Untuk Apa Eksis di Dunia Maya?

Oleh: Nabila Zidane
(Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban)

 

Lensa Media News – Media sosial begitu penting dimiliki kalangan milenial. Bahkan mereka lebih rela ketinggalan dompet daripada ketinggalan HP. Karena Media sosial adalah rumah kedua sekaligus tempat di mana kaum milenial ini dapat eksis serta mendapatkan pengakuan.

Mulai dari Instagram, TikTok, Facebook, Twitter, bahkan channel Youtube pun mereka miliki. Di media sosial ini, milenial tentu tak lepas dari branding diri dong alias membangun identitas di dunia maya. Ada yang rajin sekali upload foto terbarunya yang paling oke. Ada juga yang hampir setiap hari pasang story tentang outfit yang dipakai alias OOTD. Ada yang rajin upload aneka makanan dari berbagai restoran yang mereka kunjungi. Ada yang rajin memberi berbagai tutorial seperti make up wajah, cara memasak, dan lain-lain. Bahkan ada juga yang menampilkan hal yang baik-baik saja demi membangun eksistensi di dunia maya.

Mereka menilai bahagia adalah saat kehidupan berlimpah materi. Dengan materi inilah mereka bisa membeli segalanya. Wajar sih, karena sistem pendidikan di negeri ini mengajarkan sekularisme dan kapitalisme, dimana menganggap tidak ada yang bernilai selain materi. Maka manusia akan berlomba-lomba mengejar materi tanpa mengenal halal dan haram.

 

Kepalsuan Dunia Maya

Perlu kita pahami bahwa apapun yang ada di dunia maya belum tentu sama seperti di dunia nyata, alias berbeda 180 derajat mengingat niat mereka demi eksistensi diri semata. So, jangan terburu gampang wow ya.

Banyak dari mereka sengaja menampilkan barang yang mewah-mewah agar dianggap kaya oleh followers-nya. Padahal nyatanya, kehidupan mereka jauh dari identitas di dunia maya. Bahayanya lagi, jika banyak milenial yang terpengaruh dan ingin sekali mempunyai kehidupan seperti mereka yang nampak bahagia, cantik, tercukupi kehidupannya, banyak teman seru-seruan, bisa senang-senang dan lain-lain Semua kehidupan palsu tersebut begitu menghipnotis para milenial.

 

Eksistensi Diri dalam Kacamata Islam

Jika bicara tentang eksistensi diri berarti kita bicara tentang naluri manusia yang telah Allah SWT sertakan dalam penciptaan manusia. Setiap manusia terlahir disertai tiga naluri dalam dirinya,

Pertama, naluri mempertahankan diri (Gharizah Baqa‘). Kedua, naluri beragama (Gharizah Taddayyun). Ketiga, naluri berkasih sayang (Gharizah Nau’)

Membangun eksistensi diri di dunia maya maupun ingin meneladani sosok tertentu merupakan salah satu penampakan naluri mempertahankan diri (Gharizah Baqa’). Agar eksis kita sejalan dengan perintah Allah SWT dan tidak melanggar larangan-Nya, maka kita wajib mengkaji Islam guna memahami apa saja tuntutan yang telah diberikan oleh Allah SWT. Dengan tuntunan tersebut, maka perbuatan kita tidak akan salah dan tidak akan menyebabkan kerusakan dan dosa.

Allah SWT telah berfirman di dalam Al-Quran surat Al-Isra ayat 15,

مَّنِ ٱهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِى لِنَفْسِهِۦ ۖ وَمَن ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۗ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا

“Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.”

Dalam Islam, eksistensi seseorang tidaklah ditentukan oleh penampilan fisik, kekayaan ataupun kedudukan sosialnya, tapi ditentukan atas dasar kesalihan dan ketakwaannya sebagaimana firman Allah SWT,

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa”
(QS. Al-Hujurat: 13).

So, hindari eksis dengan cara pamer kekayaan karena seringkali jatuh pada sikap buruk seperti sikap merasa telah baik sendiri hingga rasa merendahkan orang lain, Astagfirullah.

Rasulullah SAW bersabda,

Sombong itu menolak kebenaran dan merendahkan orang lain”
(HR. Muslim).

Nah, semakin terbukti kan guys bahwa kehidupan berdasarkan sistem sekuler hari ini hanya membentuk pribadi dangkal bahkan berakhlak buruk. Sudah sepantasnya pemikiran kapitalis-sekuler ini dibuang jauh-jauh dari benak milenial.

Berbeda dengan syariat Islam yang memerintahkan untuk bersikap tawadhu (rendah hati). Sikap tawadhu mendorong pada amal shalih setiap muslim untuk meraih surga. Menjadikan media sosialmu untuk mendakwahkan Islam. So, segera bergabunglah dengan kelompok jamaah Islam idelologis dan ikutilah pembinaan Islam dengan serius. Lalu berjuanglah bersama-sama untuk mengembalikan kehidupan Islam.
Rasulullah SAW bersabda,

Tidaklah seseorang bersikap tawadhu (rendah hati) kecuali Allah akan meninggikan derajatnya.”
(HR. Muslim).

[ah/LM]

Please follow and like us: