Menuai Takwa Menyemai Istikamah Seusai Ramadan

Oleh : Ummu Rifazi, M.Si

 

Lensa Media News – Ramadan dan Idul Fitri tahun ini dijalani mayoritas kaum muslim dengan perasaan hati yang mendua. Satu sisi, hari ini kita bergembira, tetapi tetap harus menyadari ada sisi lain yang membuat kita sedih dan terbebani rasa bersalah.

Cendekiawan Muslim Ustadz Ismail Yusanto (UIY) menyampaikan melalui kanal UIY Official, Selasa 9 April 2024 bahwa kita bergembira karena sudah menyelesaikan satu kewajiban luar biasa, yaitu puasa Ramadan sebulan penuh dengan satu keyakinan bahwa ibadah kita diterima dan dosa-dosa kita diampuni oleh Allah Ta’alaa. Di sisi lain kita patut bersedih karena menyadari betul bahwa umat Islam sedang tidak baik-baik saja, baik yang di dalam atau di luar negeri Indonesia. Di dalam negeri, persoalan ekonomi, persoalan sosial, persoalan pendidikan, persoalan politik masih memberi beban sangat berat kepada umat sehingga tidak bisa menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya. Di luar negeri, khususnya di Gaza, keadaannya sangat menyayat hati. Kita patut bersedih karena ada banyak bantuan, tetapi tidak bisa masuk ke Gaza karena pintu Rafah tidak bisa dibuka, kecuali seizin Tel Aviv dan Washington, sedangkan serangan terus terjadi. Begitu juga dengan saudara kita di Rohingya, bahkan belum lama ini kita mendengar kabar mereka masih terus berdatangan (mengungsi) dan kapalnya tenggelam. Tidak sedikit dari mereka yang meninggal. Begitu juga di Uighur dan lain-lainnya.

 

Menyemai Ghirah Perjuangan

Kemenangan hakiki diraih di penghujung Bulan Ramadan manakala telah lahir pribadi-pribadi bertakwa. Mereka adalah kaum muslimin yang siap tunduk patuh pada seluruh aturan Rabb-nya karena takut akan hisab-Nya. Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah berkata, “Hari raya itu bukan bagi orang yang memakai pakaian baru. Hari raya adalah bagi mereka yang takut terhadap hari pembalasan.” Rasa takut inilah yang sepatutnya menjadi penggerak kita untuk mengambil langkah besar perjuangan, ketika kita menyadari bahwa umat Islam sedang tidak baik-baik saja.

Langkah pertama adalah mendoakan dan memberikan bantuan seoptimal mungkin. Langkah kedua yaitu harus mengambil peran yang sangat nyata dalam perjuangan, sungguh-sungguh, konsisten, untuk terwujudnya kembali persatuan umat dalam satu kepemimpinan Khilafah Islamiyyah ‘alaa minhaj nubuwwah yang akan menerapkan syariat Islam secara kaffah. Karena semua permasalahan dan penderitaan yang terjadi akibat terpecah belahnya umat muslim di seluruh dunia hari ini. Kedhzaliman yang terjadi, sebagian besar dilakukan oleh umat Islam yang memiliki kewenangan dan kekuasaan. Ketika kita sudah mengambil bagian dalam perjuangan ini maka insyaaAllah sudah sedikit mengurangi rasa bersalah kita, rasa berdosa kita, sehingga perasaan terluka pun bisa sedikit dikurangi, karena kita sudah berusaha. Apalagi kalau kita mengajak saudara sesama muslim lain untuk berpartisipasi di dalam dua langkah itu.

Untuk menguatkan tekad ini, kita lihat bagaimana usai perang Badar tahun 2H, Idulfitri untuk pertama kali dirayakan. Banyak sahabat yang salat Idulfitri dalam keadaan terluka. Artinya Idulfitri bukan sekadar momen kebahagiaan dan silaturahmi, namun juga bermakna merayakan kemenangan dalam dakwah dan perjuangan Islam sebagai wujud ketakwaan.

 

Khatimah

Al Quran dan As Sunnah memerintahkan kita untuk saling tolong dan membantu sesama kaum muslimin dalam kebaikan dan ketaqwaan. Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

Siapa yang membantu menyelesaikan kesulitan seorang mukmin dari sebuah kesulitan di antara berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan salah satu kesulitan di antara berbagai kesulitannya pada hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim Allah akan tutupkan aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan selalu menolong hambaNya selama hambaNya itu menolong saudaranya. Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka akan Allah mudahkan baginya jalan ke surga. Tidaklah sebuah kaum yang berkumpul di salah satu rumah-rumah Allah (maksudnya masjid, pen) dalam rangka membaca kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan niscaya akan diturunkan kepada mereka ketenangan dan dilimpahkan kepada mereka rahmat, dan mereka dikelilingi para malaikat serta Allah sebut-sebut mereka kepada makhluk yang ada di sisiNya. Dan siapa yang lambat amalnya, hal itu tidak akan dipercepat oleh nasabnya.” (HR. Muslim No. 2699, At Tirmidzi No. 1425, Abu Daud No. 1455, 4946, Ibnu Majah No. 225, Ahmad No. 7427, Al Baihaqi No. 1695, 11250, Ibnu ‘Asakir No. 696, Al Baghawi No. 130, Ibnu Hibban No. 84).

Allahummanshuril bil Islam, wallahu a’lam bisshawwab.

 

[LM/nr]

Please follow and like us:

Tentang Penulis