Vibes Ramadan Hilang, Apa Iya?

Oleh: Lulu Nugroho

 

 

LenSa MediaNews__Ramadan sudah berjalan hampir satu pekan, tapi beberapa netizen mengeluhkan hilangnya vibes Ramadan. Bener apa nggak sih? Jika kita lihat beberapa fakta di sekitar kita, iya juga sih. Perlahan tapi pasti, vibes itu memang memudar. Sebelum bahas ini lebih jauh, kita samakan persepsi dulu, apa sih yang dimaksud dengan vibes?

 

Vibes dari bahasa Inggris. Jika diterjemahkan, artinya atmosfer. Jadi saat orang bicara tentang vibes Ramadan, artinya adalah atmosfer Ramadan, atau suasana Ramadan. Nah, sekarang kita bisa telusuri, suasana Ramadan sekarang, beneran beda apa nggak dengan tahun-tahun sebelumnya.

 

Pertama, yang biasa kita jumpai di bulan Ramadan adalah masih ada beberapa orang yang makan atau minum di tempat umum. Penampakan kaki-kaki di warteg, akhirnya jadi pemandangan biasa. Kita nggak risih lagi. Kita sudah sama-sama tahu, bahwa ada yang sedang makan dan minum di sana.

 

Padahal mestinya semua sepakat, bahwa Ramadan adalah bulan puasa. Artinya, kita berhenti makan dan minum saat pagi dan siang hari. Maka konsekuensi logisnya adalah, semua warung nasi tutup. Dan baru boleh beraktivitas lagi, ketika buka puasa hingga sahur, untuk menyediakan makanan bagi para konsumen. Tapi ada kekhususan  bagi yang uzur syar’i, misalnya: sakit, safar, atau ibu hamil dan menyusui, maka mereka boleh berbuka di kediaman masing-masing, tidak di kehidupan umum.

 

Selain itu, poin kedua adanya kebijakan Kementrian Agama beberapa waktu lalu,  yang melarang toa masjid ke luar. Hal ini  menjadikan suasana hening, tanpa bacaan Al-Qur’an. Terasa kan sob, kita nggak dengar suara tadarus dari masjid. Tapi bukan berarti aktivitas mengaji tersebut, berhenti beneran.  Sebab beberapa kaum muslim tetap mengkhatamkan Al-Qur’an dan  menghidupkan rumah-rumah Allah.  Karenanya sedikit masih terdengar sayup-sayup, lantunan ayat suci, dari surau-surau kecil.

 

Kementerian Agama (Kemenag) mengeluarkan surat edaran (SE) yang mengatur penggunaan pengeras suara di masjid. Kemenag mengimbau agar masjid menggunakan speaker dalam ketika tarawih selama Ramadan. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menilai penggunaan pengeras suara itu bisa disesuaikan dengan kondisi di sekitar masjid. Sebab, ini untuk menjaga toleransi di lingkungan yang majemuk. (Detiknews.com, 13-3-2024)

 

Aturan soal penggunaan pengeras suara atau speaker di masjid dan musala saat Ramadan yang dibuat oleh Kementerian Agama, juga tengah hangat diperbincangkan di media sosial, sob. Netizen pro dan kontra. Alhasil sekarang bisa kita rasakan bahwa suasana Ramadan hanya ada di masing-masing rumah keluarga muslim.

 

Tapi anehnya, pemandangan ngabuburit dan berburu takjil, masih menjadi agenda rutin Ramadan. Bahkan teman-teman nonmuslim pun tertarik jajanan khas bulan puasa. Mereka menunggu saat istimewa ini, untuk menikmati kudapan spesial ala Ramadan.

 

 

Islam Membentuk Suasana Keimanan

Akhirnya kita tahu ya sob, bahwasanya suasana keimanan itu enggak datang sendiri. Tetapi memang harus diupayakan dan diciptakan oleh kita semua, baik individu, keluarga, masyarakat, maupun negara. Keempat pelaku tadi, harus bersinergi sob, untuk membentuk masyarakat Islam, yaitu masyarakat yang memiliki pemikiran dan perasaan Islam, serta terdapatnya penerapan aturan di tengah kehidupan, adalah aturan Islam.

 

Saat hal tersebut terealisasi, dengan sendiri muncul atmosfer taat. Setiap manusia akan  berusaha berprestasi di hadapan Allah SWT. Mereka berlomba dalam kebaikan, saling tolong menolong (ta’awun), menasehati dalam ketakwaan dan mencegah dari kemungkaran. Bahkan mereka pun malu bermaksiat kepada Allah SWT. Maka nggak heran kan sob, Allah menyapa kita dengan sebutan khairu ummah, atau umat terbaik. Sebab kaum muslim senantiasa mendedikasikan hidupnya, dan  mempersembahkan aktivitas terbaik mereka, hanya untuk Allah saja.

 

Ketika saat ini kaum muslim semakin jauh dari Al-Qur’an, maka akan jauh pula dari ketaatan. Akibatnya muncul beragam aktivitas yang tidak sesuai dengan tuntunan. Endingnya mudah ditebak sob, muncul  problematika umat. Masyarakat disibukkan menyelesaikan berbagai masalah kehidupan,  dengan menggunakan solusi dari nalar manusia yang serba terbatas. Tidak lagi menggunakan solusi Islam. Inilah yang terjadi, ketika asas atau pondasi kehidupan umat adalah  pemisahan agama dari kehidupan (fashludin a’nil hayah), atau yang  biasa disebut dengan sekularisme.

 

Rasulullah saw. bersabda, “Tali ikatan Islam akan putus seutas demi seutas. Setiap kali terputus, manusia bergantung pada tali berikutnya. Yang paling awal terputus adalah hukumnya, dan yang terakhir adalah sholat.” (HR Ahmad)

 

Kondisi ini berbahaya bagi kaum muslim, sob. Sebab kita menjadi sulit membentuk pribadi muslim yang hakiki. Tanpa agama, manusia dipastikan akan hilang arah. Tidak lagi mengejar rida Ilahi, tetapi beralih pada kepuasan materi dan jasadiyah. Maka perlu mengembalikan Islam di tengah kehidupan.

 

Jadi, sebutan kaum muslim sebagai khairu ummah, bukan tanpa sebab, ya sob. Memang hal tersebut diupayakan oleh kaum muslim. Clear ya sob, kita perlu mempelajari Islam kaffah, kemudian mendakwahkannya di tengah masyarakat agar mereka paham. Sebab tanpa adanya masyarakat Islam dan perlindungan negara, akan sulit menjaga keimanan kita masing-masing sob.

 

Jadi kita bisa menciptakan vibes Ramadan yang indah seperti dulu lagi, bahkan jauh sebagaimana dahulu di masa Rasulullah dan para sahabat, ketika mereka berada dalam kehidupan Islam.

 

Kita harus terlibat dalam aktivitas dakwah ya sob, agar terbentuk masyarakat Islam melalui penerapan Islam kaffah. Hingga pada akhirnya terwujud pula suasana keimanan (jawul iimani). Inilah salah satu hakikat takwa yang sedang kita perjuangkan di bulan Ramadan, yaitu kembali pada kehidupan Islam. Allahumma ahyanaa bil Islam.

Please follow and like us:

Tentang Penulis