2019: Rakyat Bersama Jokowi atau Bersama Prabowo?

Oleh: Dwi Rahayuningsih

LensaMediaNews.com – Konstelasi politik menjelang pilpres semakin memanas. Detik-detik hari pencoblosan diwarnai dengan berbagai manuver dari kedua kubu. Rakyat begitu dimanjakan dengan berbagai iming-iming duniawi yang menyilaukan. Namun tampaknya masyarakat semakin cerdas membaca situasi. Baik paslon 01 maupun paslon 02 berupaya menaikkan elektabilitasnya demi mendongkrak suara.

Meski hasil survei beberapa lembaga, sementara menunjukkan paslon 01 di urutan teratas, namun kekhawatiran tetap bergelayut pada kubu 01. Pada detik-detik terakhir, bukan visi misi yang disampaikan kepada masyarakat melainkan berupaya menjegal lawan dengan menuduh kubu 02 melindungi umat radikal. Isu Khilafah kembali menjadi topik utama untuk memutar haluan para pendukung paslon 02. Dengan menstigma negatif Khilafah dan HTI yang diduga berada di belakang paslon 02, berharap simpatisan 02 berbalik arah dan mendukung 01.

Seiring dengan meningkatnya suhu politik, nama HTI dan ide Khilafah yang diusungnya kembali menjadi momok menakutkan bagi paslon 01. Sehingga lupa untuk menyampaikan visi dan misinya kepada rakyat untuk menjadi RI 1 dua periode. Semua tenaga dan pikiran tersedot ke masalah ini. Khilafah seperti medan magnet yang sangat kuat, yang membuat kubu 01 kalang kabut membendung golombang massa yang membesar menuntut penegakan Khilafah disegerakan.

Sementara itu paslon 02 tidak mau membuang energi untuk menanggapi tudingan 01 bahwa dirinya melindungi radikalisme dan membiarkan paham Khilafah berkembang di NKRI. Mereka memilih untuk fokus menyampaikan program kerjanya dan menjual janji-janji bahwa jika menang akan membuka lapangan kerja seluas-luasnya, mengurangi tenaga kerja asing, menghentikan impor pangan, dan beberapa janji yang entah akan ditepati ataukah sama saja dengan rezim saat ini.

Bagaimana dengan rakyat? easy going saja! Biarkan yang di atas saling berdebat. Baik paslon 01 atau 02 tak ada bedanya. Keduanya sama-sama memperjuangkan demokrasi. Sudah menjadi rahasia umum bahwa dalam pesta demokrasi pasti mengumbar janji. Bagi rakyat yang buta politik, siapa yang memberi lebih, dia yang terpilih. Namun bagi rakyat yang cerdas dan berpikir masa depan, tidak akan mudah tertipu untuk kedua kali. Empat setengah tahun sudah menjadi bukti. Rezim telah gagal menyediakan lapangan pekerjaan, bahan pokok mahal, kemiskinan meningkat, pendidikan dan kesehatan mahal. Semua itu nyata di depan mata. Akankah terulang yang kedua?

Selama sistem yang diterapkan tetap sama, negeri ini juga akan sama. Tidak akan mengalami perubahan. Sebaliknya, semakin lama Indonesia akan kehilangan identitasnya. Utang luar negeri semakin menggunung. Kehidupan rakyat semakin sulit. Siapapun yang menjadi pemimpin, dalam sistem demokrasi rakyatlah yang selalu menjadi korban. Rakyat akan menjadi tumbal keserakahan penguasa. Hanya saat ini saja –menjelang pemilu- rakyat menjadi raja. Uang dan sembako berhamburan tanpa diminta. Karena suaranya sangat dibutuhkan untuk mengantarkan para paslon duduk di singgasana utama.

Maka, sudah sewajarnya jika rakyat memilih jalan lain. Model kehidupan lain yang lebih menjanjikan dibanding hidup di bawah naungan kapitalis demokrasi. Jangan salahkan rakyat jika nanti golput masih menjadi pilihan. Bahkan bisa saja golput mendapat urutan pertama daripada paslon 01 dan 02. Siapa yang bisa menjanjikan? Justru pilihan golput inilah yang akan membuat gaung Khilafah yang dibungkam rezim aka paslon 01 semakin membahana. Meski mereka berusaha membungkam suara umat untuk memperjuangkan Khilafah, namun janji Allah adalah pasti.

“Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, sementara Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.” (QS. Ash-Shaaf: 8)

Please follow and like us:

Leave a Reply