

Heru Purnomo mengatakan empat kasus yang terjadi selama Juli 2023, yaitu perundungan terhadap 14 siswa SMP di Kabupaten Cianjur mengalami kekerasan fisik.

 

Lain lagi di Bengkulu. Seorang siswa ‘mengetapel’ gurunya karena tidak terima ditegur oleh guru tersebut. Polres Rejang Lebong, Bengkulu menyatakan tersangka yang ‘mengetapel’ guru SMAN 7 yang hampir alami kebutaan merupakan residivis kasus pencurian.

 

Kekerasan di Tingkat Pendidikan

Kasus kekerasan di dunia pendidikan kerap terjadi. Ada apa dengan sistem pendidikan di negeri ini? Padahal hampir setiap pergantian menteri diiringi dengan perubahan kurikulum dengan anggapan pergantian kurikulum bisa menghasilkan output yang lebih baik. Namun tak mengubah kondisi kekerasan tak terjadi, justru kasusnya semakin meningkat dan beragam.

 

Mungkin karena penerapan sistem sekularisme yang menjadi dasar penerapan sistem pendidikan di negri ini, yang mengakibatkan peserta didik tidak menghasilkan pribadi yang berkepribadian unggul dan mulia di tengah masyarakat. Dengan penerapan sekularisme di dunia pendidikan, pelajaran agama tak dianggap penting. Agama sebatas pelajaran formal dengan jumlah jam yang minim. Agama tidak menjadi dasar dan acuan dalam pendidikan sekularisme.

 

Dalam Undang-Undang (UU) Sisdiknas 20/2013 dinyatakan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif dan mandiri.

 

Namun tujuan itu tidak akan tercapai selama masih mempertahankan sistem pendidikan sekuler. Bagaimana mungkin generasi bisa bermartabat jika moralnya terpengaruh dengan gaya hidup liberal dan hedonis?

 

Menerapkan Aturan Allah Swt

Jelaslah bahwa sistem pendidikan sekuler tidak mampu mewujudkan generasi seperti yang diharapkan. Sistem ini hanya menjadi beban bagi orang tua, guru, murid, dan negara. Sistem pendidikan sekuler hanya bisa menghasilkan krisis identitas. Walaupun beberapa mampu berprestasi dalam akademik tetapi memiliki sifat individualis, kapitalis, mendewakan materi sebagai tujuan hidupnya dan miskin akhlak. Maka wajarlah jika perilaku beriman dan bertakwa tidak ada pada generasi yang lahir dalam sistem kapitalis seluler saat ini.

 

Berbeda dengan sistem pendidikan islam, pendidikan akan diselenggarakan dengan dasar akidah Islam yang tercermin pada arah pendidikan, kurikulum yang menjadi dasar kegiatan belajar mengajar. Pendidikan diarahkan pada terbentuknya kepribadian Islam. Membina mereka agar menguasai Iptek dan Tsaqofah Islam.

 

Dalam sejarahnya, peradaban Islam mampu mencetak para ilmuwan dan cendekiawan yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, sekaligus faqih terhadap ilmu agama dan memiliki akhlak mulia. Selama 13 abad, sistem Islam dengan penerapan pendidikan Islam mampu membangun generasi beriman dan berilmu. Ilmu mereka untuk kemaslahatan umat dan negara, bukan untuk mendapatkan materi apalagi untuk menyombongkan diri atau merendahkan orang lain. Sistem pendidikan Islam hanya bisa terlaksana hanya dengan penerapan Islam secara kaffah.

Wallahu’alam bishowab.

 

Please follow and like us:

Tentang Penulis