Tragedi Kanjuruhan, Aremania Berdukacita, Saatnya Muhasabah

Oleh: Iliyyun Novifana, S.Si.

Lensa Media News – Malang, Stadion Kanjuruhan, Sabtu, 1 Oktober 2022, tidak ada manusia yang mengetahuinya bahwa pada hari itu akan terjadi malapetaka yang mengguncang dunia, lebih khususnya dunia sepak bola. Sepak bola yang merupakan permainan seru dan disukai sebagian orang, tidak disangka pada 1 Oktober 2022 berakhir dengan lebih dari seratus nyawa melayang. Meninggalkan duka mendalam dan trauma psikis bagi korban luka-luka dan keluarga yang ditinggalkan.

Berdasarkan data dari Tim Dokpol korban meninggal dunia 125 orang, korban luka berat 21 orang, dan korban luka ringan 304 orang. Sementara menurut kemenkes korban meninggal dunia ada 131 orang, korban luka berat 58 orang, dan korban luka ringan-sedang 248 orang. (Kompas.com, 4 Oktober 2022, 07:35). Meski terjadi perbedaan jumlah namun kesimpulan yang pasti adalah telah memakan banyak korban hanya karena sepak bola.

Tak ada sepak bola seharga nyawa. Begitulah slogan yang terlontar atas peristiwa yang terjadi di Kanjuruhan lalu. Memang seharusnya begitu. Sepak bola termasuk permainan olahraga bersifat hiburan. Ada pemain, ada penonton (suporter), dan ada bola yang dimainkan dengan mencetak gol dalam gawang. Ada wasit yang memimpin jalannya pertandingan serta tim keamanan yang bertugas menjaga keamanan dan ketertiban tempat serta acara. Ada pula wartawan dan kameramen yang meliput berlangsungnya pertandingan. Demikianlah sedikit gambaran dalam sebuah turnamen sepak bola yang umum telah diketahui semua orang.

Sangat disayangkan jika aktivitas yang termasuk hiburan ini menelan banyak korban. Inginnya healing sejenak tapi tidak tahu jika ternyata waktu hidupnya telah usai. Tentu timbul penyesalan yang besar dari berbagai pihak. Ada yang kehilangan anak-anaknya, ada yang menjadi yatim piatu kehilangan ibu bapaknya, ada yang luka-luka, ada pula yang masih diberi keselamatan tidak luka sedikit pun walau pasti dadanya berdegup kencang dan rasa khawatir yang mencekam menyaksikan peristiwa memilukan yang menimpa saudaranya yang lain.

Setiap hal yang terjadi memang telah ditakdirkan. Termasuk kematian. Ia akan mendatangi siapa saja yang waktunya telah tiba untuk dipanggil menghadap Allah SWT. Dimana pun berada kendati di benteng yang sangat kokoh, kematian tidak pernah salah mengambil nyawa seseorang. Sebab setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Bahkan Rasul Muhammad SAW telah mengingatkan kita bahwa manusia yang cerdas adalah yang sering mengingat mati dan mempersiapkan kematian itu dengan baik agar khusnul khotimah.

Tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 125 orang menurut Dokpol atau 131 orang menurut Kemenkes tersebut, sepatutnya diambil hikmah darinya dan dilakukan muhasabah atasnya. Mengapa sampai berjatuhan nyawa karena bola? Mengapa tindakan aparat terhadap suporter tak bersenjata berlaku semena-mena? Mengapa jurang pemisah antara rakyat dan aparat menjadi semakin lebar saja setelah peristiwa ini terjadi? Bagaimana semestinya peran dari masing-masing pihak sebagai manusia pelaku kehidupan ini? Ya, sudah saatnya untuk muhasabah.

Sebuah negara ada untuk menjalankan peran masing-masing dengan adil sebagai bentuk penghambaan kepada Allah SWT, karena manusia-manusia yang hidup di dunia ini adalah para hamba Allah. Mereka memiliki peran yaitu menjalankan seluruh perintahNya dan menjauhi seluruh laranganNya.

Kendati belum semua memahami akan hakikat kehidupan ini, karenanya masih banyak dari para hamba Allah yang mengisi hidupnya dengan sesuatu yang sia-sia. Terlebih aturan kapitalis sekuler yang sedang bercokol dalam kehidupan mereka mendorong para hamba menjauh dari Tuhannya.

Mereka menjadi manusia yang mengutamakan dunia dengan kesenangan yang semu dan melalaikan, menjadi budak dunia. Melupakan kehidupan abadi setelah kehidupan dunia, sehingga aktivitas yang dilakukan nirpahala atau bahkan terjerumus pada dosa.

Muhasabah dari hati yang terdalam. Saatnya mendekat pada Allah, Tuhannya manusia. Mohon ampun yang tulus atas setiap tindakan dosa. Beramal sholih disisa waktu yang ada. Tak ada hidup yang abadi, yang ada hanyalah hidup ini sementara. Suatu hari akan berakhir, dan akhir hidup yang baiklah yang diharapkan para hamba.

[LM;ak]

Please follow and like us:

Tentang Penulis