Tak Percaya Covid? Pergilah ke Rumah Sakit

Oleh: Nabila Zidane

(Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban)

 

Lensa Media News – Pandemi sudah berjalan lebih dari satu tahun tetapi masih saja ada masyarakat yang tidak percaya akan keberadaan Covid-19. Padahal berita duka hampir setiap hari menghiasi berbagai grup-grup WA ataupun pengumuman dari pengeras suara masjid di sekitar tempat tinggal kita.

Bahkan sempat terjadi penutupan sementara IGD RS William Booth Surabaya, Senin (28/06/2021), akibat lonjakan kasus Covid-19. Dimana jumlah dokter yang tersisa hanya 3 orang lantaran 24 nakes terpapar corona (Tribbunnews.com, 29/06/2021).

Namun anehnya, masih banyak pula yang percaya dengan kabar negatif dan konspirasi lainnya. Isu tersebut tergolong konyol, namun tetap dipercaya oleh banyak orang. Termasuk pula kabar bahwa vaksin yang disusupi chip sehingga orang-orang enggan divaksin.

Kombinasi hoaks yang terus berkembang dengan penanganan yang buruk dari pemerintah ini kemudian menjadikan situasi pandemi di Indonesia semakin kritis. Tak heran jika muncul istilah herd stupidity, seperti yang dilontarkan oleh epidemiolog Universitas Indonesia, Pandu Riono.

Tapi, ya tidak bisa murni menyalahkan rakyat terus ya gaes. Pasalnya sejak awal kebijakan yang dibuat pemerintah seolah-olah meremehkan wabah. Misalnya dulu waktu Covid-19 baru pertama kali ditemukan di Indonesia ada pejabat yang bilang kalau orang Indonesia kebal corona karena doyan makan nasi kucing. Giliran sudah menyebar tidak ada himbauan Jakarta lockdown. Bandara internasional tetap saja buka malah destinasi wisata dipromosikan, harga tiket pesawat mendapat diskon. Warga negara asing bebas memasuki negeri ini.

Ditambah lagi rasa tidak percaya yang muncul gara-gara rakyat sudah sering dizalimi oleh penguasa dengan berbagai kebijakannya yang senantiasa mementingkan ekonomi ketimbang nyawa rakyat. Sistem kapitalisme ya memang begitu, paham yang memandang hidup hanya untuk mencari keuntungan materi sebanyak-banyaknya ini telah menempatkan nyawa rakyat di bawah materi. Aturan Islam tidak dipakai untuk mengatur rakyat karena asasnya sekuler yaitu memisahkan agama dari kehidupan. Yang dipakai justru aturan buatannya penguasa yang katanya sih dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat eh tapi rakyat yang mana?

Beda banget sama sistem Islam gaes. Dulu di masa Rasulullah Saw. dan Khalifah Umar bin Khaththab juga pernah ada wabah loh tapi wabah itu segera teratasi soalnya aturan yang dipakai adalah aturannya Allah Swt.

Islam mewajibkan pemimpin serius mengurusi urusan rakyatnya. Rasulullah Saw. pernah bersabda, “Imam (khalifah) adalah raa’in (pengurus hajat hidup rakyat) dan dia bertanggung jawab terhadap rakyatnya” (HR. Muslim dan Ahmad).

Pemimpin wajib memberikan edukasi baik melalui penyuluhan secara langsung di kampung-kampung, televisi ataupun melalui berbagai kanal media sosial yang dimiliki, akan dioptimalkan untuk membangun kesadaran umat ini dengan kesadaran berbasis akidah. Dengan demikian rakyat benar-benar paham jika di negerinya sedang ada wabah. Dengan begitu rakyat akan mempunyai kesadaran untuk mentaati protokol kesehatan bukan memaksa rakyat taat dengan ancaman denda dan kurungan penjara.

Negara juga akan memutus rantai penularan dengan cara menerapkan lockdown syar’i seperti pesan Rasulullah saw. dalam sabdanya, “Apabila kalian mendengarkan wabah di suatu tempat, maka janganlah memasuki tempat itu dan apabila terjadi wabah sedangkan kamu sedang berada di tempat itu, maka janganlah keluar darinya” (HR. Imam Muslim).

Jangan takut kelaparan selama lockdown ya gaes karena negara akan memenuhi seluruh kebutuhan pokok rakyatnya mulai dari dukungan logistik, fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan, obat-obatan, alat test, vaksin, dan lain-lain. Bahkan negara wajib memastikan kebutuhan masyarakat selama wabah tetap tercukupi. Negara atau penguasa tak boleh membiarkan masyarakat menantang bahaya hanya karena alasan ekonomi.

Khilafah juga akan meningkatkan kualitas sistem kesehatan yang memadai juga dengan fasilitas terbaik. Pemeriksaan dan penelusuran terjadinya kasus positif bakalan ditangani dengan upaya dan riset paling mutakhir. Negara akan men-support penuh upaya menemukan obat atau vaksin yang dibutuhkan. Caranya, negara akan mengerahkan semua potensi yang dimiliki, mulai dari para pakar, perguruan tinggi, lembaga-lembaga penelitian, hingga pendanaan yang memadai yang berasal dari kas baitul mal.

Sementara protokol kesehatan juga diterapkan di seluruh penjuru negeri dan melalui pengawasan yang ketat. Kalau penanganan negara seserius ini kira-kira ada tidak ya gaes, orang yang tidak percaya jika negerinya lagi kena pandemi? MasyaAllah Islam memang keren banget ya.

Wallahu a’lam bishshawab.

 

[ah/LM]

Please follow and like us:

Tentang Penulis