Balapan Liar Membuat Resah

Oleh: Prita Widya Putri, S.Pd.
(Guru SD di Kota Bandung)
Lensa Media News, Opini – Polisi telah membubarkan kegiatan balap liar yang terjadi di Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung. Para pelaku balap liar menjadi panik dan bergegas melarikan diri saat petugas datang. Kegiatan balap liar tersebut terjadi pada dua waktu yang berbeda, yaitu menjelang buka puasa pada Jumat (15/3) dan dini hari menjelang sahur pada Sabtu (16/3/2024). (detik.com).
Apabila kita telaah, terdapat beberapa faktor yang dapat mendorong pemuda terlibat dalam balapan liar. Pertama, ketertarikan pada sensasi dan kesenangan. Pemuda dapat tergoda oleh sensasi dan kesenangan yang timbul dari adrenalin saat terlibat dalam balapan liar.
Kedua, tekanan dari lingkungan sosial. Ada tekanan dari teman sebaya atau lingkungan sosial untuk terlibat dalam balapan liar sebagai cara untuk menunjukkan keberanian atau kekuatan.

 

Ketiga, kurangnya pemahaman akan risiko. Sebagian pemuda mungkin tidak sepenuhnya menyadari konsekuensi serius dan bahaya yang terkait dengan balapan liar.

Keempat, pertentangan dengan otoritas. Bagi sebagian pemuda, terlibat dalam aktivitas ilegal seperti balapan liar bisa dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap otoritas atau aturan yang ada.
Kelima, kurangnya pengetahuan tentang alternatif positif. Jika pemuda tidak mengetahui atau tidak memiliki akses terhadap alternatif positif seperti olahraga resmi atau hobi lainnya, mereka mungkin cenderung beralih ke aktivitas yang lebih berisiko seperti balapan liar.
Menurut pandangan Syekh Wahbah Zuhaili dalam Al-Fiqhu Al-Islami wa Adillatuhu, Islam melarang mengemudikan kendaraan di jalan umum jika dapat menyebabkan kerusakan bagi orang lain. Larangan juga berlaku bagi seorang muslim yang mengendarai kendaraan dengan kecepatan tinggi atau berlawanan arah karena dapat menimbulkan mudharat bagi orang lain. Prinsip ini juga ditegaskan dalam hadis Nabi yang menyatakan bahwa tidak boleh melakukan sesuatu yang membahayakan diri sendiri atau orang lain.
Oleh karena itu, kegiatan balap liar dianggap sebagai tindakan yang melanggar hukum dan tidak diperbolehkan. Hal ini karena balap liar dapat membahayakan diri sendiri, orang lain, dan merusak harta benda. Selain itu, kegiatan tersebut juga dapat menimbulkan kerugian dan gangguan bagi masyarakat. Dalam pandangan Islam, balap liar termasuk dalam perbuatan yang haram dan seharusnya dihindari.
Di sisi lain, Islam memberikan panduan yang jelas tentang bagaimana pemuda seharusnya mengatur potensi mereka. Dalam Islam, pemuda dianjurkan untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan kebijaksanaan untuk menjadi individu yang produktif dan berkontribusi positif dalam masyarakat. Selain itu, Islam juga mendorong pemuda untuk berperilaku baik, menjaga kesehatan fisik dan mental, serta berkontribusi dalam membangun lingkungan yang lebih baik.
Dalam Islam, adrenalin pemuda dapat diarahkan dan diatur dengan sempurna. Pemuda dapat mengalirkan energi dan semangatnya melalui berbagai aktivitas yang bermanfaat, seperti olahraga yang halal, kegiatan sosial, belajar agama, atau berpartisipasi dalam kegiatan yang mempererat ukhuwah sesama muslim. Selain itu, pemuda juga dapat mengembangkan kreativitasnya dalam bidang yang mendukung nilai-nilai Islam, seperti seni, literatur, atau teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Lalu aktif berdakwah dengan hikmah, menjadi teladan yang baik di masyarakat, dan berkumpul dengan orang saleh, serta dekat dengan para ulama. Dengan mengikuti nasihat-nasihat tersebut, pemuda dapat memberikan pengaruh yang positif bagi umat dan masyarakat sekitar.
Masa muda adalah saat yang dikaitkan dengan semangat, optimisme, percaya diri, energi, impian, dan cita-cita. Pemuda telah memegang peran penting dalam Islam sepanjang zaman, seperti halnya Usamah bin Zaid yang menjadi panglima perang pada usia 18 tahun.
Pemuda juga diibaratkan sebagai generator yang menggerakkan kehidupan dengan jiwa penggeraknya. Mereka membawa cahaya Islam dan memperjuangkan dakwah dengan kepedulian dan kelembutan.
Sebagai nahkoda, pemuda Islam mengarahkan dakwah menuju tujuan yang hakiki. Mereka juga kuat dan tegar dalam mengemban risalah dakwah, tidak mudah terpengaruh oleh rintangan. Pemuda muslim juga cerdas dan teliti, memanfaatkan setiap kesempatan untuk menyebarkan nilai-nilai dakwah. Dengan kesabaran dan keyakinan, mereka yakin akan mencapai keberhasilan dalam dakwah.
Namun, tentunya keberhasilan perjuangan pemuda tidak lepas dari sistem yang menopang masyarakat hari ini. Selama penerapan sistem kapitalisme masih diterapkan maka mengatur posisi dan potensi pemuda belum bisa sepenuhnya dilakukan dengan sempurna. Karenanya, dibutuhkan suatu support system yang kondusif untuk membentuknya. Tidak lain tidak bukan ialah sistem Islam yang mampu membangunnya. Wallahu a’lam bishshawab. [LM/Ah]
Please follow and like us:

Tentang Penulis