Kebun Raya Bogor dalam Genggaman Kapitalisme

Oleh : Titin Kartini

 

Lensa Media News – Pohon-pohon nan rindang, kicauan burung saling bersautan, hawa yang sejuk, berbagai macam tanaman hadir di sana sekilas suasana yang bisa digambarkan tentang Kebun Raya Bogor. Berada di tengah-tengah jantung kota Bogor, Kebun Raya Bogor menjadi simbol kebanggan warga Bogor. Menjadi suatu budaya jika bulan suci Ramadan akan tiba, warga berbondong-bondong berkunjung ke sana, membawa perbekalan makanan yang banyak berkumpul bersama keluarga untuk makan bersama atau istilah warga Bogor “cucurak“.

Namun seiring waktu, memang banyak terjadi perubahan di sana, banyak bangunan baru dan suasana yang tak seperti dulu, jalanannya pun sedikit demi sedikit mulai berubah. Seperti saat ini ada rencana “GLOW” yang menyuguhkan atraksi malam menggunakan lampu hias. Tak ayal hal ini mendapat kritikan dari empat mantan Kepala kebun Raya Bogor yakni Usep Soetisna (1983-1987), Suhirman (1990-1997), Dedy Darnaedi (1997-2003), dan Irawati (2003-2008).

Mereka menyampaikan kritikan melalui sebuah surat terbuka, selain itu muncul juga sebuah petisi yang berjudul ” Selamatkan Kawasan Konservasi dan Cagar Budaya Kebun Raya Bogor” . Petisi tersebut ditembuskan pula untuk Wali Kota Bogor Bima Arya dan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko. Hingga Senin (27/9/2021) sore petisi ini telah ditandatangi sebanyak 8.714 dari target 10.000 sejak di posting kurang dari 24 jam.

Dalam surat tersebut, mantan Kepala Kebun Raya meminta agar rencana atraksi malam GLOW ditinjau kembali karena mengusik keheningan malam dan mengganggu fungsi serangga polinator dan hewan penyerbuk lainnya di Kebun Raya Bogor.(www.beritasatu.com,27/9/2021).

Komersialisasi adalah hal wajar dalam sistem kapitalisme. Dalam sistem ini semua bisa terjadi atas dasar meraih keuntungan meski hal tersebut menyangkut cagar budaya alam, yang dibutuhkan keberadaanya oleh masyarakat, sebagai konservasi, edukasi dan tentunya paru-paru dunia. Sebuah kritikan hingga petisi hadir sebagai tanda ketidak setujuan masyarakat. Namun, hal tersebut tidaklah cukup, kita butuh satu sistem yang bukan saja mendukung tetapi menerapkan satu aturan tegas mana yang boleh diswastanisasi mana yang tidak, dan ini tidak akan didapatkan dalam sistem kapitalisme.

Dengan alasan negara tidak bisa mengurus aset negara sendiri karena minimnya biaya yang dimiliki maka swastanisasi pun diberlakukan. Hal ini terjadi pada Kebun Raya Bogor ( KRB). (www.pikiran-rakyat.com, 9/7/2020).

Watak sistem kapitalisme yang hanya memikirkan keuntungan, maka suatu keniscayaan cagar-cagar budaya bisa terlindungi dengan benar. Disinilah urgent nya kita membutuhkan suatu sistem yang benar-benar menjaga dan melindungi aset-aset negara, serta mengelolanya untuk kepentingan rakyat. Bukan atas dasar untung dan rugi, namun kemaslahatan rakyat lebih utama.

Dalam sistem Islam, sumber daya alam termasuk cagar budaya alam adalah milik rakyat yang dikelola oleh negara dan hasilnya untuk kemaslahatan rakyat, seperti halnya cagar budaya alam seperti Kebun Raya Bogor yang seharusnya dijaga dan dirawat oleh negara demi kemaslahatan umat.

Islam hadir bukan saja sebagai sebuah agama, akan tetapi Islam sebagai ideologi yang mempunyai aturan dalam kepengurusan segala hal, termasuk pengelolaan cagar budaya alam.

Solusi atas semua ini hanya satu yaitu menerapkan sistem Islam secara utuh dan menyeluruh dalam setiap lini kehidupan dalam bingkai daulah Khilafah, sistem Khilafah menyelamatkan sumber daya alam dari kepemilikan perorangan maupun golongan. Mari terapkan sistem-Nya untuk menyelamatkan semua sumber daya alam maupun sumber daya manusia dari cengkraman sistem rusak kapitalisme.

Alhasil selamatkan Kebun Raya Bogor dengan menerapkan sistem Islam secara kaffah dalam bingkai daulah Khilafah, semoga tak ada keraguan sedikitpun dalam hati kita akan hal ini. Allah Swt berfirman: ” Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan ( hukum ) siapakah yang lebih baik daripada ( hukum ) Allah bagi orang-orang yang yakin ? ” ( TQS. Al Maidah : 50 ).

Wallahu a’lam

 

[LM]

Please follow and like us:

Tentang Penulis