Mewujudkan Fitrah dengan Islam Kaffah

Oleh Nining Sarimanah

 

 

LenSa MediaNews__Kajian rutin bulanan yang diselenggarakan oleh Majelis Taklim Nurul Qur’an, kembali digelar pada 31 Maret 2024 di Masjid Al-Islam, Cijerah, Kota Bandung. Adapun, tema yang diangkat kali ini adalah Mewujudkan Fitrah dengan Islam Kaffah. Para peserta memasuki masjid satu per satu dan duduk dengan rapi, siap menyimak uraian tausiyah dari kedua pemateri.

 

Tepat pukul 09.00 WIB, Teh Citra, sebagai moderator memandu acara dan dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, surah Ar-Rum ayat 30 oleh Ibu Pinarti. Selang beberapa menit kemudian, tibalah pada acara inti yaitu pemaparan materi oleh Ustazah Ibu Finita dan Teh Nining Sarimanah.

 

Teh Nining menyampaikan bahwa Ramadan sebentar lagi meninggalkan kita, tentu ada perasaan sedih yang menyelimuti hati orang-orang beriman karena belum tentu umur kita sampai pada Ramadan tahun depan. Karenanya, di sepuluh hari terakhir ini, marilah kita makin meningkatkan ibadah dan amal salih lainnya serta berdoa kepada Allah, semoga semua ibadah yang dilakukan diterima di sisi-Nya.

 

Di sisi lain, bahagia akan kita rasakan tatkala Hari Raya Idulfitri sudah di depan mata. Idulfitri sering kali dimaknai dengan kembali pada fitrah/suci atau hari kemenangan. Untuk menyambut hari itu, umat Islam mempersiapkan berbagai hal mulai dari baju baru, kue, bersih-bersih rumah hingga mengecat rumah. Penyambutan tersebut tak salah memang dan hal yang wajar karena dalam Islam, hari raya harus disambut dengan suka cita. Namun, yang jadi pertanyaan adalah apakah kita layak menyandang gelar fitrah/ suci setelah sebulan penuh melaksanakan puasa?

 

Kata fitrah ada dalam Al-Qur’an, salah satunya surah Ar-Rum ayat 30. Menurut kamus bahasa Arab, fitrah berasal dari akar kata fathara-fathran, berarti membelah, merobek, tumbuh, dan berbuka. Juga dapat diartikan sebagai perangai, tabiat, kejadian, asli, agama, dan ciptaan. Adapun, dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), fitrah dikaitkan dengan kata sifat, asli, bakat, dan pembawaan perasaan keagamaan.

 

Berdasar makna di atas, pembawaan manusia yang asli, sejak diciptakan Allah SWT adalah naluri beragama. Adanya naluri ini, manusia merasakan dirinya serba lemah, kurang, dan tidak berdaya, sehingga ia membutuhkan Zat yang Maha Agung, yang berhak disembah dan dimintai pertolongan. Karena itu, manusia membutuhkan agama yang akan menuntun dirinya melakukan penyembahan terhadap Tuhan yang benar. Itulah Islam, agama satu-satunya dari Allah. Ini diperkuat dengan hadis yang diriwayatkan Bukhari, Muslim, Tirmizi, Ahmad, dan Malik, yang artinya “Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ibu bapaknyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nasraji, atau Majusi.” At-Thabari dan Ibn al-Mundzir menjelaskan dengan mengutip pendapat Mujahid bahwa fitrah yang dimaksud adalah agama (din) Islam.

 

Dengan demikian, manifestasi (perwujudan) fitrah akan tampak pada sejauh mana hablum minallah terjaga dengan baik, dan terikat hukum syarak baik pada hablum binafsi juga hablum minannas. Sayangnya, dalam sistem sekuler perwujudan fitrah pada diri seorang muslim tidak bisa secara menyeluruh (kaffah), karena sistem sekuler hanya mengakui agama sebatas wilayah ibadah mahdah, sementara kehidupan dunia diatur oleh manusia.

 

Oleh karena itu, mempertahankan kuantitas dan kualitas ibadah pasca-Ramadan dalam sistem ini perlu perjuangan sungguh-sungguh. Maka ada langkah-langkah yang bisa dilakukan agar tetap istikamah yaitu,

pertama, berdoa kepada Allah SWT agar diberikan keistikamahan pasca-Ramadan.
Kedua, muhasabah diri terhadap proses perjalanan ibadah di bulan Ramadan.
Ketiga, mujahadah yaitu bersungguh-sungguh dalam berjuang untuk mempertahankan ibadah dan kebiasaan positif di bulan lain seperti puasa sunnah, qiyamul lail, sedekah, membaca Al-Qur’an, shalat sunnah, dan lainnya.
Keempat, muraqabah yaitu mendekatkan diri kepada Allah. Dengan ini, akan muncul kesadaran diri selalu diawasi oleh Allah Swt. sekaligus memunculkan kewaspadaan untuk tidak melanggar perintah Allah dan bersemangat untuk menjalankan segala perintah-Nya.
Kelima, berteman dengan orang-orang baik, dan ikut komunitas/kelompok kajian tempat orang-orang yang sama-sama ingin menjadi salih dengan ketaatan kepada Allah, misalnya ikut kajian intensif.

 

Selain itu, penting kiranya kita berkaca pada masa sahabat Rasulullah agar kita memiliki gambaran yang utuh serta termotivasi untuk lebih meningkatkan kualitas maupun kuantitas pasca-Ramadan. Karenanya, Ustazah Ibu Finita menjelaskan apa saja yang dilakukan para sahabat di antaranya,

Pertama, mereka merasa sedih karena khawatir bahwa amalan-amalan yang telah mereka kerjakan di bulan Ramadan itu tidak diterima oleh Allah SWT.
Kedua, para sahabat berdoa kepada Allah selama enam bulan agar mereka dapat menjumpai bulan Ramadan.
Ketiga, mereka berdoa selama enam bulan setelahnya agar amalan-amalan yang telah mereka kerjakan itu, diterima oleh Allah.
Keempat, para sahabat senantiasa berkonsentrasi di dalam menyempurnakan dan menekuni amalan-amalan yang mereka kerjakan.

Menjaga kefitrahan seorang muslim saat ini sangat sulit karena ada beberapa penyebabnya yaitu ketakwaan kolektif dalam ibadah hilang, individualisme masyarakat menyebabkan budaya amar makruf nahi mungkar pudar, akibatnya kemungkaran marak, dan negara tidak berperan menjaga nilai-nilai Islam, karena sistem sekuler menjadikan agama hanya sebatas urusan pribadi.

 

Ustazah Finita menegaskan bahwa untuk mengatasi persoalan ini, perlu adanya solusi sistemis dengan menerapkan Islam secara kaffah. Karena kefitrahan manusia akan terjaga jika sistem yang diterapkan berasal dari Sang Pencipta manusia, Allah Swt., dan berjuang menegakkan kembali syariat Islam dalam institusi negara sehingga hanya hukum Allah saja yang berhak mengatur kehidupan manusia, yang pada akhirnya kefitrahan terwujud.

Wallahu a’lam bishshawab

Please follow and like us:

Tentang Penulis