Ikatan Aqidah di Atas Segalanya

Sebanyak 94 pengungsi etnis Rohingya yang terdampar di perairan Aceh Utara telah dibawa ke bekas kantor imigrasi di Punteut, Kota Lhokseumawe, pada Kamis (25/06) sore.

 

Mata dunia seakan terbelalak menyaksikan aksi heroik masyarakat Aceh dalam menyelamatkan para pengungsi Rohingya yang telah lama terombang ambing di tengah lautan. Minim perbekalan dan nyaris tenggelam. Meski sempat diwarnai aksi penolakan dari petugas setempat dengan alasan situasi Covid-19 namun warga tetap bersikukuh untuk menurunkan etnis Rohingya kedaratan.

 

Sejak kekerasan marak di negara bagian Rakhine, Agustus 2017 lalu, diperkirakan 700.000 jiwa muslim Rohingya mengungsi dan sebagian besar melintasi perbatasan darat ke Bangladesh. Mereka keluar dari Myanmar untuk mencari perlindungan. Namun dunia internasional menolak mereka. Sementara pemerintah Myanmar tidak mengakui etnis Rohingya sebagai warga negara karena dianggap merupakan pendatang gelap walau sudah tinggal lama di Myanmar. Miris.

 

Peristiwa di atas semakin menegaskan kepada kita bahwa rasa empati dan rasa persaudaraan terhadap sesama muslim masih ada, tak lekang dimakan waktu. Karena sesungguhnya sesama muslim itu bersaudara. Pun, diibaratkan laksana satu tubuh jika salah satu bagian terluka maka bagian yang lain ikut merasakan.

 

Ya, ikatan akidah adalah satu-satunya ikatan yang paling kuat nan abadi. Melampaui ikatan temporal nan rapuh lainnya. Sayangnya ikatan atas nama akidah kian langka dalam sistem Kapitalisme hari ini. Ikatan tersebut dikekang oleh batas teritorial yang semu. Padahal, Islam yang pernah menguasai 2/3 wilayah dunia tak mengenal batas teritorial, tak memandang perbedaan suku, ras dan warna kulit. Sebab yang terpenting adalah berakidah Islam. Kapankah saat itu tiba?
Wallahu A’lam bis showwab.

 

Teti Ummu Alif
Kendari, Sultra