Demam Berdarah Mewabah, Butuh Solusi Sistematis

Oleh : Yuke Octavianty

(Forum Literasi Muslimah Bogor)

 

Lensa Media News – Kasus DBD tengah menjadi sorotan. Pasalnya hampir di setiap daerah, kasus DBD terbilang tinggi dengan tingkat penularan yang makin memprihatinkan.

 

Kasus Berulang

Dalam satu bulan terakhir, kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Jakarta meningkat signifikan. Disebutkan terdapat 1.729 kasus sampai 18 Maret 2024 (kompas.com, 23/3/2024). Demikian disampaikan Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati.

Meskipun kasus tergolong tinggi, Ani menyebutkan kasus DBD di Jakarta masih bisa dikendalikan. Namun tetap harus waspada, karena diprediksikan akan terus meningkat hingga Mei 2024. Ani pun mengimbau agar masyarakat melakukan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) secara mandiri dengan melakukan 3M (Menguras, Menutup dan Mendaur Ulang). Tidak hanya itu, program fogging dan pemantauan jentik juga terus digalakkan di setiap fasilitas umum.

Warga juga disarankan untuk melakukan vaksinasi DBD untuk mengurangi resiko meningkatnya bahaya DBD. Vaksinasi tersebut diberikan dua kali dalam jangka waktu tiga bulan antar dosis. Dengan biaya berkisar Rp 700.000 per dosis.

Berulangnya kasus DBD dari tahun ke tahun di kebanyakan wilayah, memperlihatkan ketidakseriusan pemerintah dalam menangani penyakit menular berbahaya semacam DBD. Kematian yang ditimbulkan tergolong kerugian besar. Solusi masalah penyakit semacam ini tidak mampu diserahkan kepada masyarakat saja. Perlu adanya kerjasama sinergis antara pemerintah dan masyarakat dalam mengendalikan DBD secara sistematis dan terstruktur.

Negara semestinya mampu belajar dari berulangnya kasus DBD tahunan. Sehingga mampu merumuskan usaha preventif dan kuratif yang akurat demi mengurangi jumlah korban terinfeksi dan meninggal akibat DBD. Pemberantasan sarang nyamuk, sanitasi lingkungan, studi epidemiologi, fogging dan penanganan penderita DBD.

Hanya saja, konsep kapitalisme yang kini diterapkan dalam tata kelola pengaturan negara menjadi sandungan terberat dalam masalah penanganan penyakit menular dan berbahaya. Sistem rusak ini menciptakan kondisi kemiskinan masyarakat yang terstruktur. Kemiskinan menjadi salah satu faktor terberat penanggulangan masalah kesehatan. Salah satunya, masyarakat sulit memiliki tempat tinggal layak yang nyaman dan bersih. Tidak hanya itu, kemiskinan juga menjadikan masyarakat lemah dalam pemenuhan gizi makanan harian. Sehingga imunitas tubuh pun sangat minim. Selain itu, tata kelola perkotaan sangatlah semrawut dalam pengaturan kapitalisme. Lingkungan kumuh yang tidak dikelola oleh negara menjadikan penyebaran penyakit semakin mudah dan meluas. Hal ini pun semakin diperparah dengan kepadatan penduduk yang kian meningkat dan tidak diimbangi dengan kualitas tempat tinggal layak.

Semua ini akibat kapitalisme yang dibiarkan terus mengancam pengaturan hidup masyarakat. Para pemilik modal dibiarkan menguasai lahan-lahan dan sumberdaya strategis demi meraup keuntungan materi sebanyak-banyaknya. Sementara rakyat dibiarkan mengais setiap kebutuhan hidupnya. Tanpa ada pengurusan dan campur tangan negara. Meskipun ada program pemerintah terkait hal tersebut, namun tidak menyentuh akar persoalan. Alhasil, rakyat makin tertekan dengan ketidaklayakan hidup yang makin mencekam.

Kesehatan dalam paradigma kapitalisme adalah obyek dagangan yang dijual ke rakyat. Kesehatan rakyat diabaikan, negara pun menetapkan kebijakan untung rugi dalam pelayanannnya. Inilah konsep rusak ala kapitalisme.

 

Sistem Islam, Sistem Penjaga

Berbeda secara diametral dengan sistem Islam. Sistem Islam menjadikan rakyat sebagai prioritas utama dalam pelayanan, salah satunya pelayanan kesehatan. Aturan terbaik diterapkan dalam sistem Islam, semuanya ditujukan untuk menjaga keselamatan nyawa dan keamanan rakyat. Bukan konsep untung rugi yang diterapkan, namun konsep penjagaan yang utuh dan menyeluruh.

Rasulullah SAW. bersabda,

Imam adalah ra’in (pengurus) dan ia bertanggung jawab atas urusan rakyatnya” (HR. Al Bukhori).

Menyoal masalah kesehatan, Islam menetapkan kebijakan adil untuk seluruh umat demi mencapai kesehatan global yang tangguh. Khilafah akan menjamin seluruh kebutuhan rakyat di bidang kesehatan secara gratis dengan layanan prima yang berkualitas. Sistem Islam pun menetapkan usaha pencegahan dan pengobatan yang efektif, sistemik dan menyeluruh untuk semua lapisan masyarakat setiap waktu, tanpa perlu menunggu status darurat.

Edukasi tentang sanitasi lingkungan pun terus dilakukan berkesinambungan dengan dukungan penuh dari negara. Sehingga akan terbentuk pemahaman sempurna dalam pemikiran masyarakat.

Dalam hal penelitian dan riset, negara akan terus melakukan riset terkait pengembangan epidemiologi penyakit menular berbahaya, sehingga mampu ditetapkan solusi tepat untuk mengurangi resiko bahaya terbesar.

Dengan konsep tersebut, kesehatan masyarakat mampu terjaga sempurna. Negara pun kuat bergelimang rahmat.

Wallahu a’lam bisshowwab.

 

[LM/nr]

Please follow and like us:

Tentang Penulis