Lensa Media News, Surat Pembaca- Deretan kekerasan pada anak terus terjadi, seperti gulungan ombak yang terus mengikis keamanan anak saat ini. Kini anak tidak bebas bergerak ke sana ke mari, kehati-hatian yang ekstra besar harus senantiasa menjadi helm ketika mereka bergaul di masyarakat.

Baru-baru ini seorang gadis berusia 15 tahun di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, diperkosa bergilir oleh 11 pria termasuk oknum kades dan anggota Brimop sukses menggemparkan publik. Aksi pemerkosaan yang dialami gadis itu terjadi sejak April 2022 hingga Januari 2023.

Sungguh ini bukanlah kabar baru bagi dunia anak. Ini sudah seperti parasit yang terus menyebar merusak generasi emas penerus bangsa sehingga memuaskan aksi-aksi bejat para lelaki. Hukum yang seolah bisu membuat mereka bebas mengulang dan berkeliaran dimana pun mereka suka.

Masyarakat yang tidak mampu menjadi sebagai pengontrol keburukan yang terjadi seolah menjadi penyokong terlaksananya kekerasan seksual ini. Masyarakat yang abai, kian apatis terhadap satu sama lain sehingga menjadi kartu jitu untuk melancarkan setiap aksi bejat orang-orang hidung belang.

Pola kehidupan yang seperti inilah yang terus menjadi warna dalam ritme kehidupan saat ini, seolah setuju pada paham kapitalis yang terus merusak. Padahal, jika ditanya tidak seorangpun dari masyarakat merasa aman dengan tatanan kehidupan saat ini.

Agama yang terus dijauhkan menjadi sebab utama permasalahan terjadi, aturan agama hanya sebatas bacaan tanpa aplikasi yang tepat. Lantas mengapa kita belum juga sadar bahwa semua ini harus berakhir sehingga kemaslahatan bukan menjadi sebuah mimpi tapi benar-benar ada.

Hanya dengan penerapan tatanan kehidupan yang terbaik dan benarlah yang akan mengakhiri semua kekejaman kapitalisme ini, yaitu sebuah tatanan kehidupan yang langsung bersumber dari Sang Pencipta yang telah terbukti ratusan tahun menghasilkan kemaslahatan bagi masyarakatnya. Tatanan kehidupan tersebut yaitu penerapan Islam kafah dalam bingkai kehidupan.

Putri Rahmi DE, SST,

[LM, Hw]

Please follow and like us:

Tentang Penulis