Intelektual Muslimah Serukan ‘Melotot Politik’ Terkait Persolan Kelangkaan Bahan Pangan

Reportase – PKAD – Ella Saparianti, STP. MP sebagai Intelektual Muslimah Jawa Timur yang sekaligus juga ibu rumah tangga mengajak masyarakat utamanya perempuan untuk ‘melotot’ politik bukan sekedar ‘melek’ politik. Hal ini beliau sampaikan ketika menjadi salah satu narasumber dalam [LIVE] Insight #141 Pusat Kajian Dan Analisis Data bertajuk “Siapa Tahu Nasib Tempe Dan Tahu?”. (Rabu, 23/2/2022)

“Bukan hanya ‘melek’ politik tapi ‘melotot’ politik. Siapapun kita, di level manapun melek politik memiliki kebutuhan penting sepenting kebutuhan kita sehari-hari sandang, pangan, papan. Jadi harus ‘melek’ politik,” ungkap Ibu Ella.

Indonesia tengah berada dalam pasar global. Namun demikian, hal ini tidak berimbang dengan posisi Indonesia sebagai negara agraris. Pemerintah seakan melakukan impor di beberapa bahan pokok.

“Bawang putih banyak impor, cabe impor. Jadi, walaupun kita ini negara pertanian, tapi bahan baku stok tidak ada. Ini hilang kemana?” tutur Ibu Ella.

Lanjut, beliau menyampaikan,”Pasar global itu yang membuat kita tergantung pada produk luar dan tidak percaya dengan kemampuan produk daerahnya sendiri. Kita sebagai masyarakat apatis dengan politik. Indonesia negara agraris. Apa yang ada di sekitar kita tidak lepas dari peran pemerintah.”

Peran pemerintah tentu memiliki andil besar didukung dengan peran masyarakat maupun individu. Ibu Ella pun menuturkan agar pemahaman terhadap kebijakan pemerintah seharusnya menggunakan pemahaman politik dengan benar.

“Ternyata yang kita butuhkan sehari-hari bukan hanya dipenuhi oleh masing-masing individu. Ada kebijakan yang lebih luas lagi. Ketimpangan, kesenjangan kesulitan pada hari ini ternyata ada mekanisme pemenuhan pangan yang tidak seharusnya terjadi kalau negara itu peduli dan paham tanggung jawabnya. Selain itu tentu politik yang benar. Pengaturan sesuai kebutuhan. Tidak pincang, tidak berpihak kepada pengusaha. Karena akarnya pada penerapan sistem ekonomi liberal,” pungkas beliau.

(Hanif Kristianto, Analisis Politik dan Media)

 

[ry/LM]

Please follow and like us: