Kebijakan Makro Hanya Ciptakan Buruh Kapitalisme

 

Prof. Dr. Mas Roro Lilik Ekowanti, MS
(Intelektual Muslimah, Dosen dan Pakar Administrasi Publik)

 

Reportase – Beliau sebagai ahli kebijakan, memperhatikan bahwa kebijakan sebagai bingkai berbagai pengaturan kehidupan di negeri ini. Kegagalan dunia pendidikan disebabkan kebijakan (Makro) internasional, yang di-breakdown oleh semua negara yang menganut politik demokrasi.

 

Menurut beliau ini penting, kita tidak boleh terlena. Desain Perguruan Tinggi untuk merdeka sudah lama. Indonesia baru belajar. Belajar memerdekakan kurikulum dan pembelajaran. Lantas bagaimana merdeka itu? Menurut beliau merdeka itu ketika menerapkan Islam Kaffah, baru pemudanya diperbaiki, bisa dibangkitkan dan menjadi pemimpin.

Sekarang, mereka di-setting untuk off tafkiri (berhenti berfikir serius). Mereka di-setting jadi follower bukan pemutus atau pembuat keputusan, mereka tidak mampu untuk berpikir kritis. Khususnya Indonesia yang umat muslimnya hampir 80% maka harus hati-hati. Kita sedang masuk dalam Neokolonialisme (penjajahan gaya baru) yang di dalamnya liberalisme, kapitalisme menjadi jargon yang digunakan untuk menjebak generasi.

 

Yang terbaru, para dosen diminta untuk menerapkan program MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka). Mata kuliah yang dapat dikonversikan dalam 1 semester ialah total 20 SKS. Dengan kata lain, menurut Buku Panduan MBKM, kegiatan merdeka belajar atau saat magang selama 6 bulan disetarakan dengan 20 SKS tanpa penyetaraan dengan mata kuliah lain, ini standarisasi buatan kafir juga.

 

Artinya, sistem Perguruan Tinggi kita tidak independen yang hanya mengurusi pendidikan, tetapi ada proyek sampingan dari sisi ekonomi dan politik. Inilah yang dimaksud bingkai kebijakan makro dan mikro. Pendidikan di Indonesia tidak lepas dari kebijakan politik dan ekonomi. Politik kita menggunakan demokrasi, sistem ekonominya kapitalis, yang nyata secara ekonomi mendukung demokrasi.
Kapitalis didesain untuk menciptakan buruh, tenaga kerja di sektor perusahaan level nasional maupun multinasional, pabrik, mereka, para sarjana bertitel tinggi dibuat bangga direkrut ke pabrik baik dalam negeri atau asing. Dengan target lulus 4 tahun, setelah lulus segera kerja. Padahal predikat tetap butuh yang tunduk dengan atasan. Meskipun bergaji tinggi, tapi statusnya pegawai, maka jangan bangga dulu.

 

Oleh karena mereka kafir, tidak ingin generasi menjadi pemimpin , menjadi bersikap individualistis, tidak memikirkan umat, sangat rendah nilai (value) yang dibangun. Value itu diukur dari pola berpikir dan bersikap. Kapitalisme menjadikan generasi, setinggi apapun gelarnya tetap jadi buruh.

Maka, beliau memberikan rekomendasi penting terkait kebijakan yang disampaikan, sebagaimana sebuah kapal besar yang dibuat oleh Nabi Nuh ketika yang bisa masuk kapal adalah orang yang beriman kepada Islam Kaffah. Jangan menggila dengan mengambil ilmu dari barat yang sebetulnya menjebak, siap menghancurkan Islam. Menurunkan ilmu begitu saja kepada generasi, maka kapal besar ini tidak akan pernah bisa berjalan menuju tujuan sebenarnya, kapal besar ini punya misi Islam Rahmatan Lil Aalamin. Sekali lagi, misi ini bukan menjadi buruh tapi menjadi pemimpin, yang mana dalam kondisi hari ini sulit.

Perintah Allah menjadi Khalifah di bumi itu menjadi pemimpin. Bukan buruh. Banyak yang tidak percaya kapal Nabi Nuh, sebab tidak ada hujan dan bukan musim penghujan, namun ini bisyaroh, khabar gembira dari Allah, bahwa kapal itu akan ada lagi.

 

#GenerasiMudaPimpinPerubahan
#SelamatkanGenerasidenganIslam

 

(Reporter: Rut Sri Wahyuningsih)

Please follow and like us:

Tentang Penulis