Problematika Rakyat Semakin Melarat 

Oleh : Ummu Khielba

(Forum Literasi Muslimah Bogor) 

 

Lensa Media News – Potret problematika kehidupan yang terus berulang dengan keadaan yang kian tak menentu merupakan gambaran nyata saat ini, mulai dari fasilitas kesehatan gratis yang tidak mumpuni, praktek riba yang semakin menganga sampai pada kebutuhan pangan yang disetir para kapital.

“Kasus TB (tuberkulosis) yang meninggal dunia (di Baduy),” kata Ati kepada wartawan usai menghadiri focus group discussion di Kota Serang. Kompas.com, Kamis (15/9/2022).

Di Garut, Pak Undang (42 tahun) bernasib pilu usai rumahnya dirobohkan oleh rentenir. Hal itu terjadi usai warga Kampung Haur Seah, Cipicung, Banyuresmi, Garut itu tak bisa melunasi utang sang istri senilai Rp 1,3 juta. detik.com/jabar, Sabtu, 17 September 2022.

Guru Besar Ilmu Gizi Fakultas Ekologi Manusia IPB University Drajat Murtianto mengungkapkan bahwa 50% penduduk Indonesia mengalami kelaparan tersembunyi (hidden hunger). Hal itu disebabkan kekurangan zat gizi mikro berupa zat besi, yodium, asam folat, seng, vitamin A dan zat gizi mikro lainnya. m.mediaindonesia.com/humaniora, Jum’at, 18 September 2022.

Tak dipungkiri, kekayaan alam indah elok hijau merata, keindahan laut yang terbentang luas, persediaan bahan tambang yang melimpah tak ada habisnya walau dikeruk. Namun semua berakhir pilu akibat ulah tangan-tangan rakus dunia yang tak ingat akan akhirat yang abadi.

Cengkraman kapitalisme makin nyata kebusukannya, melahirkan dan menularkan budaya sekuleris, liberalis, pluralis, hedonis, atas nama humanis yang dibanggakan akan merubah tatanan kehidupan bangsa. Namun faktanya, kehidupan rakyat makin melarat dan kesenjangan makin menganga.

Semua yang terjadi dipayungi oleh kebijakan yang berpihak pada korporasi oligarki dimana standar hukum yang diambil dari otak kapitalis dan mirisnya diadopsi tanpa henti sehingga kasus kesenjangan sosial tinggi, krisis energi dan bahan pangan, krisis generasi terbaik sampai pada degradasi akidah dan kedangkalan sampai kemunduran berfikir.

Kembali pada fitrah manusia itu sendiri, Allah SWT menciptakan manusia, kehidupan dan alam semesta seisinya untuk dijadikan objek berfikir bukan diekploitasi demi keuntungan sesaat dan manfaat demi dunia fana. Allah Ta’ala melengkapinya dengan seperangkat pedoman pengatur kehidupan dan menjadikan islam sebagai peta jalan hidup manusia.

Sejatinya manusia jika mau berfikir tentang hakikatnya hidupnya pastilah akan ikhlas dan ridha diatur oleh Rabbul Izzati, penguasa alam semesta dan seisinya dan akhir kehidupan yang abadi. Allah berfirman dalam QS Ar Rum Ayat 41.

Artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. 

Jika saja penguasa muslim mau mendengar dan taat saja perintah Allah (sami’na wa atho’na) tuk berislam kaffah, pastinya problematika kehidupan saat akan terarah sehingga rakyat akan aman tenteram dan sejahtera. Seperti dalam QS An Nur ayat 51.

Artinya: “Hanya ucapan orang-orang mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan (perkara) di antara mereka, mereka berkata: Kami mendengar, dan kami taat. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Kembali kepada jalan yang disyariatkan dan menjadikan aturan Allah SWT sebagai tolak ukur perbuatan. Yakin semua realita yang hanya menghasilkan kerusakan, kebobrokan, kehancuran, kemelaratan, kenistaan, kebohongan, kebiadaban, kecurangan dan lainnya akan sirna dan rahmat karunia-Nya Allah akan tercurah melimpah, kesejahteraanpun akan tak terelakkan.

Wallahu A’lam Bishowab

 

[LM]

 

 

 

 

 

 

 

 

Please follow and like us: